Prolog

13 0 0
                                        

Hai? Apa kabar? Kalian masih ingat saya?

Ahahahhaha, udah berapa lama ya? Gatau tapi saya udah vakum lama banget. And now saya bawa cerita baru lagi, padahal yang lama belum selesai.

Selamat menikmati tulisan yang mungkin agak-agak....

"Nat, gue butuh satu alasan di hidup gue buat mastiin kalau gue masih pantas napas

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Nat, gue butuh satu alasan di hidup gue buat mastiin kalau gue masih pantas napas."

•Daksa

"Sa, apa aku cukup, buat jadi alasan?"

•Nata

"Aku nggak pernah sesuka ini sama seseorang, jadi Daksa boleh aku minta Nata? Aku bahkan nggak pernah bisa benci kamu."

•Ana

"Boleh, Sa? Apa boleh gue jadi bagian dari hal-hal baik yang buat lo bertahan sampai sekarang?"

•Andra

"Gue harap lo bisa jauh Sa, jauh dari jangkauan orang-orang yang bikin lo sakit."

•Aya


* * * *

Plak!

"Duduk! Mohon ampun sama gue, merintih dan bilang lo bakal ninggalin Nata!"

"Daksa ... eugh ..." erangan kecil keluar dari bibir tipis seorang gadis yang jauh dari kata baik.

"Ana! Bisa nggak lo jangan keras kepala!"

Gadis yang dipanggil Ana itu menggeleng lemah, "aku sampai matipun nggak akan lepasin Nata."

Daksa memandang datar Ana, entah sejak kapan ia sudah memegang balok kayu di tangan kirinya lalu menyodorkannya ke depan wajah Ana. Ia benci orang lemah, Ana dengan kepolosan dan kelembutannya membuat Daksa ingin menyiksanya berkali-kali.

"Kalau Nata yang mau, lo nggak bisa ngelak."

Bugh!

Bugh!

Bugh!

Bugh!

"AKHHHHHH!"

Ia berdecih lalu meludah asal, Ana benar-benar gadis menjijikan yang akan ia rusak kalau terus-terusan menjadi kekasih Nata. Daksa benci berbagi, ia tidak menyukai hal-hal yang berpotensi mengambil miliknya.

"Nata lo mana?" tanya Daksa dengan senyum sinis, tatapannya seolah mengejek Ana sampai ke ulu hati.

"N- natah ... bakal datengh ...," jawab Ana terbata-bata, tangannya yang sudah kebas karena diinjak Daksa mencoba bergerak ke wajahnya.

"Gue benci lo sampai mampus!"

Ana tersenyum samar, dibalik kesakitan dan juga perundungan yang selalu Daksa lakukan sekalipun Ana tidak pernah mencoba melaporkannya pada guru. Atau sekedar mengadu pada orang tuanya, ia tidak melakukan itu.

"Aku nggga bisa benci kamu."

Prang!

"Ambil," desis Daksa menatap tajam Ana.

"Sa ...?"

"Bajingan! Jangan panggil gue Sa! Lo ga cukup deket sampai harus manggil gue pake nama yang Nata kasih!"

"Aku minta maaf ...," lirih Ana, perlahan ia memegang dadanya merasakan sesak yang sangat. Ia menatap Daksa sayu, sebenarnya ia sudah tidak kuat.

"Babi! Ambil kayunya!"

"Buat apa?!" tanya Ana memberanikan diri, tangannya mengepal mencengangkan kerah bajunya sendiri.

"Pukul."

Ana menatap Daksa tidak percaya, tubuh ramping yang terlihat rapuh sebenarnya itu minta Ana pukul? Ana menggeleng keras, itur artinya ia tidak ada bedanya dengan orang-orang yang sering membullinya.

"Lo pukul atau lo ngga akan pernah ketemu Nata!" ucape Daksa datar.

"Pukul di bagian manapun yang lo suka! Gue ga bakal bales," lanjutnya.

Ana terlihat menimbang keputusannya, ini sulit ia tidak pernah sebelumnya memukul orang, yang membuatnya sedari takut karena balok yang Daksa serahkan ada paku kecilnya. Ana tau bukan bagian itu yang Daksa gunakan untuk memukulnya.

"Bangsat! Lama lo jalang!"

Bugh!

* * * *



Note: karya ini bakal banyak adegan 18+ yang sebenarnya gatau bisa guncang psikis orang atau ngga wkwk.

Saya lagi nyoba hal baru and anyway certa 18+ yang saya maksud bukan adegan ranjang and hal kotor berkaitan dengan kelamin lainnya.

See you, semoga mood saya baik-baik aja biar ga gantung.

Hallo Nata!Where stories live. Discover now