01 Prolog || O S P E K

2.7K 105 143
                                        

-Kediaman Araska-

[07:30 pm]

Baju kemeja putih, dengan bawahan Rok selutut berwarna hitam sudah dikenakan di tubuh ramping gadis bernama Gellanic Milky Araska itu. Rambut yang terikat sesuai dengan jumlah tanggal lahir yang ditambah dengan jumlah bulan kelahiran, sudah membuatnya bak orang gila saja saat ini.

Tak lupa dengan tas keresek, name tag, dan topi kerucut yang ia pakai menambah kesan orang gila pada tampilannya. Kalian tidak perlu bertanya lagi, alasan mengapa Gella mengenakan busana seperti itu. Sudah pasti ini hari pertama Ospek baginya, dan anak-anak lain.

Saat tengah menuruni tangga, Gella mendengar tawa renyah dari arah belakang. Ia tidak perlu susah payah menoleh ke sumber tawa tersebut, karena sudah dapat di pastikan tawa nistaan itu berasal dari setan tak bertanduk yang menyandang status sebagai abang laknatnya itu. Sebut saja namanya Khageswara Araska.

"Orang gila, orang gila," olok Khages layaknya bocah SD.

Gella menghiraukan cemo'ohan yang menyerupai bisikan iblis itu, dan tetap melanjutkan langkahnya menuju meja makan. Khages juga ikut mengekor di belakang Gella, tak lupa dengan tawa yang masih saja terdengar darinya.

"Nanti penghasilannya bagi dua yah?"

Gella melirik Khages malas. "Apa sih? ga jelas banget,"

"Yah ini lo mau ngamen kan?" celetuk Khages sembari menyentuh kresek yang Gella selendang kan, lalu berganti menyentuh ikatan pada rambut gadis itu.

Gella berdecak skeptis. "Emang cuma lo doang, abang yang kesenengan ngeliat adek sendiri lagi kesusahan gini,"

"Ini namanya nyemangatin,"

"Dari segi apanya sebuah tawa bisa jadi bentuk menyemangati?"

"Makanya lo kalo nilai sesuatu itu liat dari sudut pandang yang positif dong, jangan negatif terus,"

Gella mencebik tak peduli. "Ngalus aja teros. Belom aja gue gebuk,"

"Lo gebuk nyamuk aja kayaknya tuh nyamuk masih bisa terbang lagi sih, ga sampe mati," cuit Khages lugas. "Orang tangan kerempeng gitu,"

Gella menggeram, "Abang setan lo!"

"Gella! Mulutnya kayak ga pernah di sekolahin yah?"

Tegur wanita paruh baya, yang baru saja keluar dari arah dapur. Namanya Maya, Ibu dari kakak beradik ini. Maya meletakkan nasi goreng dengan tatanan telor mata sapi di hadapan keduanya.

"Huhuuuuu, Orang gila kena marah," ejek Khages berbisik saat Maya kembali berbalik ke arah dapur.

Gella mendengus sembari menatapnya nyalang. "Kan abang duluan loh, Ma, liat aja tuh,"

"Apaan, orang gue lagi makan kok," Khages menyuap nasi gorengnya untuk menambah kesan drama dalam bullying yang sedang ia laksanakan.

"Udah ah! Cepetan makan, habis itu berangkat kuliah," titah Maya sembari ikut duduk di sisi kiri Gella.

"Barang-barang yang di suruh bawa udah di siapin kan, Gell?"

Gella menelan terlebih dahulu makanannya, "Udah, Ma, lagian cuman di suruh bawa buku kemahasiswaan doang,"

"Yakin ga ada yang ketinggalan?"

"Iyaaah,"

"Abang, adeknya di jagain nanti,"

"Ogah, di suruh jagain human darah tinggi gitu,"

"Dih, siapa juga yang minta di jagain?!"

"Ga boleh gitu yah, bang," Maya menatap garang ke arah Khages.

ketua BEM [ONE'O KING]  ||  On Going √Stories to obsess over. Discover now