Prolog : Daging Pengkhianat

343 41 25
                                        

— – - – —

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

— – - – —

Apa yang terlintas di benakmu ketika mendengar kata empuk atau lembut? Sepotong kue bolu? Sebuah bantal? Jika iya, bisa jadi masih ada kemungkinan otakmu belum terkontaminasi hal-hal abnormal.

Berbeda dengan pemuda yang satu ini. "Bolu itu lembut, lembut itu empuk, empuk itu daging lo. Eh, maaf nggak nyambung." Seringai nafsu terukir di bibirnya ketika baru saja memperoleh serpihan pipi milik sosok lemah di hadapannya. Hanya sebuah irisan kecil, tetapi mampu menggugah selera makan.

"Nggak nyangka ternyata daging lo empuk juga, gue kira daging pengkhianat bakalan alot." Pemuda bertopi hitam itu terkekeh pelan. Tak mengindahkan insan di hadapannya yang telah meringis sebab menahan lara.

"Orang gila!"

"Wah ... jangan munafik. Pernahkah lo merasa ingin mengelupas kulit dan mengoyak perut seseorang sampai organ-organ di dalamnya berceceran? Atau ... pernah nggak, ingin mencongkel bola mata lalu mengirisnya seperti bawang bombai?" Dia mengoceh teriring dengan senyuman bak orang sinting. Manik laki-laki itu memancarkan antusiasme serta mulai dilingkupi oleh kabut nafsu.

"Gue lagi merasakannya, tepat ketika menemukan pengkhianat ini."

Perempuan bersurai pendek itu menjerit tertahan ketika sebuah mata pisau menembus lapisan kulit lengannya, lantas bergerak turun hingga ke punggung tangan. Si pemuda menjauhkan telapak tangannya yang semula digunakan untuk membungkam. Guratan puas yang sempat terbenam kembali terbit di bibirnya saat cairan kental berwarna merah mengalir dengan apik basahi permukaan pembungkus badan tersebut. Ada sebuah perasaan bangga yang menyeruak dalam rongga dada kala menyaksikan hasil karyanya.

"Gue yakin kalian akan segera bangkrut!" balas perempuan itu sambil mati-matian menahan sensasi perih.

"Ah, lebay. Lo mau digoreng pakai bumbu Racik atau semen Tiga Roda?" Pemuda ini hendak menancapkan pisau kembali, tetapi lolongan gergaji mesin yang nyaring menunda aksinya.

"Lo dengar itu? Kayaknya ada orang yang lagi nebang pohon. Beruntung lo nggak perlu susah payah nahan teriakan." Senyuman miring itu akhirnya sirna tepat ketika dia memulai eksekusinya.

Bersama pisau yang terus menari di atas tubuh tak berdaya tersebut, gergaji mesin di luar sana meraung-raung seiring dengan jeritan pilu di sini. Dia tatap paras ayu berhias luka itu ketika rintih serta tangis tak lagi mewarnai ulah bengis.

"Maaf, tapi inilah pekerjaan gue." Tangan si pemuda terangkat, usap bekas percikan darah di sekitar wajahnya menggunakan sehelai kain usai memasukkan beberapa potong daging dan organ ke dalam sebuah kantong plastik. Meski selera makannya sempat tergugah, tetapi dia lebih ingin membiarkan tubuh perempuan yang disebut pengkhianat itu membusuk daripada mengolahnya menjadi 'layak konsumsi'.

Berkat pengalaman yang tak singkat, dia sukses menuntaskan misi gelap tersebut dengan terampil. Sebisa mungkin kepingan petunjuk mengenai eksistensinya tak tertinggal sedikit pun. Dia tidak peduli tentang penyebab kematian yang amat terekspos, serta bercak merah di mana-mana.

Bahkan perintah terlarang terasa aman ketika ada nafkah yang harus diperjuangkan. Semua itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan nyawa yang melayang. Demi kemanusiaan, adakah segelintir insan yang benar-benar melek?

Sayangnya, melek saja tak cukup. Orang yang dapat membuka kelopak matanya belum tentu bisa melihat. Begitu pula orang yang telinganya tampak baik-baik saja belum tentu bisa mendengar.

Perkenalkan, dia Friday Skyrest, tidak buta, tetapi congek. Alih-alih mendengarkan kata hati, saat ini statusnya masih berusaha membungkam rahasia 'unik' toko walaupun mengetahui keberadaan predator yang mengintai di sekitarnya.

Hey, tak perlu merasa paling suci. Karena, sungguh, apa bedanya mereka? Jika ada satu kata yang dapat mewakili fenomena tersebut, maka kata itu adalah miris.

"Selamat menikmati manisnya tipuan dunia, Orang-Orang Dungu."

♣♣♣








.
.
.
.
.

Hi, this is everyzky aka gishanaphalis!

Beberapa nama tokoh sama kayak di Dead Friendship. Tapi secara alur, konsep, penokohan, cerita ini nggak ada hubungannya sama TDF. Misal, mungkin di sana anak Romusha ada 12, di sini 5. Konsepnya kayak "in another universe" (?). Ya ... pokoknya Toko Selai sama TDF itu beda.

Tapi (lagi) secara teori "human-creature", kedua cerita saling berhubungan. Ada di TDF, lengkapnya di versi cetak. Btw, masih bisa dicekot di oren (cek bio yh).

Kalau nggak suka spoiler atau mau mengikuti teori human-creature, disarankan baca TDF dulu. Kalau enggak ya udah.g—bisa langsung baca ini, alurnya nggak ngaruh ke sana soalnya.

Nanti ada versi au Toko Selai di ig gishnowbin (link di bio). Isinya cuma sisi kocak mereka.

That's all? Terima kasih sudah mampir, mohon dukungannya and hope u like it! ^^

GIF : pin

— - Everyzky,
Published 25/01/30.

.
.
.
.
.

.
.

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Toko Selai - 00LStories to obsess over. Discover now