VIONA ANANTASYA biasa dipanggil Tasya. Gadis keturunan keluarga Pratama. Gadis dengan pesonanya dengan wajah manis dihiasi lesung pipit, hidung mancung tubuh ramping kulit putih, manik mata hitam legamnya mampu menghipnotis siapapun yang tatapannya belabuh.
Pesona yang melekat dalam diri Tasya tak memungkiri nya menjadi idola disekolahnya, baik bagi kaum adam maupun kaum hawa.
Dibalik pesona yang melekat, namun peringainya berbanding balik. Tasya merupakan salah satu gadis yang tidak terlalu menyukai mata pelajaran, apalagi dengan mata pelajaran matematika serasa membuat kepalanya pening, tak heran jika mata pelajaran itu akan berlangsung Tasya lebih memilih menghindar lebih tepatnya bolos
"Sya! Lo mau kemana?!" Nindy melihat Tasya berlalu dari tempat duduknya, bisa bisanya dia berjalan santai keluar kelas, sedangkan mereka bertiga belum menyelesaikan tugas dari bu Rita sejak tempo hari yang lalu. Nindy yang merupakan bestainya Tasya sudah cukup frustasi dengan gadis lesung pipit itu, Tasya yang bolos,gue yang kena marah batin Nindy
"Ngisi perut! kasihan cacing diperut gue udah pada demo" jawab Tasya berjalan santai keluar kelas menuju kantin bodoamat dengan nasib ke dua sahabatnya. Padahal mata pelajaran matematika akan segera tiba
MORGAN GHIYAZ ALLAWY Lelaki tampan dengan sejuta pesonanya mampu memikat hati, wajah terpahat sempurna, hidung mancung alis tebal, bibir tipis yang tak pernah melengkung ke atas sedikitpun, memiliki tubuh atletis dengan tinggi 183 cm, juga netra keabu-abuan yang dapat memancarkan ketegasan dan tatapan tajamnya mampu membuat lawan bicaranya dag dig dug serr
Sifatnya yang dingin bak kulkas itu membuat wanita yang ingin berjuang mundur dengan teratur, bukan hanya karena kalah telak dengan saingan, namun seribu cara tak mampu meluluhkan , Ghiyaz lelaki seperti es yang selalu beku.
Ghiyaz juga merupakan siswa emas bagi sekolahnya, terkenal dengan otak encernya ia berulang kali mengharumkan nama baik sekolah dalam bidang akademik
"Gue herang sama lo yaz" laki laki dengan rambut kecoklatan itu tampak berfikir sambil menyuapkan bakso kedalam mulutnya
Ghiyaz tak bergeming, ia sibuk dengan ponselnya
"Otak lo cerdas, tapi gue gak pernah liat lo belajar" ucap Kevin langsung mendapat jitakan dari lelaki berkacamata
"Dia kalo belajar diperpustakaan, lo aja jadi kawan kaya setan, selalu keluyuran "
"Heh, mata lo udah empat. Lo gak lihat muka tampan gue ini, ampe lo nonyor pala gue segala"
"Kagak nyambung ogeb! Yang gue jitak pala lo ngapa bahasnya muka? Yang ada muka lo kembar banget tuh ama yang ini" lelaki berkacamata menunjukan gambar monyet di buku paket sejarahnya,
Setelah melihat Kevin hanya mendengus kecil, sembari menumpuk mangkok kotornya
"Lebih mirip elu Rel, apalagi tu monyet dipakein kacamata beuh kembar identik!" Seru Kevin heboh
"Berisik!" Ghiyaz mendengus lalu beranjak dari tempat duduknya
YOU ARE READING
Morgan Allawy
Teen FictionFollow dulu sebelum baca ⚠ . . . "Gue kira lo udah mati" Marvel tersenyum remeh kearah Ghiyaz Ghiyaz hanya mengepalkan tangannya disisi tubuhnya "Apa tujuan lo nampakin diri Marvel?" Ghiyaz menekan setiap ucapannya Marvel tersenyum miring "Bukan ur...
