'Jika Tuhan memberimu banyak ujian, maka Tuhan tau kamu kuat. Yakinlah, akan ada kata indah pada waktunya, hanya saja kita harus sabar menunggu'
__________________
[Heppy Reading🌻]
*
*
*
"Lo becus nyuci baju gak sih? Kalau mau tinggal disini itu kerja, jangan cuma mau enak aja. Lo pikir, lo siapa? Ratu?! Mangkanya kalau gak becus beres-beres rumah, gak usah hamil diluar nikah. Cuma bisa nyusahin aja." Ketus Alvano Ajaskara, pria perawakan tinggi dengan wajahnya yang tampan. Bola mata berwarna abu-abu dengan hidung mancung yang menambah ketampanannya.
"Ada apa? Aku nyuci udah bersih kok." Sekara Lavanesa, gadis itu menatap Alvano bingung.
"Lo bilang udah bersih? Mata lo buta? Baju sekotor ini lo bilang bersih?!" Marah Alvano.
Sekara menatap tidak percaya. Perasaan tadi ia sudah menyuci sangat bersih kemeja suaminya, lalu kenapa bisa kotor?
Alvano melemparkan kemeja putihnya tepat mengenai wajah Sekara. "Gue gak mau tau, cuci lagi yang bersih. Kalau sampai ada noda sedikitpun, lo bakal terima hukumannya." Ujar Alvano lagi.
"Vano, aku capek. Dari tadi pagi aku sibuk beresin rumah. Kali ini tolong biarkan aku istirahat." Pinta Sekara memohon.
"Lo pikir gue peduli? Enggak! Mau lo menderita juga gue gak peduli. Jagan harap lo bisa tidur nyenyak kalau kemeja gue masih kotor." Ancam Alvano.
Sekara menatap nanar kepergian Alvano. Kemudian, wanita itu berjongkok untuk mengambil kemeja putih milik suaminya yang jatuh.
"Kerja lagi, kerja lagi. Ternyata nikah muda gak enak, aku gak suka!" Gumam Sekara kesal.
Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, dan Sekara baru selesai mengerjakan rumah. Sekara mendudukan bokongnya di ranjang, ia sangat merasa lelah.
"Kamu laper ya, sayang? Sekarang kita makan ya, sekalian mamah mau minum susu hamil." Ujar Sekara kepada calon anaknya.
Wanita cantik yang memakai piyama berwarna pink itu berjalan menuruni tangga. Senyumnya terus melengkung dari bibirnya.
Senyum Sekara memudar ketika melihat semua sayur dan lauk-pauk yang ada di meja habis tidak terisa.
"Vano, kamu makan semuanya?" Tanya Sekara.
"Iya. Kenapa?"
"Vano, kamu jahat banget sih! Aku laper, belum makan. Tapi kenapa kamu habisin semua lauk pauknya?" Kesal Sekara.
"Bodoamat. Mau lo udah makan, atau belum, gue gak peduli. Lagipula tinggal masak lagi, apa susahnya sih? Gak usah dibikin repot." Balas Alvano santai.
"Kamu enak banget ya, kalau ngomong. Bahan-bahan dapur udah habis Vano, sekarang aku mau makan apa?"
"Itu sih urusan lo. Mangkanya jangan boros. Nyesel gue nafkahin lo." Ucap Alvano nyelekit.
"Boros? Kamu bilang aku boros? Bahan-bahan dapur semuanya pada mahal, sementara kamu ngasih uang ke aku cuma dua ratus ribu hanya untuk satu minggu, aku aja kekurangan." Kesal Sekara. Suaranya parau, semenjak ia hamil perasaannya begitu sensitif.
"Ada garam kan? Yaudah makan aja pakai garam."
"Kamu jahat. Kamu gila. Kamu iblis. Bahkan kamu aja gak pantas buat disebuat sebagai manu--"
Rahang Alvano mengeras. Tangannya terkepal kuat. Alvano memukul meja makan sangat keras hingga menyebabkan bunyi bising.
"Jangan pancing emosi gue, bangsat! Masih untung gue mau nikahin lo. Seharusnya lo bersyukur, karna gue mau nikahin lo. Kalau lo gak suka nikah sama gue, seharusnya lo nolak buat dinikahin sama gue!" Emosi Alvano.
YOU ARE READING
Gott des Todes
RandomSingkat saja, ini kisah Sekara Lavanesa, gadis cerewet yang membenci kucing dan Alvano Anjaskara, ketua geng motor Bruiser yang mempunyai banyak luka dalam hidupnya. Sekara hamil anak Devan, adik dari Alvano, namun Alvano yang harus bertanggung jawa...
