Prolog

1.1K 159 28
                                        

Cahaya matahari pagi memasuki area cela jendela membuat pengelihatan Singto terganggu, akhir-akhir ini cuaca di kota Bangkok cukup panas hingga Singto tidak bisa kembali melanjutkan tidurnya.

Singto memilih menyenderkan tubuhnya dikasur, mata tajam itu menoleh kesamping melihat balita berusia 4 tahun tengah tertidur dengan pulas.

Pria berkulit tan ini tersenyum tipis, tidak disangka waktu berlalu sangat cepat padahal baru kemarin malam ia mendengar tangisan Chio lahir ke dunia. Sungguh Singto sangat beruntung memiliki malaikat kecil yang dititipkan Tuhan padanya.

"Eughh.. " Chio mulai bergerak gelisah dan membuka mata kecilnya.

"Selamat pagi bayi nya, Daddy" sapa Singto gemas.

Sedangkan yang disapa memasang ekspresi wajah seperti ingin menangis. Mata bulatnya berkaca-kaca, bibir dan hidungnya juga memerah, pipinya semakin menggembung dan setelahnya...

"Hueee... Hikss Daddy~" tangisnya pecah begitu saja. Membuat Singto tersentak kaget, ada apa dengan putranya yang tiba-tiba menangis.

"Chio, kamu kenapa nak?" tangan kekar Singto segera meraih tubuh Chio, lantas menempatkan anak manis itu dipangkuannya.

Jari-jarinya mengusap lembut pipi Chio yang sudah banjir air mata, "Chio kenapa sayang?"

Perlahan tangisannya mereda, meskipun masih sedikit sesegukan.

"Chio mau cama Daddy hikss... tidac mau di day cale" ucapnya terbata-bata.

Oh Singto mengerti, putranya ini menangis gara-gara ucapannya semalam yang akan menitipkan Chio di day care satu hari full. Sebenarnya bukan tanpa alasan ia melakukan itu karena pekerjaan kantor Singto belakangan ini cukup padat, ditambah pertemuannya bersama klien membuat pria tampan ini tidak dapat terus-menerus mengajak putranya ke kantor. Itulah mengapa Singto dalam 2 minggu terakhir sering menitipkan anaknya ke day care saat pagi dan menjemputnya ketika Siang. Tapi untuk beberapa hari ini Chio akan di day care 1 hari full mangkanya dari semalam bayi tuan Singto ini merengek karena marah pada Daddy-nya.

"Bayi Daddy ini kasian sekali, maafkan Daddy yang jarang ada waktu na" ucap Singto merasa bersalah, tangan kanannya mengusap pelan punggung sang anak berusaha untuk menenangkannya.

Chio mendongakan kepalanya memberikan tatapan tajam kepada Singto, tapi jatuhnya malah wajah kesal itu sangat menggemaskan. Jujur saja Singto ingin sekali mencium pipi Chio tapi sadar ini bukan waktu yang tepat karena putranya sedang marah.

"Daddy Cimba tidac sayang, Chio hiks.. Daddy celalu caja membialkan Chio cendilian dicana.. huee Daddy nakal!" tangisan bayi manis milik tuan Singto ini kembali pecah. Tangan kecilnya memukul dada Singto.

Meskipun masih balita tapi pukulan Chio mampu membuat pria ini meringis pelan.

Kedua tangan mungilnya ditahan oleh sang ayah. Hingga membuat perbuatannya terhentikan, Singto mengangkat wajah putranya agar dapat menatap dirinya. Wajah itu memerah akibat menahan kesal dan juga air mata masih mengalir disudut matanya, Singto mengusap pelan air mata yang menuruni pipi Chio, ia memajukan wajahnya sendiri lalu memberikan kecupan di dua kelopak mata indah itu.

"Daddy tau kalo Chio sedang kesal dengan Daddy. Tapi jangan memukul seperti itu ya? Tidak baik, Daddy tidak suka Chio seperti tadi" perkataan lembut Singto dapat membuat Chio luluh, si bayi mengangguk sebagai jawaban.

"Chii, s - sworry Daddy" Chio menundukkan kepalanya sembari menepuk kecil perut yang berbentuk kotak milik Singto.

"It's okay sayang, Daddy yang salah, bagaimana jika hari ini ikut bersama Daddy saja, mau?" perkataan Singto mampu membuat mata Chio berbinar, anak menggemaskan ini mengangguk antusias.

Daddy Where stories live. Discover now