Mari selalu terhubung satu sama lain, Hinata!

1.7K 136 87
                                        

Naskah ini ditulis sebelum Naskah Sunshine, FanFiction pertamaku untuk NaruHina. Dulu, belum percaya diri banget buat menulis latar Canon. Tetapi karena cuman menetap di draft saja, jadinya memilih aku publish di sini. Rasanya kurang lengkap kalau sebagai salah satu author NaruHina tetapi gak punya satupun cerita Canon, minimal punya satu. Hihi.

So, maaf kalau ada kalimat yang aneh/kurang sreg ya, waktu itu nulisnya masih menggebu-gebu banget dan berpatokan banget sama scene anime-nya, jadi aku nulisnya berusaha gak OOC.
Maklumin aja oke.

Aku suka banget nulis NaruHina after war tapi masih latar shipudden sebelum Naruto berumur 19 tahun.

Selamat membaca.

Btw, Happy Valentine Days!

.

.

.

SUHU terasa lebih hangat di barengi dengan angin yang berhembus, terasa seperti memeluk tubuh, suara-suara yang terdengar masuk ke telinga adalah debum jatuhnya dahan-dahan pohon yang kokoh.

Mugen Tsuyokomi telah di patahkan.

Para Shinobi perlahan membuka mata, mereka bisa bernapas dan menyadari tubuh mereka entah sudah berapa lama, terlilit seperti kepompong. Kebingungan membuat mereka menerka-nerka, apakah sudah berakhir? Apakah mereka harus siaga lagi untuk menghadapi sesuatu? Mereka bahkan tidak ingat bagaimana bisa terjebak dalam balutan sutra seperti mereka akan kehabisan napas.

Mereka mengalami mimpi dan itu seperti angan-angan yang terealisasikan, tetapi itu semua hanya tawaran ilusi. Tidak benar-benar nyata.

Naruto menyunggingkan senyumnya ketika melihat para Shinobi mulai terbangun, sebagian dari mereka terlihat linglung, sebagian lagi saling mencari rekan dengan teriakan kegembiraan.

Seharusnya momentum ini terjadi lebih cepat, setidaknya harus terjadi kemarin ketika kedua tangan Sasuke masih utuh untuk membentuk simpul yang layak dalam mematahkan kutukan Tsuyokomi.

Tetapi, Uchiha Sasuke, adalah orang yang membuat semua hal harus penuh keyakinan. Pemuda Uchiha itu selalu haus akan jawaban-jawaban yang pasti, meminta pertarungan sengit ketika tidak yakin apakah Naruto cukup tangguh darinya.

Dan pada akhirnya, dalam pertarungan itu mereka berdua sama-sama mendapatkan hukuman; kehilangan salah satu tangan, masing-masing imbang.

Tak ada yang kalah,

Ataupun menang.

Meski Sasuke bersikeras berkata kalau dirinya mengakui jika Naruto telah berhasil. Berhasil membuktikan segalanya yang abu-abu menurutnya, termasuk; kedamaian.

Sasuke kini mulai percaya, kalau temannya yang bodoh dan selalu membuat kesal membuktikan padanya arti sebuah pertemanan, saudara dan yang terpenting adalah ; ikatan.

"Akhirnya.. ini.. berakhir.." suara isakan kecil, membuat Naruto dan Sasuke menoleh. Gadis berambut seperti permen kapas di sebelah mereka, menutup wajahnya. Bersuka cita dengan isakan haru, langit cerah seperti menunjukkan transisi dari berakhirnya sebuah kegelapan panjang yang kerap mengintai mereka sepanjang waktu.

Kegelapan penuh amarah dan dendam, hal seperti itu sudah tak lagi membelenggu mereka.

Naruto terkekeh meski itu membuat wajah membengkaknya yang babak belur terasa sakit. Sasuke hanya menyunggingkan senyumnya, sudah menjadi batas maksimal semua ekspresinya.

"Yosh! Kita berhasil-dattebayo!"

Mata pucat yang mengerjap lembut, ikut memerhatikan dari radius beberapa meter. Melihat senyuman lebar lelaki berambut pirang itu bersama tim-nya. Hinata ingat bagaimana perang membuat Naruto berkali-kali jatuh terpuruk atau bahkan hampir mati. Tetapi semua itu, tak membuat Naruto kehilangan senyum cerianya.

True loveStories to obsess over. Discover now