Di sebuah kota kecil di pinggir pantai terdapat sebuah rumah. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan dan begitu banyak penderitaan. Dirumah tersebut tinggallah sebuah keluarga. Keluarga itu adalah keluargaku. Keluargaku terdiri dari ibu, ayah dan aku, Erin yang saat ini berumur 15 tahun.
Saat ini aku sedang berjalan pulang ke rumah setelah selesai sekolah. Jalanan selalu sepi, tidak banyak kendaraan yang lewat. Apalagi saat sore, seperti saat ini. Entah kenapa sore ini langit-langit terlihat indah dari biasanya.
Sesampainya di rumah aku langsung masuk ke kamar untuk mandi dan ganti baju. Selesainya ku jatuhkan diriku di atas kasur. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benakku, apa ibu dan ayah akan benar-benar bercerai. Ku arahkan pandanganku ke foto yang tergantung di dinding kamar. Di foto itu terlihat ibu, ayah dan aku yang tersenyum bahagia dengan latar belakang taman bunga yang indah.
Aku merindukan saat-saat dimana kami masih bisa bercanda satu sama lain. Tapi, sepertinya sekarang itu sudah tidak mungkin. Karena sebuah kesalahan yang terjadi di masa lalu yang akhirnya berakhir seperti ini. Tiba-tiba aku merasa mengantuk dan akhirnya menutup mataku lalu pergi menuju ke alam bawah sadar.
Seketika semua menjadi gelap, tidak ada cahaya sama sekali. Kulihat ke sekelilingku dan tiba-tiba terlihat sebuah potongan-potongan kejadian yang terlihat seperti slideshow. Kulihat potongan-potongan dari slideshow tersebut yang entah ada berapa jumlahnya. Tapi, tiba-tiba semua menjadi gelap kembali dan seketika aku berpindah tempat.
Cuaca terasa panas. Tapi, anak itu terlihat tidak peduli dengan cuaca panas tersebut. Dengan perasaan bahagia anak itu membawa sebuah piagam dan medali emas. Wajahnya terlihat sangat senang seolah-olah itu adalah hari terbaik yang pernah ada dalam hidupnya.
Saat sampai di rumah bukannya disambut dengan senyuman hangat ibunya tapi anak itu malah disambut dengan keadaan rumah yang berantakan bagai kapan pecah. Pecahan bekas vas bunga dilantai dan barang-barang yang berserakan dimana-mana. Anak itu terkejut dan langsung terduduk lemas, matanya berkaca-kaca. Belum selesai mencerna apa yang terjadi terdengarlah suara teriakan dari arah dapur.
Anak itu langsung bangun dari tempatnya. Tidak peduli dengan sepasang sepatu yang masih belum terlepas dikakinya. Sampai di dapur, anak itu melihat kedua orang tuanya menatap satu sama lain dengan tatapan membunuh. Mencoba saling mendominasi, tidak ada yang mau mengalah.
"SUDAH KUKATAKAN BERAPA KALI. AKU TIDAK MELAKUKANNYA!!!" Teriak sang ayah
"DENGAN SEMUA BUKTI YANG ADA KAU MASIH INGIN MENGELAK?!" Sang ibu tidak memberi celah
"SUDAH KUBILANG ITU HANYA TIPUAN SEMATA. KENAPA KAU TIDAK PERCAYA?!" Sang ayah masih mencoba membela dirinya.
Anak itu hanya bisa diam membisu seribu bahasa. Kedua tangan anak itu menutup mulutnya dan matanya melotot takut melihat kedua orang tuanya yang bertengkar. Tangis anak itu akhirnya pecah. Kedua orang tuanya yang mendengar hal tersebut langsung mengalihkan perhatiannya kepada sang anak.
Sang ibu mendekati anak itu dan memeluk tubuh kecilnya. Anak itu masih menangis bahkan sekarang tangisannya lebih keras dari sebelumnya. Sang ayah yang melihat hal tersebut tiba-tiba menarik tangan anaknya. Dengan tatapan penuh kebencian dia menampar anak itu yang merupakan anak kandungnya. Suara tamparan pun terdengar.
PLAAKKKK
Anak itu terjatuh. Anak itu reflek memegang pipinya yang merah dan bengkak. Anak itu kembali menangis, tangisan kesakitan yang menyayat hati. Sang ibu yang melihat tersebut langsung menendang perut sang ayah hingga tumbang. Dengan segera sang ibu mengendong anaknya dan membawanya pergi. Lalu, sang ibu berkata
"Erin anakku tersayang... Jangan pikirkan ayahmu itu ya. Ibu menyayangimu lebih dari apapun didunia ini." Ujar sang ibu sambil mengelus pelan pipi anaknya dan mengecup singkat kening anak itu.
YOU ARE READING
Bianca
Short StoryCuaca terasa panas. Tapi, anak itu terlihat tidak peduli dengan cuaca panas tersebut. Dengan perasaan bahagia anak itu membawa sebuah piagam dan medali emas. Wajahnya terlihat sangat senang seolah-olah itu adalah hari terbaik yang pernah ada dalam h...
