PART 1: MENCOBA

74 4 0
                                        

"Kak, aku mau nanya sesuatu boleh?" Aku sudah bosan mengulur waktu dengan memandangi ombak yang saling berkejaran sore itu.

"Iya, boleh." Balasnya sambil mengetik sesuatu di gawainya.

"Bisa fokus ke percakapan kita dulu nggak, Kak?" Entah kenapa, sedari tadi ia sibuk dengan gawainya.

Dia menatapku dan buru-buru meletakkannya. "Oh iya-iya."

"Lagi chat sama siapa?"

"Temen, kok." Jawabnya santai.

"Oke."

"Kamu mau nanya apa?"

Aku sedikit menimbang-nimbang, apa pertanyaan itu harusnya kupendam saja. "Apa Kak Juna masih punya perasaan sama aku?" Pertanyaanku itu tidak bisa lagi ditahan.

"Bukannya Kaka pernah bilang, kamu itu udah kayak adik aku." Baiklah. Aku tidak dicintai lagi ternyata.

"Kaka masih ingat kejadian beberapa hari yang lalu?"

"Yang mana?" Dia mengerutkan keningnya, pertanda Dia memang melupakan kejadian malam itu.

Aku mencoba mengingatkan. "Malam itu, yang Kak Juna ngira aku marah."

"Kamu emang marah, kan." Oke. Dia sudah mengingatnya.

"Kecewa, Kak Juna." Tegasku.

"Udah selesai, kan? Kaka udah minta maaf."

"Tapi, aku bilangnya masih butuh waktu buat mikir semuanya lagi kan, Kak?"

"Iii-iya, sih."

Sebelum berdiri Aku tersenyum tipis pada Kak Juna." Aku boleh pergi, nggak?" Pertanyaan macam apa lagi ini? Dasar aku.

"Pergi?" Tanyanya dengan nada bingung, "Kemana?"

Pasir itu terasa sangat lembut di telapak kakiku. "Iya, pergi dari kehidupan Kak Juna." Aku berbalik menatapnya yang ternyata sudah berdiri dari duduknya.

"Aku kan udah minta maaf, Git. Malam itu aku bener-bener capek. Kamu tau sendiri." Kak Juna menyusulku menuju tepi pantai, mendekati ombak yang saling berkejaran.

"Tapi, aku mau pergi Kak." Aku menoleh padanya yang sudah berdiri sejajar denganku, membiarkan kaki kita basah karena air laut.
"Nggak bisa, Git. Kamu satu-satunya yang aku punya sekarang."

"Cuman aku yang pergi. Kak Juna masih ada yang lain."

"Jahat kamu, Git. Kamu tau keadaan aku sekarang bagaimana. Aku benar-benar terpuruk."

"Makanya itu Kak, beberapa hari ini aku coba lawan ego aku buat pergi. Karena apa? Karena buat temenin Kak Juna di hari-hari terberat, Kaka."

"Ya, makanya jangan pergi."

"Cuman aku yang pergi, Kak." Ucapku sedikit memelas.

"Nggak bisa." Ujarnya tegas.

Aku diam. Berpikir kalimat apa lagi yang bisa kukatakan agar Kak Juna mau mengakui sesuatu.

"Yasudah, aku bakal pergi kalau Kak Juna sudah punya pacar?"

"Sudah." Pengakuan ini yang ingin kudengar. Ternyata rasanya lebih menyesakkan dari yang Aku bayangkan.

"Sejak kapan?"

"Baru."

"Kapan, Kak?" Suaraku mungkin sedikit bergetar, tapi kuharap Kak Juna tidak menyadarinya.

"Yaaa, baru pokoknya."

"Ya, barunya kapan Kak?"

Dia diam.

SEA & YOUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang