Papan rumah ini berderit derit saat aku berjalan keluar. Bukan hanya itu, sepertinya seisi desa ini juga terdiri dari kayu kayu yang sudah dipoles, dan disusun sedemikian rupa hingga bisa menampung manusia sebanyak ini. Dan lagi, aku harus mencari adikku yang menghilang entah kemana setelah meninggalkanku. Merepotkan. Aku berjalan menuju tangga yang berada diluar didekat sebuah rumah, kira kira berjarak 6 rumah dari milik Noora dari arah timur. Tangganya juga terbuat dari kayu. Kupandangi lagi seisi desa yang dikelilingi oleh banyak pohon pohon raksasa. Aku bertanya tanya apakah semua komunitas yang tersebar di bumi juga hidup seperti ini? Mengingat inilah kali pertamaku berinteraksi dengan komunitas lain selain punyaku.
Baru saja aku pijakkan kakiku menuruni beberapa helai papan anak tangga, aku menemukan sebuah lantai lain. Hanya banyak warga desa yang berlalu lalang dan beberapa dari mereka yang membawa keranjang diatas kepalanya. Beberapa saat kemudian seorang pria yang kutaksir sedikit lebih muda dariku datang menghampiriku. "Permisi, apa anda mau turun disini atau masih akan turun kebawah?". Kuperhatikan penampilannya, tubuh bagian atasnya terbuka dan ia memakai celana panjang yang bermotif sama denganku. Kedua tangannya dipenuhi oleh darah yang menetes netes mengenai lantai kayu, sedang tangan kirinya membawa beberapa ekor mutan bertelinga panjang.
"Oh, maaf. Tapi apa kau tau dimana Rumah Makan?"
"Rumah makan berada di lantai 4, masih ada 5 lantai lagi yang harus kau turuni" Ia mendengus. Bau anyir terasa memenuhi hidungku. Ini pasti gara gara bangkai mutan itu.
"Baiklah, terimakasih" Ucapku dan kembali menuruni tangga. Semakin aku menuruni, dan benar saja semakin banyak lantai yang aku jumpai. Setiap lantainya tersusun berbentuk lingkaran yang bergantung pada pohon pohon raksasa. Pada setiap lantainya ada 2 buah tangga kayu yang menjulang tinggi hingga puncak diarah barat dan timur. Dibagian tengahnya, terdapar banyak sekali sulur sulur pohon yang bergantung dan memberikan kesan amazon. Sebagian orang yang kulihat tadi juga memakai sulur itu untuk berayun. Seperti Tarzan. Masyarakatnya juga rata rata menggunakan pakaian dengan motif dan bentuk yang sama. Jarang sekali kulihat kaum Adam yang memakai baju untuk menutupi bagian atas tubuhnya. Aku jadi minder sendiri mendapati diriku yang memakai atasan, meski tidak berlengan.
Aku kemudian melompat dari tangga ke lantai setelah sampai. Kembali aku berjalan mengitari lantai 4 ini, berbeda dengan di puncak, entah kenapa kayu dibagian ini terasa lebih tebal dan kokoh. Tak ada deritan yang kudengar. Disini, semua orang terlihat berkumpul membentuk keramaian seperti di pasar. Aku berjalan sambil melengokkan kepalaku kiri kanan, mencari sebuah bangunan bernama Ruang Makan. Namun yang kujumpai hanyalah sebuah beberapa bangunan yang dipenuhi oleh persenjataan, beberapa mainan anak anak (aku bisa tahu karena banyak anak anak yang bermain disana). Takut kalau kalau telah tersesat, aku menghampiri seseorang yang sedang bersandar di depan tangga. Rambutnya gimbal dan terkesan acak acakan. "Halo, bisakah kau katakan padaku dimana Rumah Makan?". Ia tak menjawab dan malah memperhatikan penampilanku dari atas kebawah, dan dari bawah keatas, begitu matanya bergerak gerak seakan sedang menginterogasiku.
Pria itu menatapku pongah. Sambil menggigiti kuku jari telunjuk kanannya, ia malah berbalik bertanya kepadaku."Kau siapa?"
"Aku.. pendatang"
Alisnya bertaut. "Pendatang? Kami belum pernah bertemu komunitas manapun" sergahnya lagi.
"Tentu, aku bukan bagian dari komunitas"
Matanya menyipit, ia membebaskan punggungnya dari dinding dan kembali memperhatikanku lekat lekat. "Kau bukan bagian dari komunitas ini, lantas siapa kau? Kenapa kau bisa memakai Grayclothe?"
"Aku.." -- "Tom!!" Aku memutarkan badan dan menemukan sosok Phoebe tengah melambai lambaikan tangannya padaku dari kejauhan. Pasti disanalah Rumah Makan. "Aku pergi dulu" Lalu aku berjalan menjauhi pria tersebut dan sedikit berlari menuju rumah makan. Phoebe masih berdiri disana, didepan pintu masuk. Bibirnya menekuk seolah olah mengekspresikan kekesalannya karena aku terlambat.
YOU ARE READING
TOM : BECOMING A NATION
AdventureManusia kembali ke peradaban awal dan hidup berkoloni setelah perang dunia besar besaran yang menghancurkan setiap negara negara superpower. Namun, kakekku berhasil mendirikan negara baru bersama 7 orang yang dianggap bisa menciptakan kestabilan kem...
