29. ABANG AGAS

Mulai dari awal
                                    

"Apa Kak Bara nggak bakal ke sini lagi?" tanya Aina dalam hati. Tapi mengingat Bara tadi, Aina menjadi pesimis jika suaminya itu akan menjemputnya.

Aina menghembuskan nafasnya pelan. "Ini saatnya, sudah lama aku tidak berkunjung."

Setelah mengatakan kalimat itu, Aina membawa langkahnya ke pinggir jalan. Dia berniat mencari taksi untuk membawa ke tempat tujuannya.

Aina mengedarkan pandangannya ke jalan raya, untungnya saat ini kondisi kendaraan tidak terlalu ramai sehingga tidak terjadi kemacetan lalu lintas.

"Alhamdulillah," ucap Aina, karena tidak seberapa lama dia menunggu taksi, dia bisa melihat taksi yang melaju ke arahnya.

Aina melambaikan tangan untuk menghentikan kendaraan itu, benar saja taksi itu berhenti di hadapannya. Tidak membuang waktu lama, Aina bergegas masuk.

"Mau ke mana Mbak?" tanya pak supir. Aina membalas dengan menyebutkan alamat yang hendak dia tuju.

Perjalanan Aina dari rumah sakit sampai tujuan memakan waktu satu jam, selama itu Aina hanya termenung memikirkan langkah apa yang akan dia ambil.

Taksi yang ditumpangi oleh Aina berhenti tepat di depan pagar mansion yang sangat luas, dari luarannya sudah terlihat begitu mewah. Mansion itu didesign klasik berwarna putih tulang.

Di depan gerbang, tertulis dengan jelas nama kediaman Alexandria.

"Terimakasih." Setelah membayar ongkos taksi, Aina turun dari kendaraan itu.

Aina tersenyum lebar, sudah lama dia tidak berkunjung ke sini. Terakhir kali, sebelum peristiwa yang membuatnya hamil.

Di depan gerbang tinggi itu, tepat di sampingnya, sudah disediakan tombol bel. Atau lebih tepatnya tempat deteksi sidik jari. Jadi, tidak sembarang orang bisa bertamu. Aina memasukkan sidik jarinya di sana, hingga beberapa detik gerbang yang tadinya tertutup rapat kini terbuka dengan lebar.

Gerbang itu dijaga oleh beberapa bodyguard, saat melihat ada wanita bercadar menghampiri, mereka menunduk hormat.

"Selamat datang Nona Aina, silahkan masuk," ujar salah-satu dari mereka. Mengayunkan tangan di udara, sebagai isyarat 'silahkan'.

Aina berjalan masuk, di halaman depan sangat luas hingga gadis itu perlu berjalan cukup jauh untuk mencapai pintu utama.

"Terimakasih," jawab Aina. Aina berjalan diiringi oleh lima bodyguard di belakangnya, jika ditanya apakah dia risih? Tentu, namun Aina sudah terbiasa.

Sesampainya di depan pintu utama yang begitu tinggi menjulang dan lebar, pintu itu terbuka dengan sendirinya karena sudah dilengkapi sensor suhu tubuh manusia.

"Aku mau ke ruang Agas, kalian jangan mengikutiku." Aina berkata ke pada bodyguard di belakangnya, mereka semua menunduk dan mengangguk.

Sebelum pergi ke ruangan yang dimaksud, Aina terlebih dahulu bertanya,"Di mana papi Rahil dan mami Aulia?"

"Nyonya Aulia ada di greenhouse, sedangkan tuan besar masih di kantor," jawab salah satu dari mereka.

Rahil Alexandria Zidan, dia adalah kakak dari Zaida–bunda Aina. Sedangkan Aulia adalah istri dari Rahil. Aina sudah menganggap Aulia dan Rahil adalah orang tuanya, karena dulu dia hidup bersama mereka bukan bersama kedua orang tuanya.

Saat Aina di dalam perut Zaida, bundanya itu dinyatakan mengidap ganguan mental yang memburuk. Bahkan sudah berkali-kali, Zaida berusaha menggugurkan kandungannya. Tapi selalu gagal.

Puncaknya, saat Aina baru lahir Zaida dilarikan ke rumah sakit jiwa. Aina yang masih bayi waktu itu, dia dibawa ke arab untuk menetap di sana yang dirawat oleh Rohan kakak pertama Zaida dan istrinya. Dan juga bersama Rahil dan Aulia.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh." Saat ini Aina sudah sampai di sebuah kamar yang begitu luas.

"Abang Agas, Aina kangen... kok nggak bangun-bangun." Aina menghampiri seorang pemuda yang terbaring lemah di tempat tidur. Berbagai alat medis menjadi pandangannya.

Di tubuh pemuda itu begitu banyak alat medis yang tertempel, di samping ranjangnya ada EKG, tabung oksigen, dan juga alat medis lainnya.

Suara dari mesin EKG, menjadi pengisi suara dari ruangan nan sunyi itu.

"Kangen," lirih Aina. Dia duduk di kursi sebelah ranjang. "Abang kok jahat banget sih, ninggalin adek sendirian. Hiks. Kan adek rapuh."

Aina meraih tangan pemuda yang bernama Ragas Jionda Alexandria. Tangan itu begitu dingin, layanknya mayat.

"Aodra kacau Bang, tanpa Abang. Maafin Aina yang nggak bisa menjaga amanah," adu Aina.

Aina menghirup udara dengan rakus, lalu menghembuskannya. Bau obat-obatan lebih dominan tercium.

"Tapi Abang tenang aja, fokus untuk sembuh. Aina yang bakal meng-handle Aodra. Maaf karena beberapa bulan ini nggak turun tangan, karena Aina lagi ditimpa musibah. Hiks," ujar Aina mengeluarkan unek-unek yang sudah lama ia tampung.

Mata Aina berair melihat wajah pucat Ragas. "Tapi maaf, Aina nggak bisa bales dendam ama orang yang udah lakuin ini ke abang. Aina nggak mau, Aodra dikenal dengan nama yang buruk. Jika Aina balas dendam itu dibenci oleh Allah. Dan juga, akan memperpanjang rantai balas dendam antara geng motor."

"Aina nggak akan mungkin balas dendam ama dia, Bang. Karena–" Aina tidak sanggup berucap lagi. Dia hanya bisa mengeluarkan tangisnya yang pilu.

"Bang, Aina saat ini lagi hamil. Hiks. Aina sekarang udah nikah. Hiks."

"Abang bangun! Aina butuh Abang."

Dari kecil, Aina sangat dekat dengan Ragas. Bahkan sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Begitupun sebaliknya. Ragas adalah sepupu Aina, sekaligus saudara sepersusuan.

Aku akan up lagi nanti sore atau malam, tergantung tugas rumahku kapan selesai ya. Bye

Bayi Di Balik Seragam SMA (Lengkap) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang