Ada satu kejadian yang membuat Jenna dihantui rasa bersalah sehingga wanita berusia 27 tahun itu selalu mengikuti kencan buta yang diatur oleh orang tuanya. Namun, satu kencan buta membawanya bertemu dengan Yujin, sahabat lamanya yang tiba-tiba meng...
Udara dingin malam itu berasal dari hujan sehari penuh. Jenna tengah duduk bersantai di ruang keluarga sambil menyelimuti tubuhnya dengan selimut bermotif bebek. Secangkir cokelat panas menemani agenda membaca bukunya. Kacamata bulat yang dipakai, membuat wajah wanita berusia hampir kepala tiga itu kelihatan imut.
Suara familier dari pintu depan membuat Jenna melepaskan kacamatanya. Ia meletakkan buku yang ia baca. Kemudian ia segera bangkit berdiri.
Jenna membeku di tempat melihat pemandangan yang ada di depannya. Suaminy tengah merangkul seorang wanita cantik yang sempat ia kenal melalui video call.
"Hai, Jenna. Senang bisa ketemu lo langsung." Wanita berambut panjang dengan tahi lalat di bawah dagu itu segera melangkah mendekati Jenna dan mengulurkan tangan ramah.
Jenna hanya bisa mengerjap. Lagi-lagi otaknya tidak bisa mencerna situasi. Akhirnya, wanita itu mengulurkan tangan setelah Yujin menepuk pundaknya.
"Lo kelihatan jauh lebih cantik kalau dilihat langsung." Mina tersenyum sambil memuji Jenna.
"Eh, duduk dulu, kamu pasti capek habis berjalan jauh." Yujin menggandeng tangan Mina dan mengajak wanita itu duduk di sofa yang sebelumnya diduduki oleh Jenna.
Genderang perang sudah ditabu. Kini Jenna merasa iri. Letupan tidak menyenangkan terjadi di kepalanya. Mata besar wanita itu melotot ketika melihat Yujin membenahi rambut Mina.
"Gue nggak cemburu!" Jenna meneriakkan kalimat itu di kepalanya. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau perasaan yang kini ia rasakan hanya iri dan bukan cemburu dalam artian romantis.
"Lo nggak mau duduk?" Yujin bertanya setelah melihat Jenna mematung.
Wanita berambut tergulung itu akhirnya duduk di hadapan sepasang kekasih yang kelihatannya masih butuh banyak waktu untuk temu kangen.
"Mina sudah dapat kerja di Indonesia."
"Emang gue peduli, gitu?" Jenna bersuara dalam hati. Ia menatap Mina dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Untuk sementara, Mina bakal tinggal di hotel, tapi mungkin nanti setelah kita bercerai, dia bakal pindah ke rumah ini."
"Terima kasih informasi nggak pentingnya." Jenna masih bersuara dalam hati.
"Nah, mumpung ada Mina di sini, gue sekalian mau bahas tentang perceraian kita." Yujin sengaja menggantung kalimatnya untuk mengamati perubahan ekspresi Jenna. Namun, wajah wanita itu terlihat terlalu tenang.
"Kita harus menyamakan jawaban. Lo mau bilang apa ke orang tua kita?"
Jenna melipat tangan di dada. “Kalau gue bilang lo punya pacar di Jepang dan lo bawa pacar lo ke sini, itu artinya sama aja lo bunuh diri. Kebohongan kita selama 3 bulan ini nggak akan berguna karena lo pasti bakal diusir sama Papi lo.”
"Gue bakal bilang, kalau gue balikan sama Saka. Setelah tiga bulan, gue sama lo, sama-sama ngerasa nggak cocok."
Mendengar kata-kata Jenna, Yujin hampir bangkit berdiri, tetapi ia membatalkan niatnya karena sadar kalau ada Mina di sana. “Apa lo bilang? Lo balikan sama Saka?”
“Seenggaknya alasan itu bisa bikin lo nggak diusir sama Papi.”
Yujin menghela napas. "Bukan itu yang gue tanya, Jenna. Lo balikan, sama Saka?"
"Oke, sekarang itu nggak penting. Yang jelas, gue udah punya alasan buat pisah." Kini Jenna beralih pada wanita cantik di depannya. "Jadi, Mina, lo nggak perlu khawatir. Kami akan menyelesaikan kontrak ini sesegera mungkin. Gue harap, lo berdua bisa bahagia setelah ini."
Sepasang kekasih itu tidak berkomentar.
Jenna berdiri. "Oke, gue ngantuk dan gue mau cabut tidur ke atas."
"Kayaknya, dia kesal."
Jenna bisa mendengar pernyataan dari Mina.
"Dia udah biasa kayak gitu." Yujin menimpali, tidak terdengar peduli.
Begitu tiba di kamar, Jenna langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan menangis hingga sembab.
Setelah beberapa jam, pintu kamar Jenna diketuk. "Jenna, gue perlu ngomong berdua sama lo."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aloha!
Gimana, nih?
Ketemu Gia Joel di bab berikutnya, yaaa.
Terima kasih sudah membaca dan berkenan vote.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.