Lima tahun lalu
"Jangaaan!"
Tengah malam sunyi pecah oleh teriakan demi teriakan memenuhi rumah dua lantai itu. Sosok pria muda berambut sebahu tergopoh masuk ke sebuah kamar, mendobrak pintu dengan wajah panik. Dilihatnya seonggok tubuh gadis muda tengah berguling-guling tidak karuan di kasur yang sudah tercabut spreinya, bantalnya sudah terpental ke sudut kamar. Dengan sigap dipeluknya sosok itu dengan erat sembari menendang barang-barang di atas nakas yang berpotensi melukai.
"Sayang... sayang ini aku!"
Gadis itu masih berontak dengan mata terpejam. Pria di sisinya terus mencoba menampar-nampar pelan pipinya untuk menyadarkan.
"Bangun... bangun sayang... ini aku! Jangan takut... ini aku!"
"Pergi, pergiii!!" pekiknya lantang. "Jahanam kamu! Pergi bajingaaan! Jangan sentuh aku!"
Pria itu mempererat pelukannya sembari susah payah meraih laci nakas di sisi tempat tidur. Beberapa butir pil dikeluarkannya dari plastik sembari tangan kirinya masih menahan berontakan.
"Busuk kamu di neraka! Busuuuk!!!" pekik si gadis histeris dengan raungan tangis yang menyayat. Ia mulai menjambaki rambut hingga tak karuan. Dengan cepat, pria gondrong itu menjejalkan beberapa pil ke mulut gadisnya. Pekikan itu berangsur mereda, tinggal guguan tangis yang tersisa memenuhi ruangan.
"Kamu aman di sini. Nggak papa. Ada aku," ujarnya pelan, matanya berkaca-kaca. Gadisnya tersiksa hampir setiap malam. Rambut coklatnya yang biasa tergerai indah kini kusut masai. Wajah pria itu sendiri kini tak terawat, brewok tipis memenuhi wajah tampannya yang bersih.
Tangan kurus gadis itu memeluk balik, tangisnya yang belum mereda. Pria itu tak lepas memeluk, menciumi ubun-ubun dan membisikkan kalimat penenang. Satu jam kemudian gadis itu kembali tertidur. Diletakannya kepala dengan hati-hati di bantal lalu memakaikan selimut. Perlahan si pria melangkah keluar, menutup pintu dengan lembut. Tubuhnya bersandar di pintu dengan isakan pilunya yang semakin keras dan air mata membasahi janggutnya.
***
Jam menunjukkan pukul 7 malam tepat, adzan isya sudah sejak tadi berkumandang. Gadis itu ternyata sudah menghabiskan dua puluh menit mencari buku-buku di puluhan rak perpustakaan.
Asisten praktikkum baru saja mengacaukan mood-nya malam ini karena sumber laporan praktikum yang dikerjakannya seminggu lalu kekurangan sumber, dan hanya bisa didapat di perpustakaan kampus. Ia terpaksa pergi dengan hati dongkol, drama korea favoritnya yang sedang mencapai klimaks terpaksa harus terpotong.
"Kembalikan satu minggu lagi ya." Gadis itu mengangguk pada admin perpustakaan setelah membawa setumpuk buku ke meja pendaftaran, setengah jam sebelum perpustakaan tutup.
Langkahnya bergegas menuruni tangga untuk segera pulang. Sialnya, ia tak sengaja menginjak tali sepatunya yang kendor ketika mencapai tangga turun. Tanpa ampun, tubuhnya terjerembab dan berguling beberapa kali di tangga. Buku-bukunya berantakan, tubuh kurusnya mendarat di tikungan tangga lantai satu.
"Gawat!"
Ia merasakan tulang keringnya berdenyut nyeri, tertatih berdiri dan segera memunguti buku-bukunya. Mereka semua berantakan karena beberapa sudah mulai usang. Banyak sampul yang koyak dan terlepas. Berantakan sekali.
"Kamu nggak papa?" Sebuah suara menegurnya. Sepotong tangan kekar membantu memungut dan mengulurkan beberapa buku miliknya.
"Terimakasih..." pandangannya terpaku pada sosok di hadapannya, "Kak Bagas?"
Pria berstelan santai itu tersenyum manis.
"Butuh ke klinik? Sebelum tutup jam delapan nanti. Sepertinya kakimu nggak baik-baik saja deh." Bagas melirik jajakan kaki si gadis yang tidak lurus. Gadis itu menggeleng sopan, meski ingin mengiyakan, deadline laporan Senin jam delapan masih mengejarnya. Ia harus menyelesaikannya segera.
YOU ARE READING
SCARS AMONG US
Romance[Sudah Terbit di Ebiz Publisher - 2024] Romance - Young Adult 17+ Sarah sadar, ini bukan akibat kehampaan karena Bang Fatih jarang di sisinya, bukan juga karena hadirnya semaian rasa pada atlet taekwondo kampus berwajah manis bernama Bagas, dan buk...
