Chapter 1

5 1 0
                                        

Hari ini sabtu, sore hari duduk dipinggir danau Serpentine sangat menenangkan. Hanya berusaha melupakan beban selama sesaat. Sore ini sangat bersahabat sepertinya, karena di pinggir danau ini cukup sepi biasanya akan ramai orang bukannya tenang aku akan pusing melihat banyak orang mondar-mandir.

Ah ya, kini aku kembali teringat pada telfon kakakku kemarin,

"Kai kuharap kau bisa pulang. Mama sakit kai, temui lah ia. Kuharap kau bisa memahami keadaannya,"

Kenapa? Itulah yang kupikirkan. Kenapa aku harus menemuinya saat dulu ia tak pernah mengharapkan ku.

Sikapnya yang berbeda saat denganku seakan menunjukan bahwa ia dan aku tak akan bisa menyatu.

Aku merasa bebas sekarang, untuk beberapa tahun terakhir kuliah ku di London. Sangat sulit mendapatkan beasiswa di University of London, aku mengorbankan banyak waktu hanya untuk berkuliah disini. Tidak, tidak hanya kuliah tapi untuk mendapat kebebasan dari tekanan dari tempat yang disebut rumah.

Bisa berada jauh seperti ini aku mendapat orang-orang baru yang lebih baik dan mampu bersosialisasi dengan apa adanya diriku tanpa ada yang harus mendikte ku bagaimana cara bertemu orang baru.

Aku tak menyalahkan orang-orang itu mereka pasti punya alasan saat melakukan semua hal itu. Apapun alasan itu aku tak tau apakah itu memang untuk kebaikanmu atau hanya untuk mengontrolku agar sesuai seperti keinginan mereka.

Banyak hal terjadi ditempat yang disebut rumah. Banyak hal yang tak aku inginkan selalu terjadi, sesak hanya itu yang kurasakan.

Lalu apakah aku harus pulang ketempat yang membuatku sesak? Ini membutuhkan waktu agar aku bisa berpikir. Aku tak ingin merasa sesak kembali walau hanya sesaat.

###


Oktober 2010

Hari ini hari pernikahan ayah. Pernikahan kedua ayah setelah sekitar 2 tahun bunda meninggal. Wanita itu seperti orang baik.

Sebelumnya ayah sudah mengenalkannya pada kami, aku dan kakakku, Issa. Selama beberapa bulan ia menjadi teman, mungkin lebih tepatnya teman Issa. Ia sesekali mengajak mengobrol dan bermain dengan ku, tapi terasa berbeda saat ia bersama Issa.

Lalu tiba saat dimana ayah bertanya apakah ia bisa menikah dengan wanita itu. Dan Issa langsung setuju saja mungkin karena Issa sudah merasa cocok dengan wanita itu. Bagaimana tidak cocok jika mereka sering menghabiskan waktu bersama.

Lalu aku? Aku hanya mengangguk. Aku bahkan masih belum paham apa itu menikah tapi yang ku pahami ia akan serumah dengan kami dan menjadi bagian dari keluarga kami, bayangkan saja aku masih 8 tahun saat itu. Sekalipun aku bilang tidak setuju mereka pasti bertanya kenapa aku tidak mau,  dan pastinya mereka akan mematahkan alasan yang kupunya dan pada akhirnya aku harus setuju jadi langsung saja aku mengangguk.

"Kai! Ayo berfoto bersama," ajak Issa saat aku duduk di kursi tamu bagian depan.

Aku melenggang bersamanya sambil ia menggandeng tangan ku menuju pelaminan. Melihat ayah begitu bahagia aku ikut bahagia, namun ada sesak yang tertahan.

Ini adalah pernikahan sederhana, tidak banyak mengundang orang hanya kerabat dekat dan teman dekat ayah dan wanita itu.

Kata ayah dan Issa wanita itu akan menyayangi kami selayaknya bunda menyayangi kami. Apakah ini benar, apakah ia akan benar-benar menyayangi kami. Tapi ia seperti biasa saja dengan ku, sikapnya tidak sama saat ia bersama Issa.

Cekrek

Suara jepretan dan cahaya kamera berkelebat  menandakan kami sudah berfoto. Semua orang memandangi kami yang sudah berfoto, memuji bagaimana ayah ku memilih wanita yang tepat untuk dirinya dan kami. Mereka memuji keluarga kecil kami, ya ia sudah menjadi keluarga bukan karena sudah menikah dengan ayahku.

MemoriWhere stories live. Discover now