Hai gaiss
Gmn kabar kaliann? Akhirnyaa setelah sekian lama gue buat cerita lagi hahaha
I don't know why I suddenly want to make a story about this hahaha kayanya si karna akhir-akhir ini gue sering banget baca cerita latar luar negeri jadi ngerasa pengen aja gitu nyoba buat cerita baru dengan tema kayak gitu. Sebenernya dari dulu gue udah sering buat cerita tema luar negeri gini sih, tapi ngga pernah dipost soalnya takut gada yang suka trs ngga ngefeel jugaa
Tapi yaudalah sekarang mau nyoba ajaa hehe
Hope u guys like it!
***
Pagi ini matahari bersinar cerah. Secerah perasaan Elisha saat melihat Adrian telah memasuki kelas dan duduk di tempatnya. Cowok yang bernotabene sebagai ketua kelas itu baru saja datang dengan menggunakan hoodie hitamnya.
Elisha bahkan rela datang pagi-pagi begini hanya untuk melihat Adrian lebih dulu daripada teman kelas yang lain. Ya, sudah bisa ditebak dari sikap Elisha bahwasanya gadis itu menyukai Adrian.
Hal itu bermula saat tahun lalu, lebih tepatnya saat Elisha baru menginjak tahun pertama di Seminary High School. Saat itu ia tak sengaja bertemu Adrian di depan gerbang dan detik itu pula Elisha telah menyukai Adrian. Tidak ada kejadian istimewa yang terjadi. Elisha hanya tiba-tiba menyukai Adrian dan berpikir bahwa cowok itu adalah masa depannya. Cukup konyol, bukan?
"Selamat pagi, Ad." Sapa Elisha dengan senyum manisnya. Adrian yang duduk di depannya menoleh kemudian ikut tersenyum.
*note : Ad baca Ed.
"Pagi Elisha. Seperti biasa, kamu datang paling awal." Sapaan dan pujian dari Adrian membuat Elisha tertawa. Ia merasa seperti seorang gadis yang sedang dipuji oleh pacarnya. Ok, itu sedikit berlebihan.
Tak ingin berhenti mengobrol, Elisha segera mencari topik baru, "Bagaimana tugas kesenianmu Ad? Apakah sudah selesai?" Tanya Elisha saat pertanyaan itu melintas di otaknya.
Adrian kini sepenuhnya menoleh pada Elisha. Cowok itu bersandar pada ujung mejanya agar bisa berbicara dengan bebas tanpa susah payah menolehkan kepalanya untuk melihat Elisha.
"Aku barusaja menyelesaikannya tadi malam. Bagaimana denganmu?"
Elisha menyengir, "Aku belum selesai. Tinggal diberi beberapa tambahan warna lagi lalu gambarku akan selesai."
"Benarkah? Aku tidak sabar melihatnya nanti."
"Akan kuperlihatkan jika telah menyelesaikannya." Ucapan Elisha membuat Adrian tersenyum dan mengangguk. Padahal di dalam hati Elisha sibuk merutuki dirinya sendiri. Ia bahkan belum mengerjakan tugas kesenian--yang akan dikumpul 2 hari lagi--itu.
"Wah apa kalian sedang melakukan proses pendekatan sekarang?" Tanya Matthew saat memasuki kelas.
Adrian tertawa menanggapinya. Sedangkan, Elisha jadi salah tingkah sendiri, "Ah tentu saja tidak." Ucapnya sambil mengibaskan tangannya. Matthew adalah teman Elisha sejak masih Junior High School. Mereka bahkan tidak menyangka akan satu kelas lagi saat memasuki Senior High School.
"Oh, ayolah Elisha. Apa kau menyukai Adrian? Wajahmu memerah sekarang." Ledek Matthew. Cowok berambut hitam dengan postur tubuh tinggi itu senang sekali meledek Elisha.
Elisha melotot pada Matthew, "A-apa maksudmu? Ini karena cahaya matahari tau!" Ia mencoba menggunakan cahaya matahari yang menyorot wajahnya untuk menjadikan alasan kenapa wajahnya bisa memerah.
Sementara Adrian tersenyum memperhatikan mereka berdua. Ia kemudian berdiri lalu berjalan menuju jendela di samping bangku Elisha dan bersandar di sana, "Aku akan menghalangi matahari ini untukmu."
"Hey bro, kamu tidak bisa melakukan itu. Elisha akan benar-benar meledak sekarang." Matthew masih melanjutkan ledekannya.
"Matthew aku akan membunuhmu!" Teriak Elisha. Ia barusaja akan memukul Matthew, namun cowok itu telah berlari keluar kelas sambil memeletkan lidahnya sebelum Elisha berdiri dari tempatnya.
"Maaf ya, Ad. Dia memang selalu freak seperti biasa." Ucap Elisha meminta maaf kepada Adrian sehingga cowok itu tertawa lagi.
"Kamu bisa kembali ke tempatmu. Cahaya matahari itu tidak terlalu mengganggu kok." Ucap Elisha lagi, namun dibalas gelengan oleh Adrian, "Tidak masalah. Aku senang melihat wajahmu dari sini. Kamu terlihat cantik." Puji Adrian dengan jujur. Sementara Elisha mati-matian menahan dirinya agar tidak menghantam semua meja karena rasa saltingnya.
Ia benar-benar merasa ada kupu-kupu di perutnya, kemudian ia tiba-tiba berpikir bahwa Adrian pasti menyukainya juga.
Hahaha padahal itu hanya pujian normal. Elisha seharusnya tidak menanggapi ucapan itu dengan serius, kan?
TBC
YOU ARE READING
E L I S H A
Teen Fiction"Ad, aku benar-benar menyukaimu!" Teriak Elisha Violletta pada Adrian Linford. ********************** (Cover masih sementara) kayaknya bakal diganti kalo ga mager hahaha
