Awal Cerita

38 2 0
                                        

Jadi, pada akhirnya kita bertemu.
Aku dan kamu.

Kamu sebagai pembaca dan aku sebagai pemandu kegelisahan mu.

Emm..
Aku Jenitri nama panjangnya Jeniiiiiitri, nama lengkapnya Jenitri Merah Jambu atau singkat saja JMJ.

Euh..
Itu sedikit tidak nyaman.

Dan kamu?

...

Sebentar, ada tamu,

..

Laki-laki paruh baya yang saat ini sedang duduk di atas kursi plastik disebrang meja ruang tamu itu Ayahku.

Perawakannya tinggi besar dengan kulit sawo super matang. Rambutnya ikal dan hampir 65% di tumbuhi uban.

"Ini Pakde Supar, nduk" Kata Bapak sembari menepuk pundak lelaki paruh baya disebelahnya.

Laki-laki yang disebut Pakde Supar tersenyum ramah kepadaku, sangat kontras sekali dengan wajah garangnya dan tubuh yang di penuhi tato Naga.

"Nah, Ini Putri sulung Bapak,  Jenitri. Usianya baru 23 tahun, baru lulus kuliah di universitas Islam terbaik sak endonesia" Kata Bapak memperkenalkan aku dengan bangganya.

Kenyataannya, kampusku tak sebagus itu itu, bukan pula kampus islam terbaik se Indonesia.

Bapak hanya melebih-lebihkan saja.

Pakde Supar mengangguk-angguk setuju, wajahnya terlihat sumringah dan bangga.

Rata-rata orang Jawa begini ya?
Mengagung-agungkan kehebatan anaknya, meskipun sekecil biji sawi.

"Jadi gimana nduk?"

"HAH?" Aku tergagap persis seperti ikan yang kehabisan oksigen.

"Walah, di ajak ngobrol malah melamun.." Bapak tertawa melihat batapa konyolnya aku.

Apa iya aku melamun?

"Ngapunten, Bapak tadi tanya apa ya?" Ulang ku, duh.. Rasanya aku seperti bukan Sarjana pendidikan Islam saja.

Pakde Supar menggeleng-gelengkan kepala, belum sempat berbicara ibu datang membawa dia gelas kopi hitam.

Aromanya nikmat, harum dan bikin kepen saja.

"Cuma dua bu?" Tanyaku, kentara sekali wajahku cemberut dan kecewa tidak ikut di buatkan kopi.

"Hus, anak cewek pamali minum kopi" Ujar Ibu dengan kepercayaan kejawen nya.

"Pamali apa si Mbak, bilang wae biar ngirit kopi.. Ya too" Aku mengangguk setuju dengan argumentasi Pakde

"Hus.. " Ibu terkekeh sembari menepuk tanganku, tanda aku disuruh ikut kebelakang.

"Bantuin ibu di dapur" Bisik ibu formalitas.

Dengan wajah enggan, aku pun mengekor dibelakang.

"Anak itu dari kecil nggak berubah ya, masih aja suka kopi"

"Ajaranmu itu" Gelak Bapak.

Semakin cemberut lah wajahku.

...

"Pakde tumben datang kesini, ada apa Pak? Mau nagih hutang ya Pak?" Tanyaku ketika makan malam yang kelewat malam baru saja di mulai.

"Hus, kamu ini. Su'udzon" Bapak terlihat buru-buru menelan makanannya.

"Ya habisnya tumben. Pakde kan saudara jauh bahkan jauh banget kok ya bisa gitu bertamu di siang bolong sampai malam ompong"

"Kamu iki nduk.. Nduk.."

"Makannya kalau ada orang tua ngajak ngobrol tu didengarin bukan malah bengong" Timpal Gaharu, adek laki-laki tersayang ku yang sifatnya persis seperti dajjal.  Astaghfirullah.

"Gak ada yang ngajak ngomong anak kecil ya!" Dengusku, Haru menjulurkan lidahnya.

"Lulus SMA di bilang anak kecil? Apakabar anak Esempe di luar sana yang udah punya anak kecil" Sindir Haru.

Secara tidak langsung Gaharu sedang mengatai ku wanita tua yang belum nikah-nikah, awas saja kalau sampai tafsir ku benar.

"Sudah, sudah! Kalian ini kayak tikus dan kucing saja! Berantem mulu" Lerai Ibu, namun bukannya diam aku dan Haru justru semakin ribut dan hanyut dalam pertengkaran.

"Pakde mau melamar kamu nak" Kata  Bapak tenang.

Berbanding terbalik dengan responku yang hampir mati tersedak duri ikan nila.

"Innalillahi" Spontan ku.

...

Bersambung...

Rumah KesepianHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora