Halo, perkenalkan nama saya Naarthoen. Saya lahir pada tanggal 8 November tahun 2001. Dari saat saya masih kecil, saya sudah di ajarkan untuk bertanggung jawab atas semua hal yang saya lakukan. Seperti saat saya setelah bermain, saya harus merapihkan kembali mainan yang saya mainkan.
Saya 3 bersaudara, kakak perempuan saya bernama Theena dan adik lelaki saya bernama Loecaano. Umur kami hanya berselisih 2 tahun. Keluarga kami bisa dibilang berkecukupan. Orang tua kami mempunyai industri perhotelan. Rumah kami terbilang cukup besar dan luas, sehingga kami mempunyai beberapa ART di rumah kami.
*****
Pada tahun 2015 saya mulai bersekolah di sekolah menengah pertama atau SMP internasional. Sekolah itu sangat keren. Selain mempunyai banyak murid yang berasal dari negara negara lain, sekolah dasar itu juga mempunyai beberapa ruang yang menarik untuk saya. Seperti ruangan simulasi luar angkasa, perpustakaan yang moderen, kantin yang luas dan mempunyai makanan makanan yang lezat, ruangan studio musik, dan masih banyak ruangan yang super keren.
Saat saya masih bersekolah di sekolah dasar itu, saya sangat dikenal dengan sebutan "Kucing hitam". Entah mengapa warga di sekolah menengah pertama internasional itu menyebut saya demikian. Mungkin karena saya selalu memakai jaket hitam atau saat saya masih duduk di bangku kelas 2 SMP, saya membuat kacau satu sekolah. Saat itu saya sudah tidak tahan dengan bully-an dari teman teman dan beberapa kakak kelas saya. Saat jam istirahat pertama. beberapa dari kakak kelas saya, datang ke meja saya. Mereka mengejek saya dengan berkata "Lihat anak ini, dia duduk sendirian di pojok-an kantin sambil memakan bekal yang dia bawa." dengan intonasi mengejek, kakak kelas laki laki saya itu mengucapkan kata kata itu. Saya berusaha menyepelekan kalimat yang dia ucapkan tadi, sambil terus menyantap nikmat bekal yang saya bawa. Tapi tiba tiba salah satu dari kakak kakak yang datang ke meja kantin yang saya tempati meludahi makanan saya sambil berkata "Aku tambahkan sedikit bumbu di makan mu ya". Kakak kakak kelas saya itu tertawa terbahak bahak setelah melihat temannya meludahi makanan saya. Kecuali salah satu kakak kelas yang memakai seragamnya dengan rapih, namanya Kak Dori. Saya sudah tidak tahan dengan sikap mereka itu, mereka terus mengganggu saya saat saya sedang istirahat, memeras uang jajan saya dan menyuruh nyuruh saya. Saat saya tidak turuti apa kemauan mereka, mereka akan memukul pinggang dan menampar saya. Saya membalikkan meja kantin yang saya tempati itu. Meja kantin itu terbuat dari besi yang tidak begitu berat. Salah satu dari 4 kakak kelas yang datang ke meja saya, tertimpa meja yang saya balikkan itu. Dia berteriak dengan kencang "ARRGHHH". Otomatis semua pandangan tertuju pada saya dan 4 kakak kelas itu . Teman dari kakak kelas yang tertimpa meja kantin itu segera mambantu temannya. Tetapi mereka terlambat. Saya segera mengangkat kursi dan melemparkan kepada salah satu kakak kelas yang masih berdiri. Tepat mengenai bagian perut, kakak kelas itu mengaduh kencang "ADUH ARGH". Beberapa dari murid yang melihat kejadian tersebut segera berlari ke arah ruang guru, hendak melaporkan kejadian yang dia lihat. Salah satu kakak kelas yang ikut membully saya itu, berjalan cepat menuju ke arah saya. Dia memukul pinggang saya, refleks saya langsung memukul ke arah wajah nya. Otomatis kerusuhan segera di mulai. Kakak kelas itu tidak terima dengan pukulan saya, dia memukul saya ke arah perut. Saya terjatuh dan mengaduh pelan. Saya segera berusaha untuk berdiri tapi terlambat, kakak kelas itu memukul wajah saya. Seketika darah keluar dari hidung saya. Dengan posisi saya yang terlentang di lantai kantin itu, kakak kelas yang menjadi lawan pukul saya itu merasa menang. Dia belum tahu kalau saya masih sadar, belum pingsan. Saya segera berdiri dan menendang kakak kelas itu di arah pinggang belakangnya, dia terjatuh dan mengaduh pelan. Kakak kelas itu segera berdiri, tetapi gerakan nya terlalu lambat. Saya segera menindih badannya dan memukul kepala nya. Salah satu teman dari kakak kelas itu berlari ke arah saya dan segera mengangkat kerah seragam saya. Dia hendak memukul wajah saya. Tepat pukulan dia hampir mengenai wajah saya, tiba tiba kepala sekolah saya datang dan berteriak lantang. "HENTIKAN!!!", reflek pandangan saya dan warga sekolah yang berada di kantin melihat ke arah Pak Zamad. Pak Zamad berlari ke arah saya. Setiba nya dia di tempat saya, dia berkata "Kalian berlima, ikut ke ruangan saya.". Kakak kelas yang memegang kerah seragam saya, hendak melanjutkan pukulannya ke arah pipi saya. "ASTAGANAGA, SEGERA!!!" Pak Zamad melanjutkan kalimat nya sambil menarik kerah kakak kelas yang ingin memukul saya.
*****
Setibanya di ruangan Pak Zamad, saya dan 4 kaka kelas yang membully saya duduk berderetan sambil menunggu Pak Zamad mengambil sebuah berkas di ruangan khusus untuk menyimpan berkas berkas penting.
5 menit hening menunggu, akhirnya Pak Zamad kembali sambil membawa 4 file. "Siapa yang memulai perkelahian di kantin?", tanya Pak Zamad dengan suara berat nya terdengar tegas. "Mereka Pak" jawab saya dengan singkat. "Apa yang mereka lakukan, Naar?" tanya Pak Zamad kepada saya. "Mereka mengejek dan meludahi makanan saya, Pak" jawab saya dengan pas. "Benar begitu?" tanya Pak Zamad sambil menatap kearah kakak kakak kelas saya itu. "Benar, Pak" jawab salah seorang kakak kelas saya dengan pelan. "Bicara yang keras! Saya tidak mendengar apa yang kamu kata kan.". "Apa yang Naar katakan benar pak, Javier, Kai dan Amos mengejek Naarthoen dan Amos sengaja meludahi makanannya Naar, Pak." jawab kak Dori dengan mantap. Kak Dori tidak pernah mengejek saya atau mengikuti kelakuan 3 teman nya itu, dia hanya bergaul dengan mereka karena orang tua Kak Javier dan orang tua Kak Dori bersaudara. "Astaga, kalian bertiga lagi lagi membuat masalah." ucap Pak Zamad sambil menggelengkan kepala nya. "Kai, Amos dan Javier. Kalian sudah tiga kali membuat masalah besar di sekolah. Hari sabtu besok akan saya pastikan orang tua kalian akan datang ke ruangan saya dan mentanda tangani surat perjanjian." ucap Pak Zamad dengan intonasi tegasnya. "Surat perjanjian apa pak?" tanya Kak Kai dengan bingung. "Surat perjanjian jika Amos, Javier dan kamu, membuat masalah lagi di sekolah ini. Kalian akan di pastikan di DO dari sekolah ini, paham?" ucap Pak Zamad dengan suara berat nya. "Paham, Pak" ucap 3 sekawan itu dengan lesuh. "Bagus lah, kalian paham apa yang saya katakan. Sebagai hukuman, setelah pulang sekolah nanti, kalian akan membersihkan semua toilet yang ada di sekolah ini. Sekarang kalian bertiga keluar dari ruangan saya." ucap Pak Zamad dengan tegas. "Baik, Pak" ucap Kak Javier sambil berjalan keluar ruangan. "Dan kamu, Dori. Silahkan kembali ke kelas mu dan mengikuti pelajaran dengan benar." ucap Pak Zamad sambil menatap ke arah Kak Dori. "Siap, pak" ucap Kak Dori dengan mantap. Saya hendak berjalan mengikuti Kak Dori yang berjalan keluar, tapi saat hampir dekat dengan pintu keluar Pak Zamad memanggil nama saya, "Naarthoen.". "Iya, Pak?" tanya saya sambil kembali berjalan ke arah kursi duduk yang di sediakan di ruangnya Pak Zamad. "Siapa yang suruh kamu kembali ke kelas?" tanya Pak Zamad dengan suara berat nya. Saya menggelengkan kepala saya. "Saya ingin mengobrol sebentar setelah kamu pulang sekolah, bisa?" tanya Pak Zamad sambil menatap dengan mata nya yang berwarna hitam mempesona ke arah saya. "Tentu saja bisa, Pak" jawab saya dengan menganggukan kepala saya. "Baik lah kalau begitu, silakan kembali ke kelas mu." ucap Pak Zamad dengan ramah. Saya segera mengangguk dan berlari menuju ruang kelas saya, karena jam istirahat telah habis dan pelajaran ke 3 akan segera dimulai
*****
Jangan lupa vote cerita ini jika kalian menyukai nya, terimakasih."- Author.
YOU ARE READING
Untitled
HumorSebuah persahabatan tidak selalu berisi dengan kebahagian, kesenangan, keseruan dan kebersamaan. Tapi di dalam persahabatan juga tidak selalu berisi dengan kesedihan, kehancuran, kepecahan, dan kemarahan. "baca cerita ini, jika kalian suka tentang...
