She's in the Rain

34 8 0
                                        

Inspired by The Rose song

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Inspired by The Rose song

===

Aku tidak tahu siapa dia. Akan tetapi, pertemuan pertama tadi tidak bisa kulupakan. Bagaimana tidak? Aku melihat gadis itu menangis di bawah guyuran hujan deras. Disaat orang-orang berlari ke halte atau sebuah restoran atau cafe untuk mereka berlindung, dirinya justru terus berjalan tanpa menoleh sekitar sedikit pun.

Mereka mungkin tidak menyadari gadis ini sedang sangat terluka, tapi aku bisa lihat. 'Kenapa kita harus bertubrukan tadi? Coba aja tadi itu tidak terjadi, gue kan jadi nggak perlu merasa bersalah karena telah lancang membaca pikirannya yang bagai benang kusut.' pikirku sambil mengusak kasar kepala.

"Kenapa Boy? Daritadi gue perhatiin lo ngelamun aja dan barusan lo malah keliatan kayak orang frustasi, terjadi sesuatu?" tanya Sam, teman baikku. Yah, hanya Sam yang tahu tentang keistimewaanku. Atau bisa ku sebut sebagai kutukan?

Aku mengaduk secangkir kopi latte di atas meja hadapanku lalu mengisapnya sedikit sebelum akhirnya menjawab dengan pertanyaan, "Sam, lo ingat gadis yang tadi tabrakan sama gue?"

"Yang kayak orang gila tadi? Gue lihat sih dia emang cantik, tapi masa selera lo sama cewek gila gitu sih?"

"Gila?"

"Iya, apa namanya kalo bukan cewek gila. Udah tahu ujan, masih aja keliaran di jalan tanpa payung. Apa bukan gila tuh namanya?"

Merasa kesal karena asal saja mengucap, aku pun langsung memukul pelan kepalanya dengan ujung sendok. Sam hanya bisa meringis mendapat perlakuan semacam itu.

"Kebiasaan lo ngga berubah." katanya sambil mengusap pelan kepalanya yang kena pukul. Aku bisa jamin pukulanku tadi itu sangat pelan, Sam saja yang suka berlebihan.

"Makanya jangan suka sembarangan ngomong! Nggak sopan," balasku lalu menyeruput kembali sisa kopi latte itu hingga habis.

"Lo lihat sesuatu?" tanya Sam dengan suara separuh berbisik.

Aku mengangguk.

"Sungguh? Apa yang lo lihat?"

"Dia … Gadis tadi … Punya banyak pikiran untuk mengakhiri hidupnya."

"Apa?!" pekik Sam yang berhasil membuat orang-orang melihat ke arah kami.

"Sssttt… Pelanin suara lo, Sam!"

"Sorry, abis gue kaget. Lo tau dia punya niatan kayak gitu dan cuma diam aja?"

Aku mengangguk lagi, sebelum akhirnya menjawab "lo tau alasannya, Sam."

*Setahun yang lalu*

"Kamu yakin dengan keputusan ini?" tanyaku memastikan.

"Maaf," jawabnya lalu berpaling pergi bersamaan dengan munculnya suara gemuruh dari langit yang sejak tadi memang sudah gelap.

Event Cerpen GPWStories to obsess over. Discover now