[JANGAN LUPA VOTE + COMMENT]
Kisah dia yang langsung terikat saat mata mereka saling menatap.
Kisah dia yang langsung merasa nyaman, saat dia mendapat kalimat yang menghangatkan.
Kisah dia yang memperjuangkan, tapi kisah dia juga yang akhirnya kehil...
Oops! Bu görüntü içerik kurallarımıza uymuyor. Yayımlamaya devam etmek için görüntüyü kaldırmayı ya da başka bir görüntü yüklemeyi deneyin.
KEHENINGAN menyelimuti dua insan manusia yang sedang bertatap dalam. Gadis dengan mata tajam itu mulai memejamkan mata indahnya dengan perlahan, menghirup oksigen di sekelilingnya, berusaha memenuhi rongga paru-parunya, berharap detak jantungnya ikut tenang. Namun, saat mata indahnya kembali terbuka, usahanya sungguh sia-sia.
Gadis itu, Auretta namanya.
Auretta menggigit bibir bagian dalamnya, yang semula menatap ujung meja kini mata Auretta beralih menatap singkat wanita yang ada di depannya.
"Jadi, menurut kamu kita cuman teman?" Madelyn akhirnya membuka suara, memecahkan keheningan yang terlalu lama menggantung di antara mereka. Nada bicaranya bergetar, Madelyn tak sanggup lagi menahan dinginnya atmosfer yang Auretta ciptakan. "What are we?" tanyanya lagi.
Gadis bermata tajam itu masih terdiam, Auretta mengerutkan keningnya, mencari kata dan kalimat yang tepat yang sesuai dengan perasaannya saat ini tanpa harus menyakiti perasaan Madelyn. Namun kalimat yang keluar dari bibir Auretta hanya kalimat yang mementingkan kehidupannya sendiri, semua kalimat yang berasal dari logikanya.
"As we should" nada yang keluar dari Auretta datar, namun mampu menusuk jantung Madelyn.
Madelyn terkekeh perih, matanya menatap kosong sekeliling ruangan apartement Auretta. Kemudian, wanita itu menarik seluruh oksigen di sekelilingnya untuk kembali membuka suara walau dengan jantungnya yang terasa sesak.
"Are you freaking serious?" walau kalimatnya penuh penekanan, dia tidak bisa menyembunyikan getaran yang muncul di tenggorokannya, dengan mata yang sudah mulai memerah. Sedangkan, Auretta menundukkan wajahnya, dirinya tidak mampu menatap kedua mata Madelyn yang menatapnya dengan berkaca-kaca."Auretta, please say something" Madelyn berujar lagi, merasa frustasi dengan keheningan yang menyelimuti, dan juga sesak yang makin memenuhi jantungnya.
"What should i say? we're friends, as it should be" ada jeda, Auretta mulai memberanikkan dirinya menatap Madelyn dengan tatapan lekatnya, walau tidak bisa dipungkiri sedikit goresan muncul di hatinya. "Kalau pun kita lebih dari itu, Aku nggak bisa teriak di depan semua orang bahwa kita pacaran, kan? aku gak bisa tunjukin ke dunia kalau kamu punya aku, kan?" Auretta mulai menekan pernyataannya walau dibalut dengan pertanyaan.
Bohong kalau Auretta tidak ingin berteriak dan menyombongkan pada dunia tentang siapa Madelyn dalam hidupnya. Semesta paling tahu seberapa besar keinginan Auretta bersorak bahwa Wanita di depannya adalah kepunyaannya, seberapa besar keinginan Auretta mencium Madelyn di depan semua orang dan memberi tahu mereka kalau rasanya semanis yang dunia tidak bisa ciptakan. Namun, mereka berdua paling tahu kalau itu mustahil untuk terjadi. Gadis itu bersembunyi di belakang, seolah-olah memikirkan kehidupan Madelyn yang akan berubah saat dia melakukan hal diatas, walau nyatanya Gadis itu hanya memikirkan resiko yang akan terjadi dalam kehidupannya sendiri jika dia melakukan itu semua.
Madelyn menggelengkan kepalanya, semua kalimat Auretta benar adanya. Tapi, hatinya terlalu sakit untuk menerima semua kalimat Auretta. Wanita itu menghapus kasar air mata yang keluar tanpa permisi, dengan senyuman kecilnya Madelyn masih sama sekali tidak mengerti jalan pikiran Auretta. Madelyn merasa bahwa hanya dirinya yang menghargai hubungan mereka.
