Awal

11.1K 168 19
                                        

Siang itu cuaca tampak mendung, Serena membenarkan kacamatanya yang sedikit melorot kebawah. Ia mengeratkan pelukannya pada buku dan jurnal yang ia bawa di dekapannya, berusaha untuk membuat rasa dingin yang menyapa tubuhnya berkurang. Akhir-akhir ini hujan sering melanda kota, jadi Serena sebisa mungkin membawa jaket hangat yang sialnya sekarang tertinggal diruang guru.

Saat sampai diruang guru yang sangat luas dengan kubikel- kubikel tinggi sebagai pembatas, Serena segera meletakkan buku dan jurnalnya diatas meja, ia lalu segera memakai jaketnya.

Setelah jaketnya terpasang rapi Serena mulai sibuk untuk merapikan meja miliknya yang agak berantakan. Merapikannya agar terlihat lebih rapi dari sebelumnya.
Karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima sore jadi ruang guru yang biasanya ramai kini telah sepi.
Tidak hanya ruang guru saja yang telah sepi, tapi mungkin juga sekolah ini telah sepi sepenuhnya.

Sayangnya Serena harus menghadiri rapat di gedung kelas satu sebagai salah satu perwakilan guru kelas tiga. Teman-temannya begitu beruntung karena bisa pulang lebih dulu sementara dirinya dengan cerobohnya meninggalkan jaketnya di ruang guru, jadi ia harus berbalik lagi ke gedung kelas tiga.

Saat sibuk dengan mejanya Serana tersentak kaget ketika merasakan hembusan nafas yang menerpa pipinya yang tidak tertutupi oleh rambut.
Serena memberanikan dirinya menoleh kearah samping dan menemukan pipi seorang pemuda yang kini sedang menatapnya. Tubuh Serena menegang saat ia merasakan punggungnya menempel dengan dada pemuda itu.

"A-apa yang kau lakukan?" Tanya Serena dengan gugup.

Pemuda itu tidak menjawab ia justru membawa kedua tangannya untuk memeluk pinggang Serena. Lebih mendekap tubuh Serena dengan erat saat merasakan perempuan di pelukannya memberontak.

"Sshhh"

bisiknya, lalu dengan lancang ia menjilati telinga Serena hingga membuat sang empu menegang kaku dan meremang.

"Apa yang kau lakukan?! Saya ini gurumu Milano!" Seru Serena kesal.

Serena berusaha mendorong Milano, murid kurang ajarnya agar menjauh, tapi remaja itu sangat keras kepala. Milano justru dengan kurang ajarnya menangkup kedua dada Serena dan meremasnya dengan lembut. Serena menggelinjang menahan desahan yang akan keluar dari bibirnya.

"Diam dan nikmati. Aku tau kau menginginkanku juga Serena" Bisiknya.

"Ti-tidak" Serena menggeleng ribut.

Mendengar ucapan itu, Milanolantas berdecak. Perempuan ini sangat keras kepala. Ia akan membuat Serena Soraya pasrah kepadanya hari ini juga. Pikir Milan penuh tekad.

Mereka sudah terlibat ketertarikan ini begitu lama, jadi ini saat yang tepat untuk Milan mengakhirinya dan memulai semua dengan awal yang baru bersama perempuan didekapannya ini.

"Mulut ini bisa berbohong-"

Milano berkata dengan lugas ia menyentuh bibir Serena dengan jarinya .

"-Tapi tubuh ini tidak"

"Ayo Serena lepaskan semuanya, kau hanya perlu datang padaku" Rayu Milano.

Milano kemudian membalikkan tubuh Serena sehingga mereka berhadapan. Tatapan mata mereka bertemu dan Serena bergetar saat menatap mata tajam milik Milano yang menatapnya dengan gairah yang tinggi, membuat tubuh Serena terasa menggigil.

Serena rasanya tidak mampu untuk melawan lagi. Suara hujan yang sekarang sudah turun terdengar dengan jelas dari luar sana. Seharusnya suasana di ruangan ini terasa dingin tapi entah kenapa suasana menjadi terasa panas didalam sini.

Milano menangkup wajah cantik itu dengan dengan kedua tangan besarnya. Ibu jarinya lalu mengelus pipi berisi milik Serena dengan lembut sambil mempertahankan tatapan mereka. Pemuda itu seakan menghipnotis Serena untuk mematuhi semua perintahnya.

Forbidden Love Where stories live. Discover now