I

10 1 0
                                        

Gadis dengan setelan hoodie biru tua dengan calana jean hitam serta topi hijam itu sedang berlari di gang-gang kecil menghindari kejaran para preman yang sedang mengejarnya, belokan demi belokan ia telusuri hingga tiba di jalan yang tak begitu ramai, tiba- tiba sebuah motor berhenti didepannya.

"CEPAT NAIK!!" teriak pengemudi motor tersebut kepadanya.

Tanpa berpikir panjang gadis itu langsung naik ke motor tersebut dan melaju meninggalkan preman – preman yang mengejarnya tadi, wajah lega terlihat jelas di wajahnya.

"anda harus di hukum nona Gridatra" ujar pengemudi tersebut yang membuat seketika raut wajah gadis itu berubah.

Ya Gridatra lebih tepatnya Aini Nur Gridatra, itu namanya, sering dipanggil Aini , ia duduk di bangku kelas 11 dan berusia 16 tahun, tadi Aini barusaja di kejar – kejar preman gang karna ulahnya yang tak sengaja menendang kaleng yang mengenai salah satu kepala preman. Niatnya hanya jalan – jalan malam tapi berubah menjadi kejar – kejaran dengan preman.

"L malam ini ganteng deh" rayunya karna ia tau kalau sebentar lagi ia akan dalam masalah besar.

"ngak mempan" jawab pengemudi itu dingin

L lebih lengkapnya Leon Dramasta, seorang pria yang duduk di bangku kelas 11 yang berusia 17 tahun. Ia adalah sahabat Aini dari masa kecebong hingga sekarang. Sekarang ia sedang dalam suasana hati yang buruk, pasalnya saat ia kerumah gadis itu ia tak menemukan seorangpun di rumah itu, bahkan penjaga rumah pun tak mengetahui kalau gadis itu hilang. Leon terus mencari di penjuru kota Yogyakarta dengan perasaan cemas, pasalnya gadis itu selalu bilang ke sappam kalau ingin keluar, tapi malam ini ia tak bilang kesiapapun dan langsung pergi aja tanpa ijin.

"jadi?" tanya Leon dengan ekspresi datar saat mereka telah tiba di kediaman Gridatra.

"sorry gua cuma mau jalan-jalan aja di luar" jawab aini dengan suara kecil karna ketakutan. Jujur ia takut melihatnya,

"kenapa ngak ngomong dulu? Kenapa main kabur aja?" tanyanya lagi, dan kali ini aini tidak berani menjawab, entah kenapa di kepalaknya terlintas ide untuk kabur.

"maaf" ucap aini dengan suara kecil, tapi tak di jawab oleh Leon, ia mengaku salah karna telah keluar tanpa izin terlebih dahulu.

"kalau mau keluar itu bilang, jangan buat orang cemas, janga ulangi lagi, cukup sekali aja ini terjadi, paham?" ujarnya dengan nada yang lembut tapi sangat tajam.

"paham" jawabnya dengan perasaan senang karna tak jadi dihukum, senyumannya hampir mengembang sempurna sebelum....

"jangan senang dulu, lu akan tetap di hukum" ujarnya yang berhasil menghancurkan senyum aini. Setelah itu Handphone, dan kunci motor gadis itu di sita, 'ini sungguh sial' pikirnya.

"lu ngak berhak ngehukum gua, emang lu siapa gua?" bagaikan tersambar petir, perkataan barusan berhasil membuat Leon diam seketika.

"gua sahabatlu dari masih kecebong, owh atau lu mau gua aduin ke budan sama papah? Biar hukumanlu bisa lebih dari ini hah?"balas leon yang berhasil membuat gadis itu diam sesaat.

"heh jangan dong, ntar mereka khawatir"

"lu kira gua ngak khawatir apa lu tiba-tiba ilang gitu aja, gua sampe mikir lu kenapa-kenapa tau ngak!"

"santai aja kali, iya sorry"

"bodoamat" jawabnya dengan nada kesal.

Dalam beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka berdua, tak ada satupun dari mereka yang ingin mengeluarkan suara sedikitpun, sebenarnya mereka tak suka dengan suasana seperti ini sehingga ainilah yang mengeluarkan suara terlebih dahulu.

AINIStories to obsess over. Discover now