"Ibu apaan sih, norak tau" itu yang diucapkan Rindu pada ibunya tadi pagi, setiap akan berangkat sekolah ibunya selalu mencium pipi Rindu kanan dan kiri, Rindu berkali-kali menolaknya, tapi Ibunya tidak pernah mempedulikannya. Rindu merasa sudah besar dan sebentar lagi sudah pake baju abu-abu putih, dia merasa risih dan malu. Entah kenapa pagi ini, bahkan mungkin setiap hari dia kesel banget sama ibunya, mulai dari bangunin tidur ibunya sudah kasih nasehat terus. "Kamu tuh sebentar lagi sudah mau SMA, harusnya sudah bisa bangun sendiri, sudah harus mandiri". Dan masih banyak lagi, harus rapiin kamar, nyiapin buku, oh My God sampai-sampai telinganya terasa panas. Kalau sedang diomelin ibunya gini Rindu pingin cepat-cepat berangkat sekolah, ketemu teman- teman dan melupakan semuanya. Sepertinya di luar sana dunia terasa lebih indah dan bebas.
"Woi.....ngelamunin siapa hayoo," suara Kirani sahabatnya mengagetkan Rindu. Rindu yang dari tadi berdiri di depan gerbang sekolah benar-benar kaget.
"Eh kamu Kirani, tumben kamu datang terlambat, kesiangan ya?" Rindu balik bertanya.
"Nih anak ditanya malah balik nanya, enggak lah, tadi tuh kiriman makanan buat sarapan terlambat datangnya", jelas Kirani.
Terbayang dipikiran Rindu, enaknya jadi Kirani tiap hari makan makanan dari katering, pasti enak tuh makanan dan tiap hari pasti gonta ganti menunya. Tidak seperti dirinya, hanya makan makanan yang dimasak oleh ibu rumah tangga biasa. Dimata Rindu, hidup Kirani sangat sempurna, orangtuanya semua bekerja di perusahaan terkenal, pasti gajinya besar sampai-sampai makan saja tiap hari pakai jasa katering.
"Kirani, enak dong jadi kamu, mau makan udah tinggal datang aja," kata Rindu. Ada nada iri dalam nada bicaranya.
Kirani hanya membalas dengan tersenyum, tipis seperti dipaksakan.
Kemudian ditariknya