"Zea!" Bentak seorang wanita berusia sekitar 30 tahun itu pada anak gadisnya yang masih terbaring di ranjang.
"Keluar kamu! Hei!" Wanita yang tak lain adalah ibunya itu menggedor-gedor pintu kamar sang anak dari luar dengan keras.
Gadis yang dipanggil Zea itu mengeluh, kenapa pagi harinya selalu saja begini? Tidakkah indah pagi hari yang damai dengan suara kicauan burung? Sungguh, Zea merindukan masa-masa itu.
Ia merangkak lesu turun dari tempat tidurnya, meregangkan sedikit ototnya yang kaku akibat terlalu lama tidur.
Sebelum membuka pintu, ia menarik napas panjang dan menghembuskan nya secara perlahan. Ia siap! Harus siap dengan hari-hari menderitanya lagi.
Ceklek...
Ia membuka pintu, lalu ...
Plakkk!!
Sebuah sambutan selamat pagi yang indah dari sang ibu. Zea meringis sakit, namun apa daya, tidak akan ada yang memperdulikannya.
"Siapa yang ngambil uang saya di kamar? Pasti kamu kan?" Tanya ibunya dengan keras.
Zea menggeleng seraya memegang pipinya yang panas akibat tamparan tadi, "bukan zea mah, Zea bahkan ga masuk ke kamar mama." Jawabnya.
Arghhhh
Rambutnya di tarik oleh sang ibu, rasanya sangat sakit.
"Kalau bukan kamu, siapa lagi? Cuma kamu yang ada dirumah ini selain saya!" Bentak sang ibu.
Brukkk
Zea meringis, badannya didorong kebelakang dan membentur tembok.
Tiba-tiba suara dering telepon menghentikan aksi ibunya.
"Hallo jeng, kenapa? Arisan hari ini jadi, kan?" Tanya ibunya kepada lawan bicaranya di sebrang telpon.
"..."
"Oh, jadinya sekarang ya? Saya langsung otw deh. Bye, sampai ketemu ya." Setelah mematikan telpon, ibunya memberi tatapan tajam pada zea, lalu bergegas pergi.
Zea masih terduduk sambil menunduk dengan penampilan yang berantakan. Rambutnya acak-acakan dengan pipinya yg merah.
"Shit." Umpat zea seraya mengelus pipinya.
Ia segera bergegas masuk kedalam kamar, bersiap untuk berangkat sekolah.
Jam sudah menunjukkan pukul 7.20 tandanya sekolah akan dimulai 40 menit lagi. Jarak dari rumahnya ke sekolah cukup jauh, ia tidak yakin bisa sampai disana tanpa telat.
Zea melihat dirinya di cermin, memoles sedikit foundation pada pipi memarnya dan menggerai rambut panjangnya agar bisa menutupi pipi.
Sip, ia siap berangkat!
Saat hendak keluar dari rumah, seseorang memanggilnya.
"Neng Zea, punten." Panggil mbok darmi, dia pembantu dirumah itu yang biasanya datang pagi dan pulang sore.
"Iya mbok?" Tanya zea.
"Ini neng, mbok Nemu uang di saku baju nya nyonya. Untung belum ke cuci." Ujar mbok Darmi sambil menunjukkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada zea.
"Ah gitu ya, em tolong simpen di kamar mamah aja ya. Zea udah telat soalnya." Kata zea.
"Oh yaudah atuh neng, mbok simpen di kamar nyonya ya." Jawab mbok darmi.
"Yaudah, zea berangkat ya."
"Iya neng, hati-hati." Jawab mbok darmi.
Setelah itu, Zea berangkat sekolah.
YOU ARE READING
Frenzone
Teen FictionBaca aja yu, siapa tau suka kan? Wkwk 🧚Cover by : Pinterest 🧚 Ini asli cerita karangan Author! 🧚 Jika ada kesamaan nama tokoh/tempat ya maap kan g sengaja 🧚 Oiya satu lgi, author dpt inspirasi buat cerita ini pas gabut dah yu baca ajaaaa
