Di sebuah desa yang cukup makmur, pegunungan menutupi seluruh tempat seperti sebuah penghalang bagi siapapun yang ingin memasuki tempat. Kali ini tempat tersebut di warnai keindahan dari pernikahan putra tunggal keluarga Hanagaki.
Perbatasan bahkan di tutup untuk merayakan pernikahan tersebut. Sudah menjadi hal umum untuk merayakan pernikahan atau hajat lain dalam bentuk mewah. Dan ini berlaku untuk semua warga. Sehingga mereka bisa melihat renda gading menghentikan langkah untuk memasuki jalan yang di sulap menjadi ruang pesta bagi warga sipil.
Jauh di dalam taman, Tachibana Hinata berdiri sendirian, menatap melewati semak-semak mawar. Matanya tampak terpaku pada pemandangan pegunungan di luar yang tampak membentang selamanya. Dia baru saja pindah dari desa jauh dan menuju ke tempat ini. Dia berjalan jauh untuk menuju kota dan melewati tempat ini. Dia membeku di tempat, Hinata tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak pernah mengantisipasi menemukan dirinya di bawa oleh arus beberapa warga yang dengan ramah memintanya datang.
"Pernikahan siapa?" Tanya Tachibana Hinata.
"Ah, kalian bukan dari sini bukan? Pengelana?" Hinata mengangguk dan Naoto yang akhirnya bisa berdiri disisi saudaranya ikut tersenyum sopan. "Benar, kami adalah musafir. Baru saja berjalan dari desa di selatan."
Wanita tua itu mengangguk, "Kalau begitu lihat yang ada di atas sana."
Hinata menoleh padanya, menyadari bahwa dia tidak sendirian untuk melihat, melainkan semua orang. Mulut terbuka karena terkejut, wajahnya memerah.
"Yang cantik itu bernama Takemichi, putra tunggal Hanagaki Tua. Sementara suaminya adalah Manjirou. Dia mempersunting Takemichi setelah satu tahun tinggal disini. Lihat, betapa cocoknya mereka."
Sepasang pengantin itu indah dalam guyuran hujan daun Momiji. Seorang Ger cantik dan Pria tampan dengan Haori hitam yang membalut tubuhnya.
Hinata membiarkan matanya menelusuri panjang tubuh mereka dalam gaun pengantin begitu indah sehingga dia hampir tidak tahan untuk tidak mengabadikan mereka.
"Apakah kita bisa melihatnya dari dekat?"
"Nee-san."
"Ayolah Naoto, mereka sangat rupawan. Aku tidak tahan untuk melukis mereka."
Wanita tua itu tertawa, Naoto hanya bisa pasrah saat Kakak perempuannya terus membujuk. "Jika kau ingin mengambil gambarnya. Kau bisa melukisnya dari sudut sana."
"Terimakasih, Baa-chan."
Wanita tua itu tertawa karena keluguannya dan berjalan ke arah prasmanan yang sedang berlangsung.
Naoto mendesah panjang dan mengikuti Hinata untuk melukis pasangan pengantin baru itu.
Hal-hal berlangsung begitu lambat, senja mulai datang dan orang-orang desa berkurang sementara keluarga Hanagaki sendiri sedang membersihkan tempat.
"Selesai!"
Kakaknya berseri-seri.
Naoto mengangguk pada hasil karyanya.
Mereka akan selalu luar biasa.
"Haruskah kita bermalam disini?" Hinata bertanya pada Naoto, merapikan peralatan lukisnya. "Perjalanan ke kota akan memakan waktu tiga hari."
"Baiklah, kita cari tempat penginapan disini."
Mereka tidak menyadari bahwa seseorang telah mendengar percakapan keduanya. Dan betapa terkejutnya seseorang itu adalah Pengantin yang mereka lihat. Dari dekat, Gher cantik bernama Takemichi memang selembut perkirakannya.
"Apakah kalian sedang mencari penginapan?"
"Ah ya," Para Tachibana tergagap saat ketahuan menatap terlalu lekat. Wajahnya memerah, Ger itu tersenyum lebar. Biru besar dari matanya berkilau indah, seolah dunia yang busuk ini tidak mempengaruhinya. "Kami sekarang akan mencarinya."
ESTÁS LEYENDO
AMARYLLIS (MAITAKE)
Historia CortaArt by @pizza_oisii6 . "Sebenarnya apa kalian inginkan dengan suamiku?"
