Lazeda....
Lazeda....
Notifikasi lazeda terus berbunyi, padahal Gama tidak memesan barang apapun di aplikasi itu. Karena itu waktu tidurnya kembali terganggu
Keningnya semakin mengkerut kala mengingat orang tuanya sebentar lagi akan kembali ke Indonesia.
"Huft...." Desahnya frustasi, dirinya lelah. Lelah di Indonesia, dan lelah juga di luar negri. Bagaimana tidak, dia merasa dengan tinggal di Indonesia maupun di luar sama-sama memusingkan.
Apalagi kali ini Gama kalah, dia tak mungkin kalah dari lelaki itu, lelaki itu benar-benar membuatnya merasa terusik. Bagaimana mungkin sekarang dia berada di bawah lelaki itu, bahkan kalau diingat-ingat tinggi lelaki itu tak sampai sebahunya.
'Syana hamil, dan hamil anak pria itu'
Pikiran itu terus mengganggunya, menyadari fakta kekasihnya hamil dengan suaminya. Sebenarnya tidak ada yang salah, toh syana sudah tiga tahun menikah dan sudah beberapa kali keguguran dengan razaf, nama pria tersebut. Tapi gama masih tak percaya perempuan itu hamil saat dia masih aktif menghubunginya, bahkan berkeluh kesah, bahkan dia masih sering bermanja-manja dengannya, walaupun hanya via panggilan telepon.
Dua hari yang lalu, saat syana memberitahukan kabar bahagia itu, gama menatapnya dengan tatapan tak percaya.
'aku hamil!'
'lalu, kau tinggal ceraikan dia bukan' gama berujar, dia masih ingat terakhir kali dia menyentuh wanita itu sekitar dua Minggu yang lalu. Kalau benar itu merupakan anaknya bukan.
'bukan itu'
'lalu....'
'aku hamil anak razaf'
Sejak hari itu gama tidak pernah bertemu lagi dengan syana, dia terlalu kecewa, tapi untuk apa dia kecewa. Toh dari awal yang salah disini adalah dia yang jatuh cinta pada istri orang.
"Shit"
Menjadi dokter relawan di Ukraina membuatnya tidak bisa leluasa menghubungi syana, kekasihnya. Menjadi kekasih gelap syana bukan kemauannya. Itu semua karena pertemuan keluarga mereka dua tahun yang lalu.
10 years ago
Gama baru saja mengistirahatkan badannya, tubuhnya terasa kaku akibat tidak duduk selama kurang lebih 20 jam, jadwal operasi yang padat membuatnya harus rela meninggalkan waktu istirahatnya.
"Mischa..Mischa...Mischa..."
Panggilan itu dari luar kamarnya, begitu memekakkan telinganya, namun dia tidak bisa langsung menghiraukan ibunya yang tiba-tiba sudah membuka pintu kamarnya dengan kunci cadangan.
"What's mom."
Sapanya saat ibunya masuk dan langsung menarik selimut yang menutupi setengah badannya.
"Mom tau kau lelah dan butuh istirahat, tapi mom juga tidak mungkin membiarkan seseorang kehilangan nyawanya."
Waktu itu Gama masih koas di salah satu rumah sakit, dia masih baru untuk berhadapan dengan hal tersebut
"Mom, please. Tinggal bawa ke rumah sakit."
"No, scha. Kamu harus memberi pertolongan pertama. She is hurt, now."
Gama keluar dengan kesal. Diambilnya stetoskop dan beberapa alat yang mungkin membantu. Dia mengekori ibunya, dan mengikuti ibunya yang masuk ke rumah tersebut, kira-kira rumah tersebut berjarak satu rumah dari rumahnya. Ibunya langsung menuju kamar, yang berada diatas. Saat Gama masuk, dia langsung mendapati seorang wanita muda merintih kesakitan dengan darah yang mengalir di kakinya.
Gama panik bukan main, wanita itu keguguran, dia yakin dengan fakta itu. Namun tidak mau langsung berspekulasi. Takut-takut dia malah salah mendiagnosa.
Gama dengan sigap memeriksa denyut nadi wanita itu, dan langsung memberikan pertolongan pertama.
"Dimana suaminya?" Tanya Gama lagi.
"Tuan Razaf sedang menyiapkan keperluan ke rumah sakit dok."
Gama dapat menyimpulkan wanita muda didepannya ini, yang dia kira umurnya mungkin baru menginjak 16 tahun, begitu muda untuk mengandung diumur segitu.
"Bagaimana keadaan dia scha, aku sungguh panik. Oleh karena itu aku langsung meminta tolong padamu."
Razaf datang dengan beberapa nanny yang membawa beberapa tas
"Istrimu sepertinya mengalami keguguran, karena fisiknya terlalu lemah untuk hamil di usia muda, atau mungkin karena dia salah makan. Lebih baik kau bawa ke dokter."
Razaf tertunduk, memeluk istrinya erat, sesekali mengecup kepala istrinya dengan sayang, sambil menyuruh supir mereka menyiapkan mobil.
***
"Aku baru tau kalau razaf sudah menikah ma"
Mama gama duduk setelah meletakkan wadah bubur kacang ijo di atas meja.
"Ceritanya panjang, mama juga masih terkejut sampai sekarang, singkatnya mereka menikah karena orang tua perempuan itu meninggal, dan kerabat yang dipunyai perempuan itu mereka hanya pak Mansyur dan istrinya. Oleh karena itu mereka membawa gadis itu tinggal bersama mereka, namun kamu tentu tau apa kata tetangga, banyak gosip tak sedap yang keluar. Untuk menghindari fitnah, pak Mansyur dan istrinya menikahkan razaf dengan syana."
"Nama perempuan itu syana?"
"Iya, seperti nama adikmu."
=======
Tidak terlalu mengejutkan, mendapati seorang Gama sudah bangun di pagi begini, sedang malam tadi memarahinya karena terlambat menjemputnya.
Gama itu bukan morning person, pria itu seberapa lama pun tidur, pasti akan bangun kesiangan. Namun lihatlah hari ini, jam 8 pagi dia sudah menggerutu entah karena apa. Duduk di sofa sambil menonton layanan belanja online.
"Aku tidak tau ini berguna apa tidak, tapi tadi mama memberikan ini padaku untukmu." Gana membawa beberapa makanan Frozen food yang mungkin bisa di goreng Gama di kala lapar sebagai pendamping nasi
"Mama, mama siapa?, Mamaku atau mamamu?"
Kalimat pedas itu, sudah biasa Gana dapatkan. Lelaki itu sepertinya benar-benar lelah dengan kehidupannya, mungkin.
Gana tau dia hanya dibantu dengan diberikan beasiswa oleh keluarga pria itu, kalaupun begitu, rasanya pantas Gana mendapatkannya, dia mendapatkan beasiswa itu dengan otaknya. Sekarang pun untuk membalas kebaikan itu, dia masih sering ke apartemen untuk membersihkan ataupun melakukan beberapa perintah gama seperti membeli perlengkapan pria itu atau apapun yang diminta pria itu.
"Yah, mama Abang."
Gama menatapnya lagi, "sudah berapa kali ku bilang padamu dia bukan mamamu. Aku tidak pernah melihat mama melahirkanmu. Jadi tidak usah memanggilnya mama, aku merasa kita seperti saudara, kau tau?"
Melangkah ke dapur dan meletakkan belanjaan lebih baik sepertinya, dari pada mendengar manusia itu marah-marah tidak jelas.
Oh tunggu
Gana belum mengatakan pada Gama, bahwa syana kemarin sore kesini ingin menemui Gama.
"Bang..."
"Iya"
"Syana kemarin sore kemari, dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Namun saat dia melihat di apartemen yang ada cuma aku. Jadi dia pulang begitu saja. "
Bersambung.....
