[ P R O L O G ]

Începe de la început
                                    

“Siapa tahu terpaksa,”

Gea memang bebal, keras kepala, beruntung saja ia bersahabat dengan Alesha gadis pengertian yang sabarnya melebihi kapasitas. Nyaris bukan sabar lagi tapi mahasabar saudaranya Mahabarata.

“Lama-lama gue keramasin juga ya lo Gea, heran gue sama lo,” geram Alesha. Gea hanya menjawab dengan senyum pasrah.

🍓🍓🍓

Sudah sekitar satu jam Gea berada di dalam mobil, Kali ini Gea akan menemui Adam penuh harap, Gea berharap kali ini tidak ada harapan yang tersia-siakan.

Sampailah Gea didepan rumah bertingkat dua dengan dinding nuansa putih gading, Gea tersenyum sebentar “Udah lama banget ngga ketemu tante Saskia sama Lala”  ia ingat persis terakhir ke rumah Adam  jauh sebelum ia putus.

Gea melangkah masuk, ia tersenyum dengan satpam yang menjaga depan, sepertinya satpam masih ingat dengan Gea.

“Mau ketemu mas Adam ya neng?” satpam itu dengan tersenyum pada Gea.

“Iya pak”

“Silahkan neng”

“Terimakasih pak,” Gea melangkahkan kakinya.

“KAK GEAAAAA!!!!!!,” Gea terperanjat. Tiba-tiba tangan mungil melingkar di perut Gea. “Lala kangen banget sama kak Gea!,” lanjut bocah umur lima tahun itu.

Lala adalah adik Adam, Gea sangat dekat dengan Lala, dulu ia sering menghabiskan waktu sorenya bersama Lala disaat Gea menunggu Adam pulang dari latihan basket.

“Aaaaa sayangg, kak Gea juga kangen banget loh sama Lala,” ucap Gea dengan mensejajarkan tingginya seperti Lala.

“Kak Gea kenapa ngga pernah main kesini lagi, Bang Adam juga ngga pernah cerita lagi tentang kak Gea” ucap Lala, raut sedih tersemat diwajahnya.

“Uhhhh, kan kak Gea sama Bang Adam lagi sibuk, Bang Adam lagi persiapan buat masuk kuliah, nanti kita main yahh, yuk masuk,” ucap Gea dengan memaksakan senyumnya.

Gea merasa sangat sedih, Gea berdoa semoga dirinya  tidak berpisah dengan Lala walaupun ia sudah tidak lagi dengan Adam. Lala adalah anak perempuan lucu dan pintar. Gea sangat sayang dengan Lala ,hal itu terlihat saat Gea berinteraksi dengan Lala.

Gea menggandeng tangan Lala,lalu mereka melangkah masuk.

“Bang Adam lagi keluar kak tadi,” ucap Lala.

“Yaudah sambil nunggu bang Adam pulang kita main yuk, Lala mau main apa??” tanya Gea penuh antusias.

“Main gambar-gambaran aja yuk kak, kemarin Lala gambar sapinya kak Gea lohh,” Lala mengerti Gea sangat suka dengan sapi.

“Oh iyaaa??, manaa coba kak Gea lihat,” ucap Gea tidak kalah antusias. Lala menggandeng tangan Gea menuju ruang tengah dengan desain minimalis, khusus untuk Lala bermain.

“Tadaaaa!!” Lala menyodorkan gambar sapi pada Gea.

“Wawww, ini lucuuu Lala hebat bisa gambar sapinya kak Gea”  Gea mengusap lembut pipi Lala.

“Sekarang kak Gea gambarin Lala yahhh,” Lala mengulurkan kertas dan pensil.

“Lala mau digambarin apa?,” tanya Gea sembari mengusap lembut kepala Lala.

“Emmm Lala mau digambarin itu,” ucap Lala sembari menunjuk boneka pinguin di nakas.

“Itu namanya pinguin, Lala udah pernah lihat pinguin?,” tanya Gea. Gea mulai mencoret-coret kertasnya.

