Penulis : Ghaida_salwa03
Jumlah kata : 2.636 kata
Tema : Mesin Waktu
~Selamat Membaca~
Kata mama, ayah orang hebat. Ayah pernah menciptakan CRT-021, mesin waktu berbentuk cermin portal raksasa yang katanya dapat mentransfer manusia ke dimensi waktu, entah masa lalu atau masa depan. Walau mirisnya justru alat mengagumkan inilah yang merenggut nyawanya. Setelah ayah pergi, barulah aku lahir. Seakan-akan keberadaanku adalah pengganti kepergian Ayah. Walau begitu, tetap saja, aku tak pernah sekalipun melihat sosok pencari nafkah itu. Aku rindu, kapan Ayah akan pulang?
"Nanti ketika Dery sudah besar, Dery bisa jemput ayah. Bawa ayah pulang, ya?" Itulah jawaban Mama tiap aku menanyakan keberadaan ayah menjelang tidur.
Ayah meninggalkan banyak kenangan di rumah, salah satunya lukisan CRT-021 yang diciptakannya. Begitu mengagumkan, mataku selalu berbinar acap kali melihat lukisan penuh warna itu. Di bagian bawah lukisan terdapat nama ayah, Dery. Sama seperti namaku.
"Gimana caranya Dery jemput ayah? Mama bilang, mesin waktu milik Ayah hancur." Sembari aku berbaring di kasur, Mama menarik selimut sampai menutupi tubuhku.
"Nanti Dery bikin mesin waktu, persis seperti punya ayah. Dengan begitu, Dery bisa jemput ayah. Iya, 'kan?"
"Apa iya Dery bisa?"
"Bisa dong."
Seperti dongeng sebelum tidur. Mama selalu menceritakan seperti apa kegagahan, kesabaran, dan ketelatenan ayah dalam membuat CRT-021. Ketika kutanyai apa alasannya menciptakan benda keren itu, Mama menjawab, "Ayah ke masa depan, mau menyelamatkan seseorang."
Kemudian aku akan menjawab, "Berarti nanti Dery akan ke masa depan untuk menyelamatkan ayah dan orang yang ingin ayah selamatkan." Terus seperti itu, tanpa ada progress dalam kehidupanku. Seakan-akan keberadaan ayah beserta CRT-021 itu hanyalah dongeng belaka yang Mama berikan tanpa pembuktian.
Karena semakin aku besar, kian aku sadar bahwa mesin waktu itu tidaklah nyata. Mungkin mama bohong tentang semuanya, tidak hanya CRT-021, tetapi juga Ayah, kesabaran, kegagahan, ketelatenan ... apa pun itu. Semuanya bohong. Sejak itu, hubunganku dengan mama merenggang. Mama sibuk menunggu kepulangan ayah yang penuh ketidakpastian, sedangkan aku sudah tak lagi peduli pada hal itu.
Ayah tidak akan pernah pulang.
Pagi ini aku akan pindah rumah bersama istriku, meninggalkan Mama di rumah sendirian bersama kenangan bodohnya tentang ayah dan mesin waktu ilusi mereka. Aku lelah berdebat dengan wanita tua yang kekeuh dengan imajinasi tak normalnya itu. Mesin waktu yang tak pernah ada dan ayah yang pergi entah ke mana.
"Kau sudah dengar kabar?" Itu Emma, istriku, namanya persis seperti nama mama. Entah hanya kebetulan atau tidak, karena namaku juga persis seperti nama Ayah. Begitu juga dengan wajah kami. Seperti kembaran, hanya saja dalam versi lebih muda.
"Apa?"
"Mamamu meninggal, kemarin dikuburkan. Kau tidak datang di pemakamannya?"
Aku yang sedang sibuk menghabiskan sarapan di meja makan sukses dibuat tersedak oleh pernyataan milik Emma. Reflek tanganku mengambil segelas air putih dan meneguknya kasar. Sedikit tidak percaya bahwa Mama sudah tiada. Muncul secuil rasa penyesalan karena meninggalkannya sendirian di rumah, sampai menjelang kematiannya aku tidak mendapat kabar apa pun.
"Nanti sore kita pulang ke rumah Mama," ucapku selepas makan pada Emma. Wanita itu tak menolak, hanya mengangguk sembari merapikan meja makan dan membawa piring gelas kotor ke belakang.
YOU ARE READING
TRYCEON
Science FictionApa kau pernah membayangkan kehidupan di masa depan? Adanya teknologi super canggih, penularan wabah mematikan, bumi sekarat, manipulasi genetik, apokaliptik, atau ... alien? Itu masih menjadi rahasia, tetapi antologi ini akan memberikan gambaran...
