Bab 1 - Copet

23 5 0
                                        

"Katanya, hidup itu tentang sebuah pilihan. Jika takdir mempertemukan dua orang dalam satu waktu, mereka bisa memilih untuk tetap bersama atau saling memilih jalan masing-masing"

***

Stasiun Bogor selalu menjadi gerbang menuju Jakarta. Di hari kerja lautan manusia berbondong-bondong merebut si ular besi nan kokoh itu seolah kereta menuju Jakarta hanya ada satu di stasiun tersebut. Jarang sekali ada yang terlihat berjalan santai di stasiun Bogor jika pagi hari seperti saat ini.

Para pejuang rupiah tampak tergopoh-gopoh, tak jarang mereka asal menabrak tubuh orang lain agar bisa sampai ke kereta tujuannya. Namun, sayangnya sekuat apa pun mereka berlari dan menabrak, si ular besi itu selalu saja tampak penuh.

"Aduh!" Keara meringis ketika berjalan menuju loket untuk mengisi ulang kartu multitrip miliknya, terlihat seorang bapak-bapak meminta maaf padanya.

Keara hanya mengangguk sambil memegang bahunya yang terasa sakit karena benturan tersebut.

Gadis berambut pendek itu meneruskan langkahnya menuju loket, antre adalah sesuatu yang tidak bisa ia hindari jika sudah berada di loket. Keara merasa beruntung karena dengan kartu multitrip-nya ia hanya sesekali mengantre di loket.

Namun, saat giliran Keara yang tiba di loket tersebut ia mencari-cari dompetnya yang hilang entah ke mana. Wajah Keara memerah, ini adalah pengalaman pertamanya kehilangan dompetnya.

"Ah, saya cari dompet saya dulu, Mbak." Keara mengambil kembali kartu multitrip yang sudah ia serahkan ke petugas loket.

Keara melipir ke pinggir dan merogoh saku dan juga tasnya berkali-kali.

"Ke mana hilangnya dompet itu?" tanya Keara panik, ia sudah terlambat ke sekolahnya. Namun, masih harus mencari dompetnya yang tiba-tiba saja tidak ada di dalam tasnya.

Sesekali Keara merasa gelisah, ponselnya pun ikut raib. Ia tidak tahu harus bagaimana dan meminta tolong siapa jika kejadian seperti ini. Hari ini adalah pertama kalinya Keara memakai transportasi umum dan sialnya itu karena dirinya sendiri yang mau naik kereta padahal dia belum tahu bagaimana situasi di stasiun dan lain sebagainya.

Pakaian rapinya terasa tidak berguna kalau Keara harus kembali ke rumah dan melapor ke ibunya yang ada bukannya dibantu malah dimaki.

Keara sesekali melihat ke sekelilingnya, tidak ada yang bisa membantunya dan dirinya merasa frustrasi kemudian ia melangkahkan kakinya menuju kursi kosong yang berada di dalam stasiun dan meratapi nasibnya.

"Mbak, ini dompetnya bukan? Tadi saya--"

"Nah, kan!! Lo yang copet dompet gue 'kan? Dasar sialan!" teriak Keara heboh memukuli seorang pemuda berpakaian seragam putih abu-abu. Ya, pemuda itu seusia dengan Keara, hanya saja Keara sedikit berbeda. Gadis itu masuk sekolah non formal alias paket C.

"Heh, apa-apaan, sih? Gue bantuin lo, ya. Kok lo malah--"

"Mana ada maling yang mau ngaku? Kalau maling ngaku itu penjara penuh!" teriak Keara, bahkan ia memanggil satpam untuk menggeret pemuda berpakaian putih abu-abu itu.

Keara mengambil paksa dompet dan ponselnya dari tangan pemuda yang tampak kewalahan menghadapi pukulan Keara, gadis itu memang bisa sangat bar-bar jika sudah kepepet seperti saat ini. Hampir saja Keara binasa hanya karena kehilangan dompet dan ponselnya. Masalahnya adalah ibunya tidak akan segan-segan memaki hanya karena kedua barang berharga itu lenyap. Makanya, Keara menjadi bar-bar seperti itu.

"Pak, sumpah saya bukan maling. Saya malah bantuin dia kejar maling, malingnya udah kabur," kata pemuda itu membuat Keara menatapnya sinis. Mana dia percaya alasan klise seperti itu, di jam sibuk seperti sekarang orang-orang tidak ada yang memperhatikan satu sama lain, kecuali satpam yang berjaga.

"Udah bawa aja, Pak! Gara-gara ini orang saya jadi terlambat," kata Keara yang menatap pemuda itu digeret oleh satpam.

Keara bernapas lega ketika satpam sudah membawa pencopet tersebut dari hadapannya.

Gadis itu kembali mengantre di loket untuk mengisi kartu multitrip yang sempat tertunda tadi. Sesekali pikiran tentang pemuda itu mengganggu pikiran Keara, sebenarnya Keara tidak tega bertindak sejauh itu padanya. Namun, dompet dan ponsel Keara adalah hidup dan matinya.

Bayangkan saja di dompetnya ada dua buah kartu ATM, KTP dan uang dua ratus ribu untuk seminggu. Sedangkan di ponselnya ada data-data penting, harganya pun cukup mahal dan tentu saja membuat Keara menjadi gadis yang tak akan memberikan ampun untuk seseorang yang mencopet kedua benda itu.

"Pak, sumpah bukan saya yang copet. Tadi saya lihat ada bapak-bapak yang nyenggol gadis itu kayaknya sengaja dan saya lihat dia mengambil dompet dan ponselnya. Terus saya kejar dia, apa kayak gitu artinya saya yang salah?" tanya Abian, dahinya mengerut kesal.

"Duh, Bian. Saya kan sudah pernah bilang, kamu tidak perlu bantu-bantu orang lagi. Gak semua orang berpikiran positif, sudahlah saya harus kembali bekerja," kata Heru, PKD di stasiun Bogor.

"Apa yang dia katakan, bukannya petugas PKD seharusnya berpihak sama gue?" tanya Abian kesal.

Pemuda itu memilih untuk tidak berangkat ke sekolahnya yang berada di Jakarta Pusat. Sekolah yang ia pilih begitu jauh, tapi ia menikmati setiap perjalanan dengan rangkaian ular besi tersebut walaupun harus dihukum berkali-kali karena datang terlambat.

"Hati-hati pintu akan ditutup"

Keara melihat sekelilingnya yang sudah kembali ramai, padahal beberapa menit yang lalu kereta menuju Jakarta sudah berangkat. Namun, stasiun Bogor tidak pernah mati penumpang apalagi di jam kerja seperti sekarang.

Keara bersyukur bahwa dirinya mendapatkan duduk walaupun di kursi prioritas.

"Mbak, berdiri saja, ya. Kasih tempat duduk pada nenek ini," kata petugas kereta yang membuat Keara mengerutkan dahinya merasa heran padahal dia yang lebih dahulu mendapatkan tempat duduk, tapi kenapa harus dia merelakan tempat duduknya untuk seorang nenek-nenek?

Keara tidak membantah, ia langsung berdiri dan mengambil tasnya yang berada di rak yang berada di atasnya dan berpindah ke gerbong lain karena merasa sesak.

'Fuh, kalau tahu kereta api kayak begini, gue gak akan mau naik' batin Keara sebal sambil berusaha mencari tempat duduk lain yang mungkin saja masih kosong atau paling tidak ada orang yang berbaik hati memberikannya sebuah tumpangan untuk duduk.

Namun, sialnya sepanjang perjalanan dengan rangkaian ular besi itu tidak ada satu pun orang yang berbaik hati memberikannya tempat duduk.

"Stasiun Depok, Depok station."

"Hati-hati pintu akan dibuka!"

Suara-suara dari speaker kereta membuat Keara tersadar sudah beberapa stasiun ia lalui dan untuk mencapai stasiun tanah abang masih sangat jauh, tapi ia belum juga mendapatkan tempat duduk dan lebih sialnya lagi di stasiun Depok jarang sekali orang yang turun di sana bahkan malah bertambah jumlah penumpangnya membuat Keara semakin terhimpit.

"Loh, lo kan yang tadi mal--" teriakan Keara terputus, ia dibekap dengan tangan Abian agar tidak berteriak dan membuat heboh perjalanan kereta itu.

Last DestinationStories to obsess over. Discover now