“Anak saya yang baru nikah 1 tahun aja, sudah mau punya anak dua. Lah kamu yang sudah mau 3 tahun nikah, belum punya anak sama sekali. Mandul, ya?” Taeyong hanya tersenyum miris ketika kalimat tersebut teringat kembali. Memangnya pasangan mana yang tidak ingin memiliki anak cepat setelah menikah?
“Sayang?” Panggil jaehyun membuyarkan lamunan Taeyong sedari tadi. Jaehyun tersenyum kecil ketika Taeyong berusaha menutupi ekspresi sedih di wajahnya.
“Mikirin apa sih cantikku? Sampai-sampai aku nyampe rumah ngga di sambut sama kamu” Ucap Jaehyun seraya mencubit pipi Taeyong.
Taeyong terkekeh kecil, kemudian memeluk suaminya erat. “Hehehehe, ngga apa apaaa suamikuuu. Aku kangen banget sama kamu, ada cerita apa hari ini di kantor?”
“Hari semua lancar sayang. Oh iya, Johnny ngundang kita buat hadir ke acara pertemuan kolega perusahaan nya. Katanya, itung-itung silahturahmi. Kamu mau ikut kan, sayang?” Tanya Jaehyun.
“Mau dong!”
Jaehyun terkekeh sambil mengeratkan pelukannya pada jantung hatinya. “Aku mau tanya sesuatu sama kamu boleh?”
“Hmmm, boleh. Mau tanya apa, Jaehyunkuuu”
“Tadi ngelamunin apa, sayang?”
Taeyong terdiam ketika pertanyaan dari mulut Jaehyun terlontar. Dia tidak ingin suaminya merasa terbebani jika dia cerita perihal omongan ibu-ibu komplek tadi pagi saat ia berbelanja sayur.
“Gak apa apa kok” Jaehyun hanya tersenyum miris ketika Taeyong tidak mau membagi pikiran yang ia lamunkan sedari tadi. Tangan jaehyun beranjak mengelus punggung Taeyong, mencari kelemahan istrinya.
“Jaehyun, jangan elus punggung ku..”
Sedari dulu, ketika Taeyong menyembunyikan masalah pada suaminya, dia tidak akan menangis atau bahkan menceritakan apa yang sedang terjadi ketika di peluk oleh suaminya. Tidak seperti kebanyakan orang apabila di tanya “Kamu kenapa?" Atau bahkan di peluk, langsung menangis lalu menceritakan apa yang sedang mereka derita. Namun Taeyong, akan menangis tersedu-sedu lalu menceritakan apa yang sedang terjadi jika punggung nya di elus oleh suaminya.
“Hiks”
“Jaehyun, hiks aku belum bisa jadi istri yang baik ya?” ucap Taeyong tersedu-sedu.
Alis jaehyun menukik, mengapa istrinya bisa bilang seperti itu? Padahal istrinya adalah seseorang yang sangat berarti padanya. Ibarat kata, setengah jiwa jaehyun pada istrinya. Istrinya itu sangat baik sekali.
“Kata siapa istri cantikku ini belum bisa jadi istri yang baik?”
“Tadi ibu-ibu selalu menanyakan kapan kita memiliki buah hati. Jaehyun memangnya syukur dan sabarku kurang berapa banyak lagi? Apa Tuhan tidak sayang pada kita?” Taeyong runtuh. Jaehyun memeluk istrinya semakin erat ketika kalimat tersebut keluar dari istrinya.
“Sayang, ada atau tidaknya anak di pernikahan kita, aku tidak mempermasalahkan sama sekali. Aku rasa, aku hanya butuh kamu untuk menemaniku sampai akhir hayatku. Memang, memang. Keinginan ku memiliki seorang anak bahkan beberapa anak sangat tinggi. Namun, apa boleh buat? Kita sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan belum kehendaki”
Taeyong semakin menangis, meredamkan kepalanya pada dada bidang Jaehyun.
“Sayang, dengarkan aku. Tatap mataku”
Hati Jaehyun mencelos ketika matanya bertatapan pada mata yang menunjukkan kerapuhan pada istrinya. Ya Tuhan, apa bisa, Jaehyun beli mulut ibu-ibu tadi?
“Sayang. Dengarkan baik-baik. Aku sayang kamu, sampai kapanpun. Ada atau tidak adanya seorang anak bahkan beberapa anak dirumah ini, di pernikahan kita. Tidak akan menghalangin jalan selalu untuk aku berbagi rasa sayang sama kamu. Mari kita berusaha lagi ya sayang? Tuhan bukan nya tidak sayang pada kita, Tuhan cuma mau tahu apakah hamba nya ini akan selalu berusaha dan bersyukur untuk hidup nya, atau semata-mata hamba nya hanya mengucap syukur ketika ia mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, lalu meninggalkan-Nya seakan kacang lupa kulitnya”
Tangisan Taeyong mulai mereda, ia sayang sekali pada suaminya.
“Jaehyun...”
“Sayang, mari berusaha lagi?”
“Ayo jaehyun.”
YOU ARE READING
Si Kecil, Mark.
Teen FictionMark, buah hati kami yang kami damba-damba serta kami sayangi sepenuh hati.
