"Run.. If you can." Bisiknya lembut dengan seringai tipis yang muncul diwajahnya.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Bagaimana jika kamu ada dalam sebuah posisi dimana kamu sedang dijodohkan dengan seorang lelaki yang tidak kamu kenali sebelumnya karena...
Waktu menunjukkan pukul dua malam. Seorang insan disana masih saja diam terpaku. Diam membeku bak terbelenggu oleh sesuatu. Dan dirinya sendiri pun tidak tahu 'sesuatu' apa itu.
Langit dipenuhi oleh bintang yang bertaburan, dan bulan purnama bersinar cerah diatas sana. Semilir angin berhembus menerpa tubuh mereka berdua.
Kedua netra seorang lelaki terpaku kepada gadis di hadapannya, ia memperhatikan wajah cantik milik gadis yang sedang tak sadarkan diri dengan seringaian tipis di bibirnya.
Netra lelaki tersebut berganti menatap ke arah jendela ruangannya. Menatap gelapnya langit-langit malam, bintang-bintang bertaburan begitu banyak. Dan bulan yang malam ini begitu indah sinarnya, seperti disaat pertama kali dirinya merasakan perasaannya dan isi hatinya di hari itu.
Kala kedua manik mata miliknya kembali menatap bibir berwarna merah muda milik gadis itu. Lalu beralih memandangi tubuhnya. Pakaian putih tipis miliknya semakin membuat matanya tidak berpaling kemanapun. Lekukan tubuhnya terlalu menggoda.
Gadis yang diam-diam ia cintai ternyata berada dalam kelompok yang ia benci setelah kejadian tersebut. Tetapi aneh, bukankah seharusnya ia membenci gadis ini juga? mengapa rasanya berbeda? jantungnya terasa berdetak lebih cepat dari biasanya.
Mengapa.. Mengapa Keniel masih mencintainya?
"I love you.." Ia tidak tahan untuk tidak mengucapkan kalimat tersebut. Sorot matanya masih tidak berpaling dari gadis itu.
Ia memperlihatkan senyum hangatnya, Senyum yang tak Echi tahu bahwa senyum itu mengandung banyak arti.
Echi menggerakkan tubuhnya tak nyaman, matanya berkedip sebelum ia benar-benar membuka matanya untuk melihat ke arah sekeliling.
Hal pertama yang Echi lihat adalah wajah lelaki asing yang berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Sontak ia terkejut. Ia mendorong tubuh lelaki tersebut dengan kuat. Ia sedikit terhuyung kebelakang.
Lelaki itu tertawa kecil meremehkan. "Kau pikir dengan caramu mendorongku seperti itu akan membuatku berhenti mendekatimu, hm?" Ujarnya. Kemudian kembali mendekati tubuh Echi perlahan.
"Aku ada dimana?" Ujarnya sembari melihat sekelilingnya yang sama sekali tidak ia kenali.
Ia menghiraukan pertanyaan gadis tersebut. Ia terus saja memandangi wajah cantik Echi.
Dinginnya angin malam berhembus, keheningan menguasai mereka berdua.
"AKU BILANG, AKU ADA DIMANA?!" Teriak Echi dengan suara yang bergetar karena ketakutan.
Lelaki tersebut meletakkan jari telunjuknya di bibir Echi agar tak berteriak lagi.
"Sssh.. Jangan khawatir, kau akan aman bersamaku. Jangan berteriak seperti itu, sayang.." Jawabnya dengan melembutkan suaranya.
"Untuk apa membawaku ke tempat ini? memangnya diriku melakukan kesalahan sampai kamu menculikku seperti ini, huh?!" Ujar Echi dengan tangisnya yang mulai luruh.
"Mengapa dirimu malah menangis? Aku tidak akan membuatmu terluka, tidak perlu khawatir."
"Kembalikan diriku ke keluargaku."
"Tidak."
"Aku ingin bertemu dengan keluargaku.."
"Diriku bisa saja membawa mereka kemari jika kau mau, agar mereka menyaksikan diriku yang memilikimu seutuhnya dengan mata kepala mereka sendiri."
"Aku tidak mencintaimu!"
"Diriku bisa membuatmu jatuh cinta padaku."
Echi berdecih "Itu tidak akan terjadi."
Tawa kecil terdengar, jari jemarinya mengelus pipi kanan milik Echi. "Saat ini kau memang akan berbicara seperti itu, namun kau lihat saja nanti. Diriku dapat menjamin jika diriku akan memilikimu seutuhnya. jikalau tidak bisa memilikimu, maka tidak ada yang bisa memilikimu juga.." Lelaki itu mengeluarkan pistolnya lalu ia arahkan tepat di kepalanya.
Tubuhnya sedikit bergetar ketakutan, namun dirinya berusaha mengambil pistol di tangan lelaki itu untuk mengembalikan keadaan.
Lelaki itu yang sadar akan hal itu pun langsung mengangkat tinggi tangannya, mengarahkan tangannya ke langit langit.
Dor!
Satu peluru keluar dari pistol kecil miliknya kearah langit-langit.
"Diriku tahu kau akan memberontak seperti itu, maka ku beri sebuah tembakan peringatan untukmu."
"Jangan macam-macam padaku, diriku selalu mengawasimu. Bahkan seluruh bawahanku pun akan mengawasimu." Ujarnya setelah mengeluarkan tali dari sakunya, kemudian mengikat kedua tangan dan kaki Echi.
"Aku akan kembali nanti untuk melepas ikatan tali ditangan dan kakimu." Ucapnya.
"You might not mine, but i always be watching you.." Bisikan ditelinga Echi membuatnya bergidik ngeri, ditambah dengan seringai tipis yang muncul dari wajahnya. Semakin membuat keadaan menjadi panas dingin.
"Brengsek!" Umpatnya geram.
Dia elaine cherriestine, siapa yang menyangka bahwa gadis cantik yang seharusnya membuat lelaki tersebut benci padanya, namun justru membuat lelaki tersebut semakin tergila-gila padanya.
Perasaan cinta Keniel mengalahkan rasa benci dalam dirinya.
Tetapi tidak ada yang tahu takdir mereka akan berakhir bagaimana.