Argiya POV
"Good Morning Mama Cantikku..." Kataku dari tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua rumah sederhanaku ini.
"Morning Sayang, Anak Mama udah siap aja nih..." Ucap Ibuku sambil tetap melanjutkan acara memasaknya.
Setelah sampai dilantai bawah aku memilih untuk duduk dikursi meja makan sambil memperhatikan Ibu yang tengah sibuk berkutak dengan peralatan masaknya. Setiap memandang punggung Ibu aku selalu merasa bangga terhadapnya, ia berjuang melahirkan dan membesarkanku selama ini. Terhanyut dalam lamunan aku tersadar oleh suara berat Papa dari belakang.
"Giyy... Jangan Liatin Istri Papa Gituh Dong, Papa Cemburu Nih. Nanti Nggak Papa Kasih Jajan Tau Rasa Loh!!" Kata Papa dengan nada humornya.
"Papa Sok-Sok Kayak Pujangga Kurang Garam Aja Pah.." Balasku dengan muka bebek.
"Emang Ada Giy Pujangga Kurang Garem??" Tanya Papa Kepo
"Ada lah Pah, Papa Aja Yang Kurang Update" Balasku sambil memeletkan lidahku kearahnya.
"Siapa Coba??" Tanya Papa lagi
"Yah... Papa Lah Siapa Lagi. Emang Ada Disini Tukang Ngegombal Receh Selain Papa?" Kataku tanpa berniat melihat wajah Papa yang merah menahan kesal.
"Yah Elah Nih Anak, Cantik-Cantik Tapi Pedess!! Kek Mamanya" Ucap Pap pelan namun masih dapat kudengar. Karena malas untuk berdebat dengan Papa lagi Aku lebih memilih mengambil handphone dari dalam saku-ku kemudian memainkannya.
Selang beberapa saat nasi goreng bikinan Mama telah tersaji di atas meja makan lengkap dengan beberapa lauk serta segelas susu untukku.
"Giy Udah Dulu Main Hp-Nya Sayang, Kamu Sarapan Dulu Baru Kesekolah Bukannya Hari Ini Penentuan Kelas Kamukan!!" Kata Mama mengingatkanku, Aku memasukkan hp kedalam tas dan memulai sarapan bersama.
Seusai sarapan Aku-pun berpamitan dengan Mama untuk berangkat ke sekolah. Kenapa Cuma Mama soalnya aku berangkat bareng sama Papa. So pamitannya nanti aja sama Papa kalau udah di Sekolah. Setelah menempu perjalan ke Sekolah sekitar 15 menit, aku pun sampai di Sekolah.
"Pah... Giya Sekolah Dulu" Pamitku sambil mencium tangan Papa
"Iya Sayang, Belajar Yang Rajin Jangan Main Cinta-Cintaan" Pesan Papa sambil tersenyum
"Iss... Papa Apaan Sih" Jawabku lalu membuka pintu mobil dan langsung berlari memasuki gerbang Sekolah yang bertuliskan "SELAMAT DATANG DI SMA ANGKASA". Sekolah yang sangat kuimpikan sejak kecil, akhirnya dengan kerja keras Aku bisa masuk di Sekolah ini.
Kesan pertama yang kudapat saat memasuki sekolah ini adalah hijau, suasana sejuk nan tenang akan kita rasakaan saat masuk ke dalam Sekolah ini. Senyum terus ku ukir di bibirku wajar murid baru harus banyak senyum. Aku melangkahkan kakiku menuju papan informasi, sebenarnya minggu lalu sudah diadakan tes untuk mengetahui penempatan kelas. Terlihat diujung sana papan informasi sudah dipenuhi murid baru yang ingin tahu kelasnya. Aku-pun ikut bergabung mencari namaku, harapanku sih dikelas IPA soalnya, aku malas berhubungan dengan hal-hal yang berbau IPS takut ngak bisa move on, bercanda!!!.
Setelah mencari beberapa saat aku menemukannya rupanya dikelas X IPA 1. Lumayanlah seperti harapanku untuk masuk kelas IPA. Aku-pun memperhatikan denah sekolah untuk mencari keberadaan kelasku, setelah cukup mengerti kulangkahkan kaki menuju tempat tersebut.
Selagi berjalan tiba-tiba ada yang memanggil dari belakang.
"Giyaa... Hey..." Akupun berbalik ternyata dia Anya sahabatku di kecilku dulu.
"Anya!! Kamu Sekolah Disini Juga? Kapan Baliknya Sih? Kok Ngak Ngasih Kabar Sih? Sumpah Kangen Gue!!" Ucapku bersemangat pada Anya.
"Satu-Satu Dong Giy!!" Katanya ngos-ngosan kek abis dikejar sama anjing gila.
"Sorry Nyaaa... Heehehee" Kataku sambil menggaruk kepala belakangku yang tidak gatal.
"Btw, Gue Punya Info Buat Loh Nih!!"Katanya
"Apaan Nya??" Tanyaku mulai kepo dengan Anya
"Kita Satu Kelas Lohhh!!!!" Ucapnya Antusias
"Seriusan Loh?" Kataku Tak Yakin
"Yah Ampun Giy, Serius Masih Aja Ngak Percaya Sama Gue. Pantas Aja Jomblo Melulu Jadi Orang Ngak Percayaan Sih" Katanya yang kubalas dengan kekehan ringan karena tak tahu harus menjawab apa.
Aku dan Anya-pun berjalan menuju kelas kami, sesampai disana agak canggung bagi kami berdua. Yah wajarlah, statusnya masih murid baru. Kami memilih duduk dikursi kedua dri depan papan tulis. Tak butuh waktu lama bel jam pertama berbunyi, guru mata pelajaran bahasa indonesia datang.
"Selamat Pagi Anak-Anak" Sapa Guru tersebut ramah
"Pagi Pak!!" Jawab Kami Serempak, kalau dihitung-hitung ada 32 siswa dikelas ini.
"Baiklah, Perkenalkan Nama Bapak Rudiyanto, Bapak Biasanya Dipanggil Pak Rudi. Bapak Mengajar Pelajaran Bahasa Indonesia.Baik,Tugas Pertama Kalian Adalah Menulis Identitas Teman Kelas Kalian Semua!!" Perintah Pak Rudi, banyak sorakan mengeluh yang terdengar dari belakang. Yah wajarlah merekah bersorak seperti itu, menurutku tugas kali ini kekanakan sekali dikira kami anak SD apa yang harus nulis identitas teman. Mana banyak banget lagihh...
Aku-pun mulai mendatangi satu per satu bangku temanku untuk bertanya-tanya menegnai identitasnya. Aku memulai dari para kaum hawa, selepas semua selesai aku mulai melihat teman laki-laki dikelasku. Penglihatanku mengarah kepada seorang anak laki-laki yang duduk dipojok kiri belakang kelas. Aku melangkahkan kakiku menuju ke anak laki-laki tersebut.
"Heyy... Nama Lo Siapa??" Tanyaku santai
"Arion Glanda Prabu" balasnya pelan dan terkesan cuek
"Tempat Tanggal Lahir?"
"31 Oktober 2001"
"Cita-Cita Lo?" Tanyaku Lagi
"Ngga Ada"
"Ha?" kataku kaget "yakali orang ngga punya tujuan" heranku
Dia hanya diam saja, tak mau berlama-lama Aku memilih berlalu dari hadapannya, jujur aku agak kesal dengan cara dia bicara.
Seusai mendata satu per satu teman kelas, teman aku pun bertambah banyak. Sekarang aku mengerti tujuan dari tugas ini. Pembelajaran berjalan dengan normal seperti biasanya tiba bel pulang tiba, bel ini merupakan surga dunia bagi sebagian besar pelajar.
Aku berjalan gontai menuju pintu gerbang sekolah, yah... aku harus menunggu jemputan. Tapi mataku teralihkan oleh sosok tinggi yang sedang memasang helm putihnya dan menaiki motornya. Dia teman kelas baruku kalau tidak salah namanya adalah Rion, malas memikirkannya akupun berjalan menuju gerbang sekolah yang tengah padat kendaraan yang berebut untuk keluar terlebih dahulu. Kulihat kanan dan kiri, sepertinya mobil papa belum datang. Aku pun memilih berdiri dipinggir jalan yang masih terlindungi oleh pohon pencakar langit. Kulihat kearah gerbang, motor dan mobil tinggal sedikit yang keluar. Tak lama klason mobil Papa mengalun dipendengaranku.
"Giy,, Buruan" Kata Papa dari seberang jalan, saat hendak menyebrang saat itu pula sosok yang sempak kuperhatikan tadi hampir saja menabrakku.
"Ehh, Kalau Bawa Motor Liat-Liat Dong Jangan Asal Nyosor. Kalau Gue Mati Lo Mau Ganti Pake Nyawa Loh Apa" Kesalku padanya namun ia hanya diam lalu sedetik kemudian ia melajukan motornya tampa sepatah kata pun.
Tbc.
YOU ARE READING
ANTARGATA
Teen FictionMencintai bukan hal yang mudah, disaat kamu mulai mencintai disaat itulah 2 prihal berlaku padamu "Berjuang" atau "Menyerah". Sama halnya yang dirasakan gadis kecil bernama Argiya Putri Gafhira. Gadis berusia 15 tahun ini, memulai kisah cintanya di...
