• b a b 01

303 54 23
                                        

[s e r e n d i p i t y]

•••

Mempercepat langkah kaki, gadis dengan rambut yang di kuncir kuda itu hampir saja terlambat masuk ke sekolahnya. Dikarenakan drama bensin habis saat sang Papa mengantarnya tadi, Namira jadi kehilangan hampir banyak waktunya. Ia bahkan melewati gerbang sekolah di saat beberapa detik lagi gerbangnya tertutup.

"Namira, rok lo ada bercak merahnya!" seru seorang siswi sekelasnya yang langsung berlari mendahului Namira.

Namira menghentikan langkahnya. Memutar sedikit badan, ia menarik bagian rok belakang ke depan untuk melihatnya. Benar saja, ada bercak merah di sana. Ia berdecak. Kesal pada dirinya sendiri.

Memutar penglihatan, hingga ia menemukan sebuah jaket di atas motor yang terparkir di sana. Ia buru-buru, lantas mengambilnya dan mengikat bagian lengan jaket itu di bagian pinggangnya.

"Siapa pun yang punya jaket ini gue pinjem dulu," ucapnya lalu berlari lagi menuju kelasnya.

Menaiki satu persatu anak tangga dengan tergesa-gesa karena ia tahu pembelajaran di kelas pasti sudah dimulai. Ia sangat berharap akan diizinkan masuk meski ia terlambat. Hanya kali ini saja, ia akan berjanji tidak akan terlambat lagi ke sekolah.

Sampai di depan kelasnya, ia terdiam. Kelasnya itu sudah dikunci dari dalam, maka tidak ada kesempatan baginya untuk masuk sekarang. Ia lalu sedikit melangkahkan kakinya dan berhenti di depan jendela untuk melihat ke dalam. Melambaikan tangannya, hingga atensi seorang guru dari dalam tertuju padanya.

Bu Sinta langsung saja berjalan menghampiri Namira dan membuka pintu. Raut wajah yang datar yang ditunjukkan Bu Sinta membuat Namira merasa ngeri. Ia yakin ia akan mendapatkan masalah sekarang.

"Kenapa terlambat?" tanya Bu Sinta. Menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sembari menatap salah satu siswinya dengan tajam.

"Maaf, Ibu. Tadi ada sedikit kendala saat berangkat ke sekolah," jawab Namira sejujurnya.

"Sudah. Apapun alasannya, kamu tetap terlambat dan kamu harus mendapat hukuman. Berdiri di depan tiang bendera sampai pelajaran ibu selesai!" tutur Bu Sinta membuat Namira seketika membulatkan matanya.

Yang benar saja? Matahari sudah mulai naik, berarti ia harus berdiri panas-panasan selama satu jam? Namira merasa tidak setuju, tapi apalah daya. Ia salah, maka ia harus menerima hukumannya. Menundukkan kepalanya, Namira malah terdiam.

"Ayo! Tunggu apa lagi?" tanya Bu Sinta.

Mengembuskan napas, mau tidak mau Namira harus meninggalkan kelasnya untuk pergi ke lapangan.

Melangkahkan kaki dengan lemas, Namira menekuk wajahnya. Masih pagi, ia sudah mendapat banyak kesialan saja. Tidak bisakah semesta berbaik hati padanya di hari Jum'at yang cerah ini?

Sampai di lapangan, Namira lalu berdiri tegap di depan tiang bendera. Mengangkat tangan dan membentuk posisi hormat, ia mendongakkan kepalanya.

"Aduh, mana sampe satu jam lagi." Ia bermonolog. Ia tidak biasa seperti ini. Bahkan sebelumnya ia tidak pernah mendapat hukuman karena terlambat masuk ke kelas.

Ia adalah salah satu murid dengan nilai terbaik di sekolahnya. Ia tidak pernah sekali pun membolos apalagi membuat kesalahan. Namun, hari ini ia merusak nama baik yang sudah ia bangun selama bersekolah di sana. Ia merasa kecewa pada dirinya sendiri.

"Bego banget, sih Nami ... Tau gitu, harusnya tadi lo nurutin Papa buat naik angkot aja," gerutu Namira.

"Ini gue gak bawa rok ganti lagi. Masa gue harus pake nih jaket sampe pulang sekolah? Mana gue gak tau lagi siapa yang punya jaketnya."

Asik menggerutu, sampai ia tidak sadar ada seseorang yang sedang memerhatikannya dari lantai atas sana. Dengan sangat fokus pemuda itu mengamati Namira dari tempatnya.

"Loh, itu kan jaket punya gue."

•••

•••

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

•••

d i s c l a i m e r ! !

Jika mendapati kesamaan nama tokoh, latar tempat, ataupun adegan, itu bukanlah bentuk plagiasi melainkan sebuah ketidaksengajaan karena cerita ini murni berasal dari pemikiran penulis sendiri.

Cerita ini dilindungi oleh UUD Republik Indonesia No. 28 Tahun tentang  Hak Cipta. Penulis tidak mengizinkan penggunaan atau penggandaan cerita ini ke dalam bentuk apapun tanpa izin. Tindak plagiarisme akan dikenakan sanksi yang berlaku.

Jika kalian menemukan cerita yang serupa, tolong ambillah tindakan bijak sebagai pembaca. Cerita saya yang berjudul 'Serendipity' hanya dipublikasikan di akun Wattpad @/ddahiikun
Sampai kapan pun penulis tidak mentolerir penggandaan dalam bentuk apapun.

Cerita ini tidak ada kaitannya dengan kehidupan di dunia nyata para Idol yang menjadi pemeran.

Jadilah pembaca yang bijak. Jangan lupa untuk memberikan vote juga komentar. Silakan memberikan kritik dan saran, asal dengan bahasa yang sopan.

Sekian, Terima kasih

♡♡♡

SerendipityStories to obsess over. Discover now