Rinai

28 0 0
                                        

Meskipun dunia ini memiliki 7 Keajaiban Dunia yang selalu dielu-elukan orang, garis-garis wajah tampan nan memesona milik para idola yang menari di atas panggung, atau hiasan milik langit yang tersebar pada bentangannya, tidak ada yang bisa mengalahkan senyum manisku dan keberadaan dua gigi taring yang tampak menonjol di gusi kanan dan kiriku. Itu kata Ibu sekitar 7 tahun yang lalu, saat keluarga kami masih rutin menggelar karpet besar di tengah taman kota yang penuh dengan rumput segar.

Kala kami menghabiskan awal bulan yang menyenangkan di sana, Ayah selalu pergi membawaku berkeliling untuk mencari makanan ringan. Kakak laki-lakiku juga selalu mengajakku pergi jalan-jalan dengan balon helium yang selalu kupinta, kemudian ia akan berpura-pura meninggalkanku dan diam mengawasi dari jauh sambil tertawa sampai Ayah memarahinya.

Tapi itu sungguhan hanya masa lalu, sebelum aku tahu bahwa dunia tidak hanya memiliki cerita bertabur canda dan tawa, namun juga duri yang tajam dan begitu menusuk, penuh jebakan dan bom kenyataan.

Aku tidak bisa lagi memamerkan gigi taringku yang tumbuh dengan begitu manis—sepertinya—pada orang-orang. Dengan tangan kaku yang bersatu di atas paha, aku duduk berlutut dikelilingi tepung terigu dan baju yang basah karena siraman air toilet. Sesaat, aku merasakan punggungku dikenai sesuatu yang berat. Sedikit tajam dan berbunyi kencang sewaktu menyentuh tanah bersemen. Gadis di depanku tertawa kembali, "Selamat ulang bulan! Hari ini tanggal 30, kan?"

Aku mencoba untuk tetap membuang nafasku secara pelan dan teratur. Hari ini bukan ulang tahunku, namun memang benar hari ini adalah tanggal ulang tahunku yang ada pada setiap bulan, kecuali bulan Februari. Aku hanya bisa diam menatap pahaku sendiri, dan gadis yang lain menimpali, "Kita benar-benar beruntung karena punya kau yang penurut seperti anak anjing."

"Bukannya dia memang anak anjing?"

"Bukan," ia menggeleng, ujung pita yang menghias kepangan rambutnya bergerak, "tapi anak Babi," lalu tertawa keras dengan wajah yang penuh kepuasan. Itu sudah pasti, dan aku tidak pernah berani melihatnya dengan sengaja karena tatapannya selalu membuatku amat terasa rendah.

Ghea benar-benar selalu ingin membuangku ke dasar jurang yang penuh jebakan-jebakan tajam miliknya.

Kini, kurasakan butiran-butiran pasir jatuh bersinggah di atas kepalaku. Aku menahan diri untuk tidak bergerak, mencegah benda kecil milik tanah itu turun lebih banyak, namun Ghea dan teman-temannya sama sekali tak berhenti menghias diriku. Dia malah terus melantur dengan omong-kosongnya, "Kau pasti tidak merasa sendirian lagi karena ada kami. Jangan bosan, ya?"

Secara perlahan rasa benciku semakin besar.

Setelah teman-temannya mulai merasa lelah pada ekspresi wajahku, mereka kemudian pergi setelah melemparkan selembar handuk yang kotor untuk kubawa pulang dan kukembalikan lagi padanya besok dalam keadaan bersih. Aku harus selalu mencucinya sampai bersih agar tak ada buku-bukuku yang dirobek-robek, atau dijadikan bubur kertas dengan aku yang dipaksa menatap kegiatan mereka berlima setiap hal itu terjadi.

Devana menuangkan segelas air yang warnanya tak lagi bening, mengucur perlahan-lahan, dalam sekejap membuat udara yang menyentuh kulitku terasa lebih dingin. Ia menjatuhkan sampah gelasnya tanpa berpindah tangan, lalu memantul di kepalaku, kemudian menggelinding setelah jatuh di rokku. Ia bersorak, "Sudah selesai! Besok-besok kau boleh istirahat, deh. Tapi kalau nanti aku mau bermain denganmu, tolong datang, ya?" katanya. Ia terdengar sedang menepuk-nepukkan kedua tangannya untuk menghempas debu yang menempel, "jangan lari."

"Jangan lari," Ghea mengulangi kalimat Devana dengan suaranya rendah, lalu mereka meninggalkanku begitu saja sambil mengomentari keadaanku. Orang-orang jahat itu akhirnya pergi, dan ini adalah bagian yang paling kusuka di mana aku bisa membayangkan pemilik pundak-pundak itu hidup sengsara di masa depan. Aku tidak pernah berharap kalau mereka semua akan bahagia nanti.

Tanganku kukepal kencang. Karena badanku sudah terlalu lama tak bergerak, aku mulai mengantuk. Percaya saja, aku sedang menahan diri agar tanganku tidak melempari mereka dengan batu-batu di sekitarku. Ini tidak adil, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya.

Akhirnya, aku mencoba bangun dengan sisa-sisa tenaga yang ada.

Saat kulangkahkan kakiku pada tas yang isinya berceceran sambil menunduk, aku melihat seseorang berdiri di sampingnya, bertelanjang kaki dengan celana putih kesukaannya yang hampir tidak pernah berganti desain. Aku menengadahkan kepalaku, orang itu tersenyum kepadaku dengan tangan kiri yang memegang pisau, dan tangan kanan yang bebas. Hanya jari-jarinya yang tampak karena lengan baju miliknya terlalu panjang.

"Kau bisa membunuh mereka kalau kau mau."

Ia menghampiriku dengan langkah kakinya yang kecil, butuh waktu agak lama sampai ia sampai di depanku. Tinggi badannya yang hampir setara dengan pintu rumahku itu perlahan menyesuaikan diri dengan tinggiku. Sorot matanya seakan menyuruhku untuk tetap fokus menatap matanya yang terlalu indah untuk dipandang.

"Mau cerita, Dena?"

Untuk kesekian kalinya, Rinai kembali memelukku pada sore hari itu, di ujung lapangan yang jauh dari keramaian—tempat di mana aku selalu berpikir untuk mati saja.Aku mencari kenyamanan dalam dekapannya, dan kudengar Rinai tertawa saat aku tidak sengaja memeluknya kencang.

"Kangen, ya?"

"Iya. Tapi tidak juga. Ah, aku bingung," aku mengatakannya secara spontan, sebab aku memang tidak tahu bagaimana perasaanku sekarang padanya. Aku tersenyum kecil, "Aku suka kalau kau tidak kemana-mana dan tetap bersamaku. Terima kasih, Rinai."

"Santai saja," ucap Rinai sambil masih memelukku. Tangan laki-laki kini mengusap kepalaku pelan, "aku ada di sini karenamu, jadi kenapa aku harus pergi mencari orang lain? Aku bukan orang jahat, kok. Kita pulang, ya?"

Saat itu, aku percaya bahwa Rinai tidak akan pernah meninggalkanku sampai kapanpun.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 06, 2023 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

RinaiStories to obsess over. Discover now