Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Chapter I

17 3 0
                                        

Malam ini. Gadis berseragam putih abu-abu duduk ditaman yang sudah sepi. ia hanya mengutuk dirinya agar cepat hilang, tanpa memperhatikan sekitar yang sudah sepi tanpa manusia.

Berjam-jam ia duduk disitu sambil memandangi langit, dari senja hingga temaram. Ia tak pulang. Kacau. Benar benar kacau hidupnya. Dulu, sekarang, dan esok, pun tetap sama kacaunya.

Hanawa. Gadis yang selalu menganggap dirinya iblis yang dikutuk menjadi manusia dusta, manusia sial, manusia tak berguna bagi siapapun.

"Sampai kapan lo disini? Mau jadi gembel?"

Hanawa terkejut dengan suara itu. Terasa familiar, namun bukan adiknya. Hanawa melihat sebelahnya, lelaki itu tak melihat Hanawa. Seperti tak perduli, padahal lelaki itu yang mengajaknya bicara. Reja, namanya Reja.

"Lo kenapa juga kesini?" Tanya Hanawa kepada yang bertanya terlebih dahulu.

Reja diam sejenak, meneguk minuman yang masih belum habis. Sekali lagi, lelaki itu tak memandang Hanawa.

"Terserah gue dong, emang lo doang yang boleh kesini?"

Hanawa berdecak kesal, dan ingin beranjak dari tempat duduknya. Mengambil sebatang rokok dari sakunya, ia menyalakan korek api. Menyedot dalam-dalam batang rokok tersebut, hingga asap keluar.

"Lo ngerokok?"

"bukan urusan lo!" Tanpa memperdulikan lelaki disebelahnya, Hanawa pergi meninggalkan Reja sendirian di bangku taman.

Hanawa berjalan, tanpa memperdulikan orang-orang sekitar yang terus memandanginya. Hanawa risih sebenarnya. Namun, ia juga sadar dengan penampilan yang mengundang perhatian orang-orang.

Bahkan Hanawa tau, ia pasti di cap sebagai anak nakal yang membangkang orang tua, tukang bolos, tidak tahu aturan. Tidak, Hanawa tidak seperti itu. Sekolah ia jalani seperti anak-anak sekolah pada umumnya. Ia merokok, hanya ingin menghilangkan masalah dipikirannya sekarang.

Sudah cukup dirumah, disekolah, ia selalu diatur bagai boneka.


Hanawa berhenti didepan cafe baru, yang sudah tutup. Ia tau, teman sekelasnya ada dibelakangnya. Hanawa melihat dari kaca cafe.

"Ngapain sih ngintilin gue?" Hanawa kesal, kenapa malam yang tenang ini harus kacau karena Reja.

"karena lo tuh cewe, kan gak lucu kalo lo diculik! Terus organ lo dijual. Emang mau?"

"Gak usah norak. Lagian juga bukan urusan lo"

"Wawa. Gak satu kali gue lihat lo kacau. Ditempat yang sama juga. Lo cewe wa. Gue khawatir" Reja benar-benar khawatir, bukan karena maksud lain. Karena ia paham, ia memiliki adik perempuan. Dan Reja juga tahu, bahayanya perempuan di Jakarta sendirian malam-malam.

"Gue anter pulang."

"REJA!" Hanawa teriak, namun tak terlalu keras.

Ia pusing, bagaimana cara menghindar dari lelaki, yang masih dibelakangnya sekarang.

Hingga titik dimana Hanawa pasrah dengan Reja. Reja menggenggam pergelangan tangan Hanawa, dan membawanya lari menuju taman tadi. Reja memakaikan Hanawa helm miliknya, padahal seharusnya, Reja memperhatikan keselamatannya dulu bila perlu.

HanawaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang