Rudi tampak begitu resah. Ia buru-buru datang ke rumahku selepas menyapa sejenak melalui telepon. Aku seperti biasanya, duduk santai sambil menikmati minuman hangat yang sudah kuhidangkan sejak tadi di teras rumah.
Tempat ini sedikit nyaman untuk mengobrol atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Suasananya yang tenang juga dibarengi dengan tetumbuhan hijau di halaman membuatku merasa nyaman.
"Hei, Her," Rudi menyelidik. Ia seperti hendak menanyakan topik yang cukup sulit.
Aku hanya ber he-em. Menunggu kata-kata itu mengalir dari mulutnya.
Matanya menelisik sana kemari. Berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pikirannya itu.
Rudi orang yang kritis. Ia suka bertanya banyak hal. Aku menyukainya. Berkat pertanyaan-pertanyaannya itu, ia membuatku mengenang kenangan lama. Dan karena hal itulah aku teringat kembali dengan petuah-petuah hebat yang membuat hidupku dan menegaskan pemikiranku.
Rudi berdeham. "Hei, kata Tuhan itu selalui menghantui akalku, Her. Seperti saat kita membahas tentang cinta dari Tuhan. Itu benar-benar membingungkan," Rudi mulai menyambar tema pembicaraan kita senja ini.
Cinta Tuhan, ya? Benar. Tuhan Maha Pengasih. Tuhan Maha Cinta. Sisi Cinta Tuhan itu sangat luas sekali memang. Nampaknya, akal rudi sedang dipenuhi banyak persoalan tentang ini.
"Seperti apa?" Aku hanya membalasnya ringkas. Takut kalau-kalau pembicaraan ini justru tak berarah pasti. Agar Rudi mendapat jawaban yang cukup dariku. Atau mungkin-mungkin Rudi justru memberiku suatu pengertian baru.
"Tuhan Maha Kasih, katamu. Apakah ketidakadilan yang terjadi di dunia ini juga bentuk dari kasih Tuhan itu, Her? Banyak orang yang sengsara, Her. Menurutmu bagaimana? Apakah nampak kasih tuhan itu?" Tanya Rudi mulai meledak-ledak. Nampaknya akan berat sekali pembahasan ini.
Tuhan Maha Kasih. Dalam cinta-Nya, Tuhan selalu memberi kita banyak hal untuk kita. Cinta Tuhan mencakup semua perkara itu. Aku pernah mengatakan hal ini pada Rudi.
Tuhan memenuhi segala kebutuhan kita sebagai manusia. Kebutuhan hati, akal, ketenangan jiwa, dan masih banyak hal.
Tuhan menciptakan keseimbangan itu semua untuk kita belajar banyak hal. Supaya kita menyadari potensi dalam diri kita sendiri. Bahwa kita bisa lebih hebat dari cahaya yang Tuhan ciptakan, Malaikat namanya. Atau bahkan lebih hina daripada binatang yang tanpa akal. Kemudian keseimbangan itu memuat begitu banyak hikmah dan pembelajaran bagi kita. Itulah salah satu bentuk cinta dan kasih Tuhan.
Lantas, apakah yang Rudi katakan tentang kesengsaraan itu benar? "Rud, ketidakadilan yang kau bilang itu macam apa? Orang yang sengsara itu maksudnya yang seperti apa?"
"Her, lihatlah orang-orang miskin! Mereka hidup dibawah kesengsaraan! Atau, coba kau lihat orang yang menderita tanpa harta yang mereka miliki untuk makan! Bukankah ini ketidakadilan Tuhan?" Rudi kian menyelidik. Nada ucapannya semakin naik setiap kali ia mengucapkan kalimatnya.
Aku terdiam sejenak. Ia nampak begitu bingung melihat aku yang tetap terdiam itu. Lalu aku bilang, " Kau tidak benar-benar merasakannya, Rud."
"Hah?! Apa maksudnya?!" Rudi tersentak.
"Apakah orang yang kau lihat miskin dan menderita itu benar-benar merasa menderita? Atau apakah orang yang kaya harta itu juga merasa bahagia?"
Aku menoleh menatap mata kawanku yang tengah mengerutkan kening itu. Ia seperti tengah berusaha mencernanya. Lalu aku menambahkan lagi, "Rud, kau mungkin tidak percaya. Banyak orang-orang yang bersyukur terlahir miskin. Sengsara atau tidak sengsara itu hanya soal sudut pandang. Keseimbangan Tuhan itu adalah keadilan dan cinta dari Tuhan Sang Maha Kasih itu sendiri."
Aku terbayang kisah yang pernah kulihat dan dengar melalui sebuah video. Tentang seorang anak yang buta penghafal ayat ilahi namun begitu mensyukuri hidupnya. Ia nampak tersenyum walaupun nurani kita menatapnya penuh iba. Bahkan, ia merasa tak perlu mendapat perhatian kita itu. Bukan, ia bukannya hendak merasa sombong atau malah berbangga diri. Apa yang bisa dibanggakan dari sosoknya yang tak mampu melihat itu? Seharusnya ia akan merasa kurang karena penglihatannya yang tiada itu menghilangkan keseimbangan dalam tubuh untuk melakukan bermacam pekerjaan secara sempurna seperti kita.
Anak ini justru tersenyum saat menjelaskan. Dalam ucapannya itu ia bahkan tak berharap Tuhan mengmbalikan penglihatannya. Saat dia berusaha sekuat tenaga untuk menghafalkan ayat-ayat-Nya tanpa mampu untuk melihat ayat itu, ia tetap berusaha semampunya untuk menghafal dan terus melakukannya. Baginya, ini sudah cukup.
"Apakah orang kaya juga semuanya terlahir bersyukur bahagia? Tidak, Rud. Ini adalah balance itu sendiri. Dan setiap kejadian yang ada dengan segala alasannya yang mungkin kita tidak pernah tahu," Aku menyelesaikan sejenak kata-kataku.
Kami terdiam. Rudi mungkin tengah menenggelamkan diri dalam kecamuk pikirnya. Ia menutup matanya. Lalu berdeham dan mengambil gelas kopi di sampingnya itu. "Jadi, maksudmu semua itu keadilan dan cinta Tuhan?"
"Benar, Rud. Biar kuperjelas bagimu. Bahwa semua yang terjadi dengan segala alasan yang ada tidak seharusnya kita tahu. Dan terkadang tidak perlu kita tahu."
"Hahaha! Semacam pepatah orang yang bilang kalau lebih baik kita tidak tahu sehingga bisa terbebas dari penghakiman Tuhan, ya?"
"Ya! Mungkin semacam itu, Rud."
Dunia yang kita lihat tidak adil bagi kita. Dunia yang nampak tak begitu nyaman buat kita. Semuanya adalah bagian dari cinta Tuhan. Tuhan ingin kita menjadi pejuang. Menjadi orang-orang hebat yang layak untuk mendapat kasih-Nya yang Maha Luar Biasa.
Orang-orang yang tak memiliki harta akan mencari harta. Saat harta itu tak mampu memuaskannya ia akan mencari hal-hal lain yang bisa membuatnya puas. Begitulah nafsu yang Tuhan buat bekerja dalam diri kita tanpa pernah kita sadari. Sehingga ia tahu, bahwa pada akhirnya ia hendak mencari kebahagiaan. Kebahagiaan yang ternyata hanya timbul dari hal-hal sepele. Kebahagiaan yang kenyataannya hanyalah sebuah kesederhanaan.
Lantas, semua masalah yang kita miliki itu apakah bentuk cinta Tuhan? Ya! Tuhan amat mencintai kita. Tuhan amat menginginkan kesempurnaan yang Tuhan curahkan dalam menciptakan kita benar-benar kita pergunakan sebaik-baiknya. Lalu Tuhan akan berkata dengan bangganya di hadapan para malaikat, "Lihatlah! Lihatlah hamba-hambaKu yang teramat taat!"
Tuhan amat mencintai kita. Saat kita mampu tersenyum atas semua penderitaan kita. Memeluk dan menggenggam semuanya dengan erat. Dengan begitu kita bersiap untuk bangkit dan mempertahankan semuanya. Mempertahankan hati nurani kita, sisi kemanusiaan kita. Lalu, menjadi menusia terbaik yang pernah ada. Sehingga kasih-Nya itu tercurah begitu deras dan penuh kenikmatan. Sebuah kenikmatan yang hanya dirasakan hamba-hamba pecinta Tuhan dan Tuhan benar-benar cinta.
"Her, aku bisa gila. Kau memang benar, Her. Lagi-lagi kau memberikan ku jawaban yang memuaskan. Ah, kapan-kapan kita harus ngobrol lagi di teras rumahmu ini. Senja akan segera pergi, Her. Aku harus pulang. Lain kali aku bawa oleh-oleh tema berat seperti yang kau sukai."
"Hahaha, aku tak akan pernah bosan dengan itu, Rud. Tuhan amat mencintai kita. Ingatlah selalu itu. Dan aku juga mencintaimu karena Tuhan."
"Heh! Kau bisa membuatku gila!"
"Kau kan tahu maksudku bukan yang seperti itu,"
"Iya-iya, aku mengerti. Selamat Sore, Her. Aku akan selalu mengingatnya bahwa Tuhan selalu mencintai kita. Hahaha, walaupun sebenarnya aku belu bisa menerimanya. Lain kali kita bicarakan lagi," Rudi melangkah menuju motornya. Ia melambai lalu menyalakan motor tuanya itu dan pergi dengan cepat.
Bayangan Rudi kian jauh dan menghilang. Kini, gilirank yang terdiam. Sambil mengehal napas aku menutup mataku. Kemudian menyenderkan punggung ke kursi. Ah, Kau benar sekali, Rud. Tuhan memang sangat mencintai kita. Kau benar-benar mengingatkanku akan hal yang begitu penting. Yakni sebuah alasan kita untuk terus mencintai Tuhan. Tapi, Rud. Lain kali kau harus bertanya tentang arti dari cinta itu sendiri sebelum membahas cinta dan kasih Tuhan. Ah, biarlah. Nanti bisa kita bahas lagi. Aku harus bersiap untuk salat Maghrib. Hari sudah petang.
ESTÁS LEYENDO
Tuhan Mencintai Kita
Historia CortaTuhan amat mencintai kita. Bahkan, kasih cinta Tuhan itu bisa kita rasakan dalam obrolan-obrolan sederhana.