“Hmm sudah, di tv hehe...”

Mereka terlihat sangat asik, Gea selalu antusias dengan cerita Lala walaupun kadang tidak masuk akal. Tapi Gea selalu tertarik dengan topik pembicaraan Lala, sehingga tercipta suasana hangat.

“Kak Geaa, Lala ngantuk,” Lala mengucek matanya.

“Lala cape ya, yaudah mainannya diberesin dulu yah nanti kak Gea buatin susu,” Lala menjawab dengan anggukan. Belum sampai tiga puluh menit Lala sudah tertidur pulas di pangkuan Gea.


Perhatian Gea teralihkan dengan suara cicitan pintu, pria tinggi masuk dari balik pintu, dia Adam. Adam menatap Gea dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Melihat sosok itu Gea ingin sekali berlari dan memeluknya erat-erat. Gea merindukan Adam.

“Adam, tunggu sebentar,” ucap Gea mengisyaratkan adanya Lala. Gea bangkit berjalan menuju kamar Lala yang tak jauh dari ruang tengah.

Posisi Adam masih sama dan tidak mengatakan sepatah kata apapun. Membuat Gea sedikit takut untuk memulai obrolan. Satu bulan mereka tidak bertemu langsung ,membuat atmosfer diantara mereka menjadi semakin jauh.

“Gimana kabar lo?” Gea membuka suara.

“Seperti yang lo liat,” jawab Adam sekenanya.

“Gue mau ngomong sesuatu sama lo Dam”

Adam menarik pergelangan tangan Gea, lalu berjalan menuju balkon. Mereka duduk di sofa yang biasanya mereka habiskan waktu sore bersama. Masih dengan orang yang sama hanya saja dengan tahta yang berbeda.

Gea melirik Adam, ia mengeluarkan benda pipih berwarna hitam dari saku hoodienya.

"Lo ngerokok Dam?," tanya Gea disaat Adam menyeburkan asap ke udara. Gea kaget bukan main. Sebelum mereka putus Adam tidak pernah merokok ataupun vape karena Adam mengerti Gea alergi asap rokok, tapi sekarang Adam melakukan terang-terangan di depan Gea. Itu sedikit membuat Gea kecewa.

"Lo mau ngomong apa?," ucap Adam mengalihkan pembicaraan.

"Ini..., beneran kita ngga bisa diperbaiki lagi Dam?,"

"G-gue sayang sama lo,"

"Gue pengen kita perbaiki diri kita, bareng-bareng,"

Kali ini Gea berkata penuh harap, sebagaimana Gea ingin mempertahankan perasaannya menjadi hal yang tidak sia-sia.

"Udah Ge, ngga usah!," ucap Adam singkat.

"Dam, lo nggak bisa buat keputusan disaat lo marah, gue tahu kok lo masih belum bisa damai dengan lo sendiri,"

Tentu Gea tidak ingin sia-sia, segala perasaan telah diutarakan namun masih tak ada jawaban dari Adam.

"Dam please..., Jangan diem aja gue butuh kepastian buat kita kedepannya Dam, jangan kaya gini," Gea sedikit meninggikan suara.

"Lo butuh jawaban kan?,"

"Lupain Gue Ge, jangan jadiin gue satu-satunya,"

Gea masih tidak percaya dengan jawaban Adam. Hati Gea sakit, bagaimana bisa Adam memberhentikan begitu saja. Setelah banyak hal yang dulunya telah di lalui bersama-sama.

Gea ingin yang terbaik untuk mereka sedangkan Adam ingin yang terbaik untuk dirinya sendiri.

"Tapi gue ngga bisa lupain lo Dam," lirih Gea.

"Terserah lo, kalo lo mau terjebak sama masa lalu," jelas Adam. Itu menjadi jawaban terakhir yang keluar dari mulut Adam.

TERIMAKASIH SUDAH BACA PROLOG YOUNIVERSE

SILAHKAN VOTE DAN KOMENTAR

See u next chapter

Youniverse [Completed]Unde poveștirile trăiesc. Descoperă acum