Maka Memerahlah Ia di Merah yang Merah

284 31 0
                                        

Trigger & Content Warning(s): homophobic parent, homophobic society, breaking-up, & implied suicide. Read at your own risk.



[]

Choi Soobin ingin menghadiahkan Venus kepada pria bernama Choi Yeonjun yang akhir-akhir ini mengunci atensi Soobin. Akan tetapi, satu masalah muncul. Venus bukanlah miliknya. Ketika Soobin mengungkapkan keinginannya untuk memiliki Venus lalu memberi bola besar itu kepada sosok lelaki yang setahun lebih tua darinya, tiba-tiba ibunya marah besar.

"Dia laki-laki, Soobin!" Begitu sang ibu berteriak.

Di antara gema teriakan yang memekakkan telinga, Soobin menolak untuk mendengar. Semburan lahar dari ibunya melelehkan tiap-tiap buih-buih keinginan-keinginan Soobin yang dulunya ingin menyenangkan hati sang ibu. Kini yang tersisa hanya gelembung udara dan puing-puing kehancuran atas keteraturan yang dulu subur di lubuk hati Choi Soobin.

Soobin kesulitan untuk bernapas. Kehancuran yang disebabkan ibunya meluluhlantakkan segalanya. Untung saja, masih ada gelembung udara yang diterima Soobin dari ekspedisi afeksi dari Yeonjun.

Nyatanya, jika puing-puing itu dibersihkan lalu bangunan baru dibangun sembari gelembung udara tetap menemukan jalannya, Soobin bisa hidup sampai seribu tahun lagi. Namun, apakah mungkin hati manusia sembuh setelah hancur tak berbentuk?

Namun, apakah mungkin cinta hanya memberi kebahagiaan?

"Bagaimana jika kita mengakhiri ini, Soobin?" tanya Yeonjun sambil memainkan pemantik api yang ada di tangannya. Celana jin yang Yeonjun kenakan menyimpan bekas-bekas rokok yang membakar tiap sudut dengan minimalis. Ia terlihat berantakan di mata semua orang, kecuali Soobin.

"Kenapa kau mengatakan itu, Kak?" Soobin balas bertanya sambil menggenggam erat dompet cokelat tua yang merupakan pemberian Yeonjun sebulan lalu. Terdapat dua tiket bioskop, dua tiket taman bermain, dan kartu kredit yang sudah berteriak kesakitan karena saldonya telah digunakan untuk reservasi restoran mewah untuk dua orang di dalam dompet tersebut.

Genggaman erat Soobin pada dompet tersebut bukan karena takut dompetnya akan dicuri. Ia lebih takut dengan kemungkinan pemberi dompet itu akan hilang. Soobin takut Yeonjun memilih pergi atas keinginannya sendiri dari hidup Soobin yang demi hari ke hari semakin sesak dan penuh sesal. Soobin sangat takut cinta yang kini merupakan segala-galanya raib begitu saja.

"Soobin, kautahu? Menurutku, ada tiga manifestasi penyebab membusuknya dunia ini." Perkataan Yeonjun tidak menjawab pertanyaan Soobin, tetapi yang lebih muda memilih diam untuk mendengar.

"Yang pertama adalah orang yang korupsi. Yang kedua adalah pelaku kekerasan seksual. Yang ketiga adalah kehadiran cinta abnormal kita di dunia yang menuntut semua orang menjadi normal. Sayang, lepaskan aku, ya?"

Tidak pernah di hidup Soobin ia melihat kehancuran sebesar itu di dalam netra kecil Yeonjun yang siap melebur demi melepas titik-titik air mata.

"Jangan menangis, Soobin," ucap Yeonjun sambil menangkup pipi kekasihnya.

Oh, Tuhan. Rupanya daripada bom yang siap meledak di netra Yeonjun, Soobin yang kehilangan gelembung-gelembung udaranya meletus lebih cepat. Tidak pernah di hidup Soobin ia merasakan rasa sakit sedahsyat itu di titik tak terlihat dalam lubuk hatinya.

Soobin tak bisa bernapas. Beberapa sisa bangunan yang dulu masih berdiri pun runtuh menutupi tiap-tiap celah kecil yang digunakan gelembung udara untuk masuk. Yang bertakhta hanyalah puing-puing kehancuran atas cinta yang dulu mekar di lubuk hati Choi Soobin. Kini, gelembung-gelembung udara telah tiada bersamaan dengan detik di mana Yeonjun membakar ujung rokok untuk diisapnya.

Api itu membara. Merah dan menyala.

Panasnya merambat hingga menyentuh puing-puing kehancuran. Semuanya terbakar. Gelembung-gelembung udara benar-benar pergi. Hanya ada asap dan abu di Soobin yang memerah.

Kejadian itu satu hari sebelum ulang tahun Soobin. Tepatnya kemarin, karena hari ini ia berulang tahun.

Soobin hidup di Merah. Amarah meluap dari dirinya hingga ia sendiri memerah. Tiap-tiap gang yang ia lalui untuk memotong jarak perjalanan bersama Yeonjun; tiap-tiap rokok yang ia bakar untuk menemani sang kekasih memotong masa hidupnya; tiap-tiap mi instan yang Soobin dan Yeonjun habiskan berdua untuk memotong biaya hidup ....

Soobin ingin membakar semua memori yang tersisa di kepalanya.

Akan tetapi,

Yeonjun dan kenangannya bersama Yeonjun merupakan segala sesuatu yang berarti untuk Soobin. Membuat kepingan berharga yang ia buat berdua dengan cintanya adalah dosa besar yang membuat Soobin tak bisa memaafkan dirinya.

Maka memerahlah Soobin di Merah yang merah. Ia tidak akan membakar cintanya. Soobin memerah untuk melepaskan dirinya sendiri, melepaskan cintanya yang bersorai akan kebebasan, melepaskan kepingan kenangan akan cinta abnormalnya, melepaskan puing-puing kehancuran dan gelembung udara yang pernah mengisi dirinya.

Soobin tidak bisa membakar cintanya.

Di Merah, Soobin marah hingga merah. Maka memerahlah ia di Merah yang merah.

/\
A/N:

Drabble ini kutulis untuk merayakan ulang tahun Bapak Leader Tercinta kita a.k.a Choi Soobin! Lama gak nulis, aku sebenarnya takut tulisanku ini gak nge-feel. But I've tried my best and honestly, I'm quite satisfied (for now) with the final result of this drabble. Semoga kalian suka, ya! Tentunya, doa terbaik untuk Soobin yang udah jadi pelita di malam yang gelap. Selamat ulang tahun, Sayangku! Apresiasi (vomment) dari kalian sangat sangat berharga buat aku! Jangan ragu buat ninggalin vomment, ya. Terima kasih banyak!
\/

Di Merah Ia Marah Hingga MerahStories to obsess over. Discover now