"Arga."
Gimana sih rasanya dikejar-kejar utang? Pasti risih, serem dan gk aman, iya kan? Tapi tidak bagi cowok yang sedang berbincang itu.
"Gue pergi dulu yah," ucapnya kepada kedua temannya.
"Arga tunggu."
Namanya Arga Erlangga, cowok dengan segala kelebihannya bukan kesempurnaannya, karena kesempurnaan hanya milik tuhan.
Bagi Arga seseram-seramnya dikejar utang, lebih seram dikejar cewek yang slalu membuntutinya.
Arga berusaha lari untuk menghindari cewek yang daritadi memanggilnya, namun na'as dia sudah lebih dahulu dihadang oleh dua teman cewek itu.
"Nah'kan gk bisa lari dari Lindri," kata Lindri yang berada di depan Arga.
Namanya Lindri Stevany gadis biasa dengan segala kecerobohannya. Gadis yang slalu dihindari oleh Arga. Gadis yang bagi Arga lebih seram daripada dekoleptor.
"Lo ngapain sih Lin ... Lin ck," kata Arga frustasi dengan kehadiran Lindri.
"Gemes gue lama-lama ama lo," keluh Arga.
"Apa tadi Arga bilang? Gemes? Arga gemes sama Lindri?" Lindri tersenyum lebar. "Nikmat mana lagi yang kau dustakan Lindri," lanjut Lindri mengadahkan tangan kelangit.
"Salah ngomong gue!"
"Udah awas-awas gue mau pergi," ucap Arga, lalu ngacir dari hadapan Lindri, namun dengan segera ditarik sehingga kembali berhadapan dengan Lindri.
"No, no, no! Arga gk boleh pergi, keep stay in here with Lindri, ok?" ucap Lindri.
Arga pasrah....
"Lo sebenernya mau ngapain sih?"
"Lindri mau mengutarakan isi hati Lindri yaaaaaaaaaaaaang terdalam," jawab Lindri tersenyum manis.
"Lindri, harus berapa kali gue bilang. Gue gk bakalan suka sama lo, gue gk bakalan nerima lo, gue gk bakalan bales perasaan lo, gu—"
"Arga diem, atau Lindri kecup."
Damn, Arga sontak membungkam mulutnya. Daripda dirinya ternoda oleh bibir Lindri.
"Jadi, Lindri itu mau confess." Lindri menjeda ucapannya.
"Apaan sih? Dari kemaren juga udah confess." batin Arga.
"Mphhh mphhh hmmmm." Arga berdehem, memberi isyarat kepada dua temannya agar membantunya lepas dari Lindri.
Aldo, teman Arga hanya menggerakkan mulutnya membentuk "why?"
Sedangkan Agit hanya membalasnya dengan isyarat menunjuk kebelakang dimana disana ada kedua teman Lindri.
Yang orang lain dengar "mphhhh hmphhh."
Yang sebenarnya Arga katakan. "Tolongin gue, anjim!"
"Gk bisa, tolol! Ada temen Lindri dibelakang, nanti gue ikutan abis," balas Agit, menggunakan isyarat.
Sedangkan Lindri sedaritadi mengoceh, namun tak pernah didengarkan Arga.
"Nah gitu, jadi gimana?" tanya Lindri pada Arga.
Arga hanya memasang wajah bingung karena daritadi ia tak mendengarkan apa yang Lindri katakan.
"Hah?"
"Ha ho ha ho, kek penjual keong lo," jawab Lindri.
"Hah?"
"Argaaaa."
"Jadi...."
"Jadi apa?"
Kring ... kring....
"Jadi gue mau kekelas, bye!" Arga ngacir dengan kekuatan supernya melebihi avatar itu menuju kelas.
VOUS LISEZ
Arga-Lindri
Roman pour AdolescentsPacaran ala Arga-Lindri itu aneh. Cowoknya yang gk mau ngakuin kalau mereka pacaran, sedangkan ceweknya slalu kekeuh maksa buat pacaran dan ujung-ujungan mereka bucin didepan teman-temannya.
