Semilir angin bertiup dari utara, membawa sejuk yang menerpa kulit di akhir musim penghujan tahun ini. Seperti hari-hari sebelumnya para petani mulai menggarap sawahnya, dari memanen padi, membajak sawah, ataupun sudah mulai menanam tumbuhan baru untuk menyambut kemarau depan. Nampaknya panen kali ini sukses besar, padi yang ditanam tumbuh subur dan berkualitas, ini juga berkat kerja keras adipati kerajaan yang selalu mengawasi dan membantu para penduduk memenuhi kebutuhan pertanian mereka.
"Seharusnya kita menghadiahkan sesuatu untuk adipati Gentala, berkat dia panen kita berhasil" Ucap seorang wanita yang sedang menggendong putranya.
"Memang seharus begitu, aku juga setuju kalau Raja Narapati turun tahta dan digantikan adipati Gentala"
"Akupun berpikir begitu, raja kita dan keturunannya tidak pantas memimpin kerajaan ini, mereka hanya sibuk dengan diri mereka sendiri" Sahut seorang pemuda yang baru saja pulang dari sawah
"Baru saja aku dengar dari pengawal kerajaan, kalau raja akan mengangkat putri Bhanuwati menjadi selirnya" Yoto, ketua petani desa angkat bicara.
"Kau yang benar saja, pak. Putri Bhanuwati baru 3 bulan ditinggal suaminya" Ujar mbok Suni tak habis pikir dengan pemimpinnya.
"Dia memang tidak pernah cukup dengan ratu Asmarini, jangan sampai anak-anak kita juga yang jadi sasaran nafsunya"
Semua orang mengangguk, mengiyakan pernyataan itu. Semua orang sudah tau tabiat buruk dari raja, tapi mereka mencoba untuk menutup mata karena keluarga mereka akan jadi taruhannya.
"Permisi-permisi, awas! Minggir semua!! " Suara kusir menginstupsi mereka.
"Jangan dijalan! Bu bidan mau lewat! " Suara tapal kaki kuda mengiringi teriakannya
"Siapa yang melahirkan Di? " Tanya seseorang pada kusir yang bernama Madi
"Istri adipati" Teriaknya tanpa mengurangi kecepat kuda.
Semua orang disana termenung.
"Bukankah adipati belum pulang dari tugasnya di kota perbatasan? "
"Kita pergi kesana sekarang"
Para penduduk sepakat berangkat ke rumah adipati saat itu juga.
♡
"Selamat Raden Ayu, putramu lahir dengan selamat"
Helaan nafas panjang terdengar dari Candrawati, setelah menahan sakit selama 1 hari penuh akhirnya putra pertamanya lahir dengan selamat. Suara sorakan dan tangis haru dapat ia dengar dari halaman rumahnya, ia menduga bahwa para penduduk datang untuk menjenguknya.
Bidan Imas kembali membawa bayi laki-laki Candrawati.
"Putramu sungguh tampan Candrawati, setampan Raden Mas Wijaya"
"Huss kamu tuh ya, yang paling tampan didunia ini tentu mas Gentala, raja Narapatipun kalah saing dimataku"
Bidan Imas tertawa, Candrawati dan Imas sudah berkawan akrab sejak lama, mereka pernah 4 tahun menimba ilmu di sekolah dokter milik Belanda, dan berpisah karena Candrawati yang notabene adalah keluarga kerajaan harus kembali ketempat asalnya untuk meneruskan keturunan, dan Imas memilih mengabdikan dirinya untuk kepentingan orang banyak, seperti tujuan awal mereka berdua saat pertama kali menginjakkan kaki di sekolah itu.
"Apa kamu ingat saat Raden Mas Wijaya meneriakan namamu dari depan asrama putri, dan kamu malah melemparinya dengan sepatu"
"Hei, itu bukan aku yang melempar sepatu, tapi aku selalu ingin tertawa saat mengingat cerita itu"
"Bukannya kamu yang melempar sepatu? Kalau bukan kamu terus siapa? "
Candrawati tersenyum, "itu Mas Gentala dan pieter yang melemparnya, aku pun baru tahu setelah menikah"
"Pieter? Si anak pejabat itu? Wahh kisah cintamu sungguh indah, Can. Bahkan kamu sudah diincar Gentala dari masih kuliah. Andaikan saja aku seberuntung dirimu, yaaa setidaknya mbok bisa menerima kang Saip apa adanya, bukan malah menyuruhku menikah dengan duda penjual sapi itu" Imas menghela nafas pelan, Candrawati berusaha menahan tawanya.
"Ngomong-ngomong bukannya adipati seharusnya disini menemanimu, kenapa sampai hari ini belum datang juga? "
Senyum Candrawati luruh, "Ntah apa saja yang dihadapi adipati hari ini, yang kutahu dia sangat penting bagi negeri ini."
Senyum sumringah nya kini berganti sendu. Imas mencoba mengerti apa yang dirasakan sahabatnya kini.
"Kamu tenang saja, akan aku habisi dia kalau sampai besok tidak datang" Seru Imas lantang sambil mengangkat telunjuk tangan kanannya.
Candrawati tertawa, "sebelum kamu menghabisi adipati, kamu akan dikubur duluan", " Pokoknya kamu harus menemaniku sampai adipati datang"
Imas mengangguk, mengusap kepala candrawati lembut.
Malam menjelang larut, Setelah menidurkan putra pertama Candrawati, Imas masuk kedalam kamar yang sudah ia persiapkan sebelumnya.
"Pokoknya kalau ada apa-apa panggil aku ya"
Pesannya pada Candrawati sebelum tidur, Candrawatipun masih tampak lemas, jadi Imas memutuskan untuk istirahat lebih awal.
Beberapa lentera telah dimatikan, menyisakan cahaya redup di ruang tengah dan halaman.
Kapan-kapan lagi:)
♡
YOU ARE READING
Belum usai
Fantasyketika potensi yang kompeten kalah oleh otoritas yang mencengkram kuasa mutlak. Inilah kisah anak panglima menemukan kisah miliknya sendiri bukan buatan manusia lain, kebebasan, pengakuan, cinta dan kuasa.
