Blueshift

62 1 0
                                        

Aku hanya menulis saat duduk di sini, memesan sesuatu yang ditawarkan oleh kafe. Tidak ada tempat spesifik, aku tak keberatan yang manapun. —Dipikir lagi mungkin aku lebih memilih tempat yang menawarkan kehegemonian dari tempat yang hening dan estetik, namun tetap harmonis dengan keramahan pelayanan. Soal sajian, aku tak terlalu peduli. Toh, yang kupesan biasanya hanya secangkir kopi. Yang pasti saat aku menulis, dan membawa kamus bahasaku yang begitu tebal, aku tak ingin ada mata yang melirik-lirik mempertanyakan identitasku. "Sialan! Aku bukan penulis!" dalam hatiku.

Aku tak akan bilang itu mudah, mencari tempat dengan kriteria itu. Kawan, tempat seperti Scarbucks sedari awal sudah di luar pembicaraan. Bukan berarti aku tidak berani membayar mahal untuk mendapat kenyamanan yang kucari, namun menggunakan 0,5 persen dari gajiku hanya untuk membeli secangkir kopi seperti tak benar.

Kafe ini sendiri memenuhi semua kriteria di atas, plus: tempat berlantai tingkat dan entah kenapa-mungkin ada hubungannya karena tempat ini masih baru-pelanggan yang ada saat ini hanyalah aku seorang diri. Duduk sendiri di pojokan di lantai dua; mungkin saja pegawai kafe, -atau mungkin lebih tepatnya kubilang warung kopi-sedang menatapku curiga. Untuk yang satu itu aku bisa kompromi. Toh, aku membayar mereka. Jadi peranku di sini lebih superior, kan (?). Harusnya begitu, kan?

Kembali ke laptop, ini pertama kalinya aku menulis yang seperti ini. Yang biasa kulakukan ialah memasukkan hal-hal tak masuk akal yang tak mungkin pernah terjadi di dunia nyata ke dalam heterokosmosku. Tak pernah sekalipun aku menciptakan seperti yang sekarang kulakukan, 'menulis sebuah surat untuk diriku di masa depan,'

"

Kepada diriku di masa depan. Lihatlah dan berikan tanggapanmu pada diriku saat ini. Bukannya aku menghadapi krisis eksistensialisme atau apa, tapi aku ingin kau bisa mengenang aku sejelas mungkin.

Aku pria 30 tahun. Tinggal sendirian, tak menikah. Pekerjaan atau pendapatanku tak ada hubungannya. Hanya pekerjaan biasa yang semua orang mampu melakukannya. Mungkin tampangku? Seharusnya bukan itu. Ibuku selalu bilang aku ini orang tertampan yang dikenalnya. Meskipun pastinya itu dilebihkan sedikit, tapi semestinya tak mungkin terlalu jauh, kan? Aku tak pernah benar-benar merasakan 'kesulitan hidup'. Mengenai kudapan, aku sangat suka kopi, mungkin saja kecanduan. Selama itu tak manis aku pasti sangat menikmati setiap detik tegukannya. Tak ada teman yang cukup melekat. Ada satu teman perempuan, tapi aku tak terlalu ingin menganggapnya seorang teman. Satu hal dariku yang kupikir membedakan ialah seberapa seringnya waktu kusia-siakan hanya untuk membayangkan suatu konsep. Di saat ada perdebatan, seruan, orasi dan sejenisnya, aku seketika bisa mengembara di dalam pikiranku. Mencoba memecahkan teka-teki yang aku tahu, jawabannya sebenarnya tidak pernah ada.

Hari ini di suatu koridor di kota, ada sekumpulan orang-orang di depan seorang yang berkhotbah. Aku yakin kebanyakan ialah orang yang kebetulan saja lewat di jalan itu. Kultur negara ini yang memposisikan dirinya sendiri di antara teokrasi dan demokrasi, dengan batas-batas yang kabur di antara keduanya, membuat segala hal yang menyangkut teologi kurang lebihnya holistik dan menjadi batas yang tak boleh dijamah. Yang disampaikan pengkhotbah intinya ialah menceritakan betapa jelek dan buruknya oligarki dan bagaimana seharusnya bersikap mengenai itu. Semua cool dan oke-oke saja. Sampai di bagian, 'Mereka dan sistem yang dijalankannya itu kafir dan tak ada rahmat yang datang bagi yang mengikutinya.' 'Perundang-undangan yang dicanangkan itu bertujuan menutup pengkritik, agar mereka bisa semena-mena dengan kekuasaan yang dijalankan.' entah mengapa kepalaku pening memikirkan benar tidaknya, atau dasar dari pernyataan tersebut. Ujung-ujungnya semua hanya bermuara ke 'Sains vs Tuhan', ranah yang lebih memusingkan lagi untuk dipikirkan. Tak ada yang berbicara atau menampik. Urusan kepercayaan tak dapat melebihi dari masing-masing individu. Orang yang tak peduli hanya berjalan seolah tak terjadi apa-apa. Siapa yang ingin menerima hardikan dan tudingan penista di wilayah yang meng-pariakan yang demikian. Kurang lebihnya aku tidak nyaman dengan keopresifan dari paham dan falsafah di tempat itu.

Mémoire: Décalage Vers Le BleuStories to obsess over. Discover now