Judul Sang Penakluk Genre romance hurt adult 21+ Cerpen sang penakluk bisa di order di wa +62 895‑2600‑4971 (Harga 15k)
Bisa di baca di KARYAKARSA Aqiladyna.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
***
"Ini peringatan untukmu untuk jauhi Gilang. Kamu paham!" Bentak Owen hanya dibalas tatapan menggoda Lasti. Bedecak sengit Owen mengumpat berbalik pergi dari rumah kontrakan Lasti. Awas saja perempuan jalang itu tidak mendengarkan ancamannya, Owen tidak segan berbuat nekat tidak sekedar memperkosa lagi.
***
Owen tersenyum bahagia saat bertandang ke rumah adiknya melihat kemesraan adiknya dengan suaminya Gilang kembali terjalin. Lihatlah mereka berbincang mesra di depan pelataran rumah. Syukurlah rumah tangga adiknya Indah kembali harmonis sedia kala tanpa adanya wanita ketiga lagi. Rupanya ancaman Owen beberapa minggu lalu ada Lasti menakutkan wanita penggoda itu untuk menjauh dari Gilang. Lega rasanya. Kini hidup adiknya damai tanpa was was lagi namun tidak dengan Owen entah kenapa dengan hatinya sejak ia melancarkan aksi pemerkosaan pada Lasti bayangan tubuh sintal wanita itu memenuhi pikirannya—sungguh sangat menyebalkan.
Ini tidak benar, Owen masih waras ia tidak akan menjilat ludahnya sendiri untuk kembali ke rumah Lasti mengagahi tubuh murahan itu. Mati-matian Owen memendam hasrat liarnya. Menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan sore ini lepas dari toko Owen mampir ke rumah Indah bermain dengan keponakan semata wayangnya—Arif berusia 3 tahun.
"Bang minum dulu." Indah menyuguhkan segelas teh pada Owen yang duduk di lantai di ruang tengah menemani Arif bermain.
"Terimakasih Indah." Owen menyambut gelas dari Indah, menyesap rasa teh yang manis.
"Bang, terimakasih ya," ucap Indah duduk di depan Owen yang mengerutkan keningnya. Owen tersenyum kecut meletakan teh di sampingnya.
"Abang hanya ingin Indah bahagia," kata Owen di balas anggukan.
"Mas Gilang sudah berubah Bang. Dia katanya sudah tidak berhubungan dengan wanita pelacur itu. Indah lega, bahkan Mas Gilang sangat perhatian dengan Indah dan Arif."
"Syukurlah." Owen mengelus rambut Arif yang asik bermain mobil mobilan.
Menjelang malam Owen pamit pulang kembali ke rumah mini malisnya. Rumah yang terasa sepi karena hanya dirinya menghuni tanpa pendamping hidup. Seharusnya di usia hampir kepala 4 Owen sudah memiliki istri dan anak-anak yang lucu tapi takdir kebahagiaan belum berpihak padanya. Dulu ia pernah berencana menikah tapi calon istrinya malah meninggalkannya tepat di malam pertunangan. Owen patah hati hingga menutup hati sampai kepergian ibunya menuju pangkuan Tuhan menyambut dekapan ayahnya yang lebih dulu di panggil saat Owen kecil, tidak juga membuat Owen memiliki hasrat menikah.
Owen berbaring di atas ranjang menatap plafon rumah bercat putih. Bayangan tubuh Lasti melintasi pikirannya, merusak jiwanya.
Desahan, tubuh putih bersih yang indah, serta lubang kemaluan yang legit menghantui Owen. Susah payah ia menyingkirkan dengan bermain dengan beberapa wanita di club malam tapi tidak ada menandingi kenikmatan tubuh binal Lasti.
Owen rasanya sudah tidak tahan—hanya malam ini, sekali lagi ia meneguk manisnya tubuh Lasti, menyesap cairan manis di liang kemaluan wanita itu. Hanya sekali saja janji Owen. Bergegas ia meninggalkan kediamannya, memacu motornya menuju rumah Lasti.
Suasana sepi saat Owen menghentikan motor di halaman rumah Lasti, menengadah menatap langit malam yang tak berbintang mungkin sebentar lagi hujan akan turun.
Owen melangkah berdiri di pelataran rumah Lasti nampak sepi. Tidak ada tanda keberadaan wanita itu. Mangkinkah Lasti tidak ada di rumah. Memilih menyelinap di pintu belakang rumah seperti Owen lakukan dulu. Pendengaran Owen menangkap suara desahan saat melintas samping rumah, wajah Owen pias menoleh pada jendela kamar Lasti yang tirainya tidak tertutup di balik kaca Owen bisa melihat jelas pergumulan sepasang lawan jenis saling menyatu di atas ranjang. Seketika hati Owen meradang Lasti tubuhnya di biarkan di jamah seorang lelaki.
Jalang
Rendahan
Wanita bangsat
Mata Owen tidak bisa lepas dari tubuh Lasti bergetar menerima serangan liar dari lelaki itu.kening Owen mengerut ia kenal lelaki itu adalah Pak Agus si ketua Rt yang berusia 45 tahun. Astaga ternyata bukan hanya dengan Gilang menjalin kasih rupanya Lasti merayu Pak Agus juga yang sudah memiliki dua istri. Sungguh tidak terdua ada ya wanita semurah itu rela di masuki banyak pria.
Owen bertahan hingga permainan panas kedua manusia hina itu selesai. Melihat Pak Agus sudah pergi dari rumah Lasti sekejap Owen menyelinap masuk membuat Lasti yang di dalam kamar belum berpakaian terkesiap.
"Owen!"
Kedua tangan Owen mengepal berjalan menghampiri Lasti yang menuruni ranjang.
Plak! satu tamparan melayang di pipi mulus Lasti yang wajahnya terpental ke samping. Lasti hanya tersenyum, menyeka darah di sudut bibirnya.
"Apa lagi salahku Owen, kamu datang dan menamparku heh." Tanya Lasti tenang dan tidak terpancing.
"Kamu murahan!"
Kening Lasti terangkat tidak peduli pada ketelanjangan dirinya.
"Aku memang murah. Tapi aku sudah menjalani titahmu untuk mengakhiri hubungan dengan suami adikmu lalu di mana letak kesalahanku?"
Owen tak berkata lagi memilih menyergap tubuh Lesti, menyentuh wanita itu tanpa ampun dengan kemarahan serta kebencian.