Happy Reading
🍁🍁🍁🍁🍁
Di dalam sebuah ruangan kamar bernuansa klasik dengan dominasi warna coklat muda, seorang pria kisaran umur lima puluh tahun duduk di tepi ranjang dengan ditemani istrinya.
Wajah pria itu nampak merah padam dengan guratan amarah dan rasa kesal yang kentara di wajah senjanya. Tangannya mencengkram kuat kepalanya yang sudah ditumbuhi beberapa uban, kentara sekali menggambarkan bahwa dia saat ini sedang menanggung beban pikiran di kepalanya.
"Sampai kapan dia mau seperti itu terus, Mah?" Satu kalimat keluar dari mulut pria itu dengan nada sedikit bergetar karena menahan rasa kesal yang membuncah di dada.
Pria itu menatap lurus ke arah sang istri yang saat ini wajahnya sudah mulai menyendu.
"Mamah udah nasihatin dia berkali-kali, Pa, tapi hasilnya tetep nihil. Omongan Mamah seperti angin lalu di telinganya," lirih wanita itu dengan wajah kecewa.
"Papa bener-bener gak habis pikir. Mulai dari sekretaris, receptionist, office girl bahkan anaknya tukang warung depan kantor pun semuanya dia pacarin. Tapi apa? Gak ada satu pun dari wanita itu yang dia seriusin. Mau sampai kapan dia main-main terus seperti itu, umurnya udah tua, bukannya mikir buat nikah, malah sibuk main-main sama wanita."
"Sabar, Pa. Mungkin Bastian masih belum siap buat menikah. Tapi Mamah bakal terus berusaha nasihatin dia biar dia berubah dan gak main-main lagi."
Pria itu hanya mengangguk pelan.
Sampai akhirnya atensi pasangan suami istri itu teralih kala seseorang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar mereka.
"Mamah sama Papa lagi ngomongin aku, ya?" Kalimat itu terlontar dari mulut pria muda dengan tatapan mata menuntut penjelasan.
Dialah Bastian Devano Janutama. Putra sulung dari seorang Wiliam Janutama, sang pengusaha kaya pemilik PT Janutama Group, salah satu perusahaan yang bergerak di bidang properti. Saat ini, Bastian menjabat sebagai Presiden Direktur di perusahaan tersebut.
Melihat Bastian yang sudah berdiri di ambang pintu, Wiliam pun langsung berdiri dengan menghunus tatapan tajam ke arah putra sulungnya.
"Kalo iya memangnya kenapa? Bagus kalo kamu udah denger semuanya. Jadi Papa gak perlu lagi repot-repot jelasin sama kamu."
Bastian memutar bola matanya dengan malas. Sembari melonggarkan dasi yang melingkar di lehernya, dia pun berucap, "Papa kenapa sih selalu aja ngurusin masalah ini. Aku bosen dengernya."
Wajah Wiliam kembali merah padam. Emosi yang semula sudah mereda, kembali tersulut. Dia pun langsung berjalan dengan cepat mendekati Bastian, hingga jarak antara ayah dan anak itu hanya sekian senti saja.
"Kalo kamu memang belum siap menikah, seharusnya kamu jaga sikap. Jangan main-main dengan anak orang jika tidak ada niat keseriusan."
"Kamu gak tau gimana malunya Papa saat denger kalo di kantor kamu sering jadi buah bibir karena hobi kamu yang sering gonta-ganti cewek. Kamu pikir itu keren? Hah?"
"Tidak sama sekali! Justru perilaku kamu yang seperti itu sangat mencerminkan kelakuan laki-laki yang tidak bermoral."
Wiliam berkata dengan keras dan penuh penekan di depan wajah putranya. Bastian langsung mengangkat wajah. Dia merasa tidak terima dengan ucapan sang ayah yang kali ini menurutnya terlalu kasar dan berlebihan.
"Papa udah habis kesabaran. Kali ini Papa bener-bener harus tegas." Wiliam menjeda kalimatnya. Dia menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya kembali bersuara.
"Ingat, Bas. Kalo kamu masih belum berubah juga, dan jika dalam jangka waktu satu tahun ini kamu belum juga memiliki niatan untuk menikah. Maka, jangan salahkan Papa jika ahli waris harta Papa termasuk juga perusahaan, semuanya akan Papa berikan untuk Bryan." Wiliam berkata dengan begitu tegas, kemudian meninggalkan Bastian yang saat ini mematung dengan mata terbelalak.
YOU ARE READING
Imperfect Love
RomanceMenjadi istri seorang Bastian Devano Janutama bukanlah bagian dari keinginan wanita muda berparas anggun bernama Ainun Nafisah. Namun, kesalahan ayahnya yang begitu fatal, membuat Ainun tidak punya pilihan lain selain menerima tawaran pernikahan dar...
