"Saaaaan, yuk buruan!" Teriak seorang wanita berumur lima puluhan dari halaman rumah dengan keras sebelum masuk ke dalam mobil.
"Duh ini si Sandra ngapain sih lama banget?" lanjut lelaki yang ada di dalam mobil tepatnya di bangku kemudi.
"Emang anaknya kebiasaan banget suka lelet."
"Ih apaan sih mam ribut banget, ini juga orang udah siap," akhirnya seorang wanita berusia dua puluhan dengan rambut pendek menggunakan gaun bernuansa cokelat muda datang sambil menenteng sepatu yang belum dipakainya.
"Udah siap apanya? Itu sepatunya juga belum dipakai," omel mama melihat anak gadisnya sekaligus bungsu dalam keluarga mereka.
"Ini dipakai di dalam mobil, ayuk buruan," Sandra langsung menerobos masuk ke dalam mobil mendahului mamanya yang hanya bisa geleng kepala kemudian ikut masuk ke dalam mobil yaitu di bangku depan. "Lagian mama papa kenapa sih pada buru-buru banget? Acara kondangan doang udah kaya yang mau ikut ujian nasional," ujar Sandra dari bangku belakang mulai memasang sepatu dan menyelesaikan make up nya.
"Ya kan ga enak kalau sebentar doang kita disana, mereka masih bagian keluarga kita. Saudara jauh gitu." jelas mama pada Sandra.
"Sejak awal aku udah bilang ga niat buat ikut padahal, malah tetep dipaksa." nada suara Sandra masih menampakkan kalau ia masih tidak niat untuk ikut ke acara resepsi pernikahan yang bahkan ia tidak tahu jelas siapa yang menikah.
"Kamu di rumah lagi ga ngapa-ngapain, lebih baik kamu ikut sekalian ketemu keluarga kita yang lain. Lagian mas nya kamu juga ga bisa ikut."
"Coba aja Mas Gilang yang di rumah, kalau dia bilang ga mau pasti mama dan papa bakal biarin aja ga maksa."
"Soalnya mas kamu kalau nolak jelas alasannya, lah kamu kan enggak," itu adalah jawaban papa yang santai mengendarai mobil menembus jalanan.
"Iyain deh, kan Mas Gilang si paling spesial." jawab Sandra cuek sambil menyenderkan tubuhnya ke kursi lalu memainkan handphonenya. "Yah, padahal harusnya bisa jalan sama Dika," Sandra bicara sendiri dengan nada kecewa sambil terus sibuk dengan handphonenya.
"Kamu masih sama Dika?" mama langsung menoleh ke belakang dengan wajah kaget.
"Ya iyalah, kenapa engga?"
"Kan mama udah bilang kalau kamu jangan jalan lagi sama dia."
"Kenapa sih? Orang udah nyaman, dia kan juga ga pernah aneh-aneh."
"Dika itu nggak baik anaknya."
"Alah, pasti mama nggak suka cuma karena dia nggak sekaya keluarga kita ya?"
"Bukan gitu, mama nggak pernah ya permasalahin kaya atau enggak nya orang. Tapi Dika itu memang mama nggak suka sama sikapnya. Lihat aja deh waktu dia ke rumah, dia cuma peduli sama kamu, nggak mau tuh ngobrol sama yang lain." entah sudah ke berapa kalinya mama coba menyadarkan sang putri mengenai hubungannya yang tidak mereka restui selaku orang tua.
"Yaiyalah, soalnya dia tahu kalau orang rumah ga ada yang suka sama dia. Ngapain coba deketin orang yang jelas-jelas nggak suka sama dia." Sandra terus mempunyai jawaban untuk membela sang kekasih.
"Udah lah ma, Sandra ini emang keras kepala banget ga bisa dibilangin. Bahkan ga cuma kita, tapi yang lain pun yang udah kenal duluan sama Dika juga bilang kalau dia bukan laki-laki yang baik." papa yang sejak tadi hanya menyimak akhirnya angkat bicara agar sang isteri tidak buang-buang tenaga coba bicara dengan Sandra.
"Orang cuma bisa ngomong, padahal kan yang kenal banget sama Dika itu aku, aku juga yang ngejalanin hubungan, dan aku ngerasa baik-baik aja tuh, ga ada yang salah."
"Yaudahlah terserah kamu, capek kita ngomong sama kamu."
YOU ARE READING
Encounters
RomanceDisaat Sandra merasa sudah sangat nyaman dengan kekasihnya Dika yang walaupun orang bilang toxic, tiba-tiba saja ia dijodohkan dengan orang lain. Bagaimana mungkin ia bisa menerima itu terlebih si pria yang dijodohkan dengannya adalah Farel yang mer...
