Prolog

91 2 0
                                        

Aku mengusap foto perempuan dari bingkai foto yang kupegang sedari tadi dengan lembut. Wajahnya yang tengah tersenyum begitu cerah bersamaku di dalam foto membuat dadaku kembali begitu nyeri dan sakit. Rasanya sakit, pedih dan begitu menyiksaku. Aku ingat, kala itu aku merangkulnya dengan perasaan yang begitu semangat dan jantung yang berdegup begitu kuat dan cepat, meski kenyataannya, rautku menunjukkan yang sebaliknya. Saat itu, aku begitu pengecut, aku terlalu mementingkan egoku. Aku ... terlalu banyak berpikir dan terlalu mementingkan egoku yang tidak seberapa dibandingkan dengan perasaanku kepadanya.

Mungkin, jika saat ini aku dapat memutar waktu, aku akan memeluknya sepanjang hari serta membelai surai coklat panjangnya yang lembut. Aku akan menjaga senyum cerahnya yang manis dan indah agar terus tetap ada. Merasakan bagaimana mendekap raganya yang nyata, kehadirannya yang benar-benar ada dan mampu membuat dadaku berdesir hangat. Mungkin, di terik mentari yang cerah dan di bawah pepohonan yang rindang, aku akan menggenggam tangannya dengan lembut, memberinya setangkai bunga lily kesukaannya—meski kutahu di tempat itu terdapat banyak hamparan beragam jenis bunga yang indah—lalu berkata, “Aku mencintaimu.”

Seandainya aku dapat memutar waktu, aku akan melalukannya. Aku akan menjaganya untuk terus berada di sisiku dan bersamaku. Aku akan melakukan segala hal yang kuingin lakukan bersamanya. Aku akan melakukan segala yang belum pernah kulakukan bersamanya. Dan aku akan bersikap lebih lembut dan hangat kepadanya. Tapi kutahu, semua itu hanya sebatas kata ‘seandainya’. Aku menarik napas yang begitu dalam dan panjang dengan sesak lalu mengembuskannya perlahan. Setiap oksigen yang kuhirup dan kuembuskan, rasanya begitu sesak dan membuatku tersiksa. Aku selalu bernapas dengan luka. Aku selalu kesulitan bernapas di dunia yang kupijaki ini tanpanya.

Lagi-lagi, air mataku berderai, membasahi pipiku. Aku menunduk, memejamkan mataku yang penuh luka seraya mencengkeram dadaku yang terasa begitu perih dan menyakitkan dengan sebelah tanganku yang bebas. Berdetik-detik kulewati, ku taruh kembali bingkai foto itu di atas nakasku. Mengubah posisiku di atas kasur dengan merebahkan diri di atas sana lalu beralih menghadap kanan, memeluk kedua lutut seraya sekali lagi memandangi fotonya yang ku taruh tepat menghadapku. Sekali lagi, berharap ia ada di sini bersamaku, tersenyum dengan begitu cerah, meski kutahu itu adalah hal yang mustahil. Aku memeluk lututku kian erat, lalu meringkuk dan memejamkan mataku.

Jika aku boleh memohon belas kasih kepada Tuhan, maka aku akan memohon dan bersimpuh pada-Nya. Aku akan memohon pada-Nya bahwa aku ingin ia kembali padaku. Aku ingin kembali pada masa-masa terindah sepanjang hidupku, yaitu masa-masa saat di mana aku bisa melihatnya, menghabiskan waktu bersamanya. Bahkan aku rela untuk menanggung segala rasa sakit perempuan itu. Aku rela Tuhan ..., aku rela mengorbankan jiwa dan ragaku untuknya. Untuk menebus segala dosa-dosaku padanya. Demi bisa melihatnya ..., sekali lagi.

***


Hollaaa!

Kali ini Ran bawa cerita baru (*cuih, perasaan cerita" yg sebelumnya blm Lo kelarin Thor? *POV Readers ☺️)

Ya ini lagi tahap, satu-satu, tapi kayaknya duluan ini. Soalnya ini aslinya proyek lama, udah nangkring di draft dan Microsoft word laptop sejak sekitar 2020, lama 'kan?

Bahkan klo di Word udh sampe 8000 kata, mungkin kalo di WP udh ada sekitar 6-8 Chapter kah?

Ya mumpung ide masih di kepala, gua kelarin dh, kalo bisa dn GK molor sekalian dg cerita" sebelumnya✌🏻.

Soalnya sekarang gua jg lagi sibuk sibuknya dan stres sama kuliah (lebih ke kehidupan juga si, krisis mental GK kelar kelar, ya doain aj ya, peluk jauh jg buat kalian semua yg lagi berusaha survive dari mental health problem kalian.

Purple you guysss. Janlup rameinn yaakkss dg bantu Ran buat share, comment dan (kalo suka) ya like cerita ini okey?

See you!

AGAM Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang