"Abah, dulu bercanda pas bilang pengen punya keturunan yang banyak. Tapi Allah menjabah omongan Abah dengan khyusuk."
"Uma, nggak pernah menyesal, lahirnya anak-anak Uma atas ridho Allah."
17 Oktober 2022
"Bercerita tentang keluarga, bagaimana cara kalian menggambarkannya?" -Raya Nafisa-
• • •
Dalam membangun sebuah keluarga tentunya tak luput dari keturunan. Bayang-bayang akan memiliki jabang bayi sudah direncanakan sedemikian rupa. Ayu atau rupawan, akan diterima dengan lapang. Seumpama meleset dari harapan, bisa diimbuhkan. Asalkan, sesuai dengan kesepakatan. Tak ada batasan akan jumlah keturunan, selagi mampu dalam hal menafkahi, baik lahir maupun batin.
Istilah banyak anak banyak rezeki sebagian kalangan menyetujui. Namun, bagaimana jika dalam satu keluarga memiliki dua belas anak. Bisa dibayangkan bakal seramai apa? Bagaimana repotnya dan bagaimana membagi akan kasih sayang?
Yanto-Raya. Semasa di usia muda, sosok Yanto sangat diagungkan oleh Raya. Sosok lelaki dengan wajah sangar, justru terlihat sangat menawan, kata istrinya. Sikap tak acuh yang membuat orang malas untuk sekadar mengenalnya, justru membuat Raya tergila-gila akan pesonanya.
Meski bukan sekali dua kali ia tertolak, bukan Raya namanya jika tak gencar mendapatkan hati pujaan. Berbagai cemooh akan orang sekitar, hanya masuk telinga kanan blabas ke telinga kiri. 'Pantang mundur demi mas Yanto.' begitulah motto yang ditaruhkan.
Berkali-kali menerima ungkapan menyayat langsung dari bibir Yanto, tak membuat Raya jengah. Raya, gadis dengan rambut sebahu, cukup bebal. Demi sang pujaan, selangkah pun ia pantang mundur. Jika ditanya apa yang membuatnya gila akan pesona Yanto, entahlah gadis tersebut hanya tersipu malu tanpa niat menjawab. Cukup hati dan tuhannya yang tahu.
"Berhenti ngejar aku, Raya."
"Nggak bisa, Yanto. Itu keinginan hati Raya sendiri."
"Aku nggak suka sama kamu, Ray. Berhenti, jangan buat hati kamu sakit dengan makian ku tiap hari."
"Raya nggak sakit hati. Raya cuma mau kamu."
"Jangan salahin aku, kalo bikin kamu makin menderita."
"Itu nggak akan terjadi. Raya yakin, Yanto akan suka Raya juga."
Masih tercetak jelas dalam benak Raya berbagai penolakan dari Yanto. Bagaimana ungkapan Yanto yang terus terang tak menyukainya. Mengusirnya ketika ia selalu nekat menempelinya. Bahkan, tak segan-segan Yanto berkata kasar kepadanya. Cacian, makian, seolah makanan sehari-hari untuknya. Kenyang, kata yang selalu Raya lontarkan kala Yanto menggebu-gebu memakinya.
Percaya dengan istilah usaha tak akan mengkhianati hasil? Itu semua memang nyata adanya. Usaha memang tak pernah meleset akan hasil. Sama seperti Raya, setelah melewati lika-liku panjang, melalui tikungan yang tajam, sudahnya ia menuai hasil yang selama itu ia perjuangkan. Sungguh, itu semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Meluluhkan hati yang seakan mati, mencari perhatian yang tak dilirik sekalipun, bahkan urat malu sudah lenyap pada dirinya. Kini pelukan hangat selalu mendekapnya.
"Kalau Aa pengen dedek yang banyak, Neng sanggup, nggak?"
"Emang Aa pengen dedek berapa?"
"Dua belas, mungkin."
"Aa yakin? Dua belas?"
"Eum, mau?"
"Kalo gitu, Aa aja yang hamil."
Satu tahun setelah Yanto memutuskan untuk menikahi Raya, tepat lima tahun sejak Raya memulai mengejar Yanto, sosok buah hati pertama kini melengkapi keluarga mereka. Tangis haru melebur dengan tangis bahagia. Yudis Adam Adipramana R.Y, putra pertama di keluarga Rayanto. Raya-Yanto.
Hingga silih berganti tahun, Rayanto junior terus hadir melengkapi keluarga mereka. Meskipun putra, putra dan putra lagi yang lahir, raut kekecewaan di antaranya tak pernah mereka terima. Tangis bayi saat pertama hadir menyuarakan tangis selalu membekas di benak mereka. Suara tangis itu, menjadi sebuah saksi betapa lama mereka menantikannya.
OOO
Cerita ini 100% mengandung fiksi. Fiksi, saya tegaskan lagi cerita ini hanya fiksi.
Terimakasih dan selamat bergabung dengan bujang Abah.
Barangkali berkenan mengikuti Ig; biyukunai, dipersilahkan 🙏
OOO
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Terlahir sebagai anak sulung dengan 11 saudara, udah berasa nyaingin keluarga halilintar." -Yudis Adam Adipramana R.Y-