"Selama ini hubungan kita apa Retta? mainan?"
"Adel."
"Just answer me with yes or no" Madelyn menatap Auretta dengan tatapan menuntut jawaban, sedangkan yang ditatap menghela nafasnya dengan gusar, Wanita itu melontarkan pertanyaan lainnya . "Siapa aku buat kamu selama ini?"
Auretta lagi-lagi hanya terdiam, semua pertanyaan yang Madelyn utarakan membuat Auretta gusar. Walau sebenarnya dia sangat tahu apa jawabannya. Tapi ,otaknya menahan mulut Gadis itu untuk mengucapkan sepatah katapun yang berlandaskan dengan perasaan.
Madelyn menghela nafasnya dengan kasar, memejamkan matanya, mencoba menetralkan perasaannya yang tidak bisa dijelaskan. Kemudian Madelyn mengangguk, mencoba mencerna dan mendapati kesimpulannya. Kesimpulan yang dia tarik sendiri.
"Aku tau" Madelyn memulai lagi kalimatnya. Auretta menatap mata Madelyn. Akhirnya, mata mereka bertemu dari sekian lama keheningan yang terjadi. Gadis itu menggigit bibir dalamnya lebih kuat sebelum Madelyn melanjutkan ucapannya. "Aku cuman mainan buat kamu, hubungan kita cuman palsu"
Dengan cepat, Auretta menggelengkan kepalanya, dirinya mulai berdiri menghampiri Madelyn yang berada tidak jauh dari tempatnya, dengan sedikit tergesa.
"Kamu ngomong apa sih? aku gak pernah nganggep kamu kayak gitu" Auretta berujar dengan nada seriusnya.
"Terus apa? " ada jeda "kamu diem lagi kan, kamu emang nggak pernah nganggep hubungan kita serius, iya kan? kamu aja bahkan gak bisa jawab siapa aku untuk kamu selama ini" Madelyn berucap dengan penuh penekanan, Wanita itu memberikan senyum kecutnya yang lagi-lagi hanya dijawab dengan keheningan.
Auretta bukan tidak ingin menjawab semua ucapan Madelyn, bukan juga karna dia tidak mengetahui harus menjawab apa. Gadis itu hanya takut jawabannya akan membawa Auretta ke situasi yang lebih tidak tepat.
Madelyn menjauhkan dirinya, kemudian menghela nafasnya sambil memejamkan matanya sekilas, membiarkan air bening itu kembali jatuh dari sana, Madelyn menarik sudut bibirnya keatas dengan susah payah, walau lagi-lagi diikuti dengan air mata yang turun seenaknya.
"Good night, Auretta"
Sedangkan Auretta mendadak gelisah, Gadis itu ingin sekali membawa Madelyn kembali ke pelukannya, menyelesaikan permasalahan yang dia ciptakan.
Dengan cepat Auretta memegang pergelangan tangan Madelyn, menahan langkah Wanita itu. Mata mereka bertatap dengan dalam, dan mulai saling mendalami satu sama lain.
Madelyn bermonolog dalam hatinya berharap bahwa Auretta mengerti tatapannya. 'can u please just say something, bilang ke aku kalo kamu cinta sama aku Auretta, even if it's fake i really don't care. just say it, dont make me feel this way'
Sialnya, Auretta sibuk merutuki dirinya, melakukan tindakan ini namun masih menutup mulutnya dengan rapat. Lagi-lagi logika memenangkan situasi yang Auretta sebabkan.
Situasi yang membuat dua insan manusia itu kembali tidak mengerti harus bagaimana mengatasinya. Harus menyelasaikan masalahnya? atau menyelesaikan kisah mereka selamanya?
🦋🦋🦋
HAI!! ABSEN DULU DONG DISINI: nama ttl askot BERCANDA, ya gak harus kayak gitu😭
ini pertam kali aku bikin cerita GL semoga suka, dan gak berantakkan ya. Sangat diperbolehkan untuk kritik dan sarannya. Tapi, dengan kalimat yang baik ya🤍 feel free juga untuk dm aku untuk sekedar ngobrol atau bahas cerita.
I'll see you soon okay!
🔫 SPOILER NEXT PART. next part itu belum chapter one ya, tapi visual dan pengenalan karakternya dulu.