Jangan lupa vote and komen ya gaes
Karena vote dan komen kalian itu penyemangat buat penulis
Terima kasih
_________________
Saat matahari masih enggan menampakkan diri. Seorang gadis melaju dengan motor vario berwarna hitam. jalanan basah usai diguyur hujan kemarin malam. Namun, sepertinya gadis itu kehilangan kendali saat ban sepeda motornya melewati lubang yang lumayan lebar dan gadis itu tak mengetahui bila di depan sana adalah jalan menikung.
BRUKKK.......
Tak dapat dihindari motor gadis itu pun menabrak pagar bambu milik warga. ia mencoba meraih kunci untuk mematikan mesin motor. Dia berusaha bangkit dan menarik kakinya yang tertindih oleh motor. Usai bangkit dia membersihkan rok birunya dari tanah. Beberapa luka lecet memenuhi jemari tangan dan pergelangan kaki kiri gadis tersebut. Tak berselang lama pintu rumah pemilik pagar bambu itu terbuka. Nampak dua orang laki-laki dan seorang perempuan tua keluar dari rumah dengan ekspresi terkejut dan menghampiri gadis itu.
“Ya Allah,nduk sini duduk dulu.”
Perempuan tua itu mempersilakan gadis itu untuk duduk di kursi depan rumah. Sedangkan dua laki-laki itu berusaha menepikan motor gadis itu dan membawanya ke pekarangan rumah.
Kini gadis itu hanya dapat menunduk menatap sepatu hitam yang ia pakai. Mata gadis itu berkaca-kaca dan air mata yang dia tahan siap meluncur dengan bebas. Butiran-butiran bening mulai turun dari pelupuk mata gadis itu. Satu diantara dua laki-laki itu mulai bertanya. Beberapa kerut di dahi laki-laki itu menandakan bahwa ia adalah kepala keluarga tersebut,sedangkan laki-laki yang lebih muda itu adalah anaknya. Bapak tersebut langsung mengantarkan gadis itu kembali kerumah sesuai dengan alamat yang telah gadis itu tunjukkan.
***
Sinar matahari mulai menyapa bumi dengan sinar hangat ke seluruh penjuru. Motor yang mengantar gadis itu memasuki sebuah rumah yang berlatar taman nan luas. Tumbuhan hijau nampak subur dan rindang. Beberapa jenis bunga pun terlihat indah dan terrawat. Nampak seorang wanita paruh baya berpenampilan sederhana memakai jilbab berwarna coklat. Wanita paruh baya yang berperawakan tidak terlalu tinggi itu menghampiri gadis yang baru turun dari motor. Raut wajah wanita itu mengisyaratkan kekawatiran.
“Kamu kenapa Sya?”
“Kak Nasya kenapa kak? ” suara cempreng itu serasa menusuk telinga Nasya.
Suara cempreng yang khas itu terdengar dari ambang pintu rumah.
Nasya? Ya nama gadis itu adalah NASYA FATIMAH ZAHRA. Kini Nasya duduk di kelas X di MAN NUSA CENDEKIA. Hari ini adalah hari pertama Nasya masuk sekolah setelah beberapa agenda dilaksanakan, seperti MATSAMA.
“Eggak papa kok bun,”
“Ya udah,Vi bawa kakakmu ke dalam.”
Gadis bersuara cempreng yang tak lain adalah adik kandung dari Nasya langsung membawa Nasya masuk ke dalam rumah. Sementara itu ibu kedua gadis masih berbincang dengan seseorang yang telah membantu Nasya untuk pulang. Cukup lama mereka berbincang di ruang tamu. Hingga setelah orang itu berpamitan pulang, wanita paruh baya itu kembali mendekati gadis manis yang tengah bersandar di atas tempat tidur.
“Hari ini ke sekolah?”
“Iya,tapi?”
“Ya sudah kamu berangkat pakai ojek online saja ya, ibu sudah pesankan.”
Mata gadis itu kembali berbinar dan menghentikan isakkannya. Dia segera bangkit dari tempat tidur dan membersihkan pakaiannya dari bekas tanah. Gadis itu berangkat tanpa mengobati luka yang ada ditubuhnya terlebih dahulu.
“Aku berangkat sekolah, Assalamualikum.” sambil mencium khidmat punggung tangan wanita paruh baya berkulit kuning langsat.
“Iya,hati-hati Sya, banyakin sholawat di jalan!”gadis itu hanya mengganguk.
Benar saja, ojek online yang dipesan sudah sampai di depan rumah. Nasya segera menghampiri abang ojol tersebut. Nasya semakin gelisah setelah melirik jam arloji dipergelangan tangan kirinya."
“Bang,bisa agak ngebut ?”
“Nggak takut?”
“Udah ngebut aja,udah setengah tujuh nih!”
Disaat-saat seperti ini gadis itu malah ribut dengan abang ojol. 20 menit kemudian gadis itu segera berlari memasuki gerbang depan sekolah tanpa memperdulikan beberapa luka yang ada di kaki kirinya. Dia berlari melewati lorong tempat parkir guru yang lengang dan segera meSyaki tangga menuju kelas yang berada di lantai dua.
Dengan nafas yang tersenggal,Nasya memasuki kelas yang sudah dimulai dengan membaca Al-Qur’an. Nasya segera duduk dan membuka kitab suci Al-Qu’an dan membacanya sesuai panduan dari madrasah. 15 menit berlalu dan kegiatan mengaji terlaksana dengan lancar. Rasa penasaran yang di bendung teman-teman Nasya kini pecah.
“Tumben Sya rada siang?’’ cerocos Nurul.
“Lu kenapa?” tanya Jessi yang melihat jemari Nasya.
“Eh-h, jatuh tadi”
“Kok bisa,lu sih nggak hati-hati” omel Afrina.
“Abis jatuh malah diomelin sama emak-emak.” Sindir Nasya pada teman-temannya.
“Lah yuk ke UKS.”
Tanpa aba-aba Nurul langsung menarik lengan Nasya sedangkan Jessi, Zara, Ocha dan Afrina mengekor dibelakang. Mereka menuruni anak tangga dan berjalan menuju UKS. Beberapa menit kemudian mereka berada di ruangan ber-AC dengan warna cat putih dan dominan hijau dihiasi dengan tirai berwarna hijau muda.
“Emang ada yang bisa obatin?” tanya Nasya sambil nyengir.
“Gue nggak bisa!” Nurul,Jessi, Zara, Ocha dan Afrina bicara bebarengan.
“Lah,terus gimana?” Afrina semakin bingung dan menatap Nurul.
“Gini aja, bantuin aku ambil obatnya biar aku obatin sendiri.”
“Lu bisa Sya?”
“Bisa,tenang ae.” jawab Nasya santai karena di waktu MTs dia mengikuti ektrakulikuler PMR.
Nasya mulai membersihkan luka lecet di jemari tangan dan mengolesnya dengan beberapa obat dan kemudian menutup luka menggunakan kasa.
“Yuk balik.” Ajak Nasya pada kelima temannya yang sibuk mengotak-atik beberapa barang di UKS.
“Udah Sya?”
“Udah, yuk buruan keburu guru datang nanti.” Bujuk Nasya.
“Yuk,Yuk...”
--------------
Sampai sini dulu hehe :)
YOU ARE READING
Belantara Rasa
Teen FictionSetahuku banyak sekali misteri tentang rasa bagai belukar dihutan rimba. Setahuku rasa punya banyak macam berupa cinta, benci, dan kecewa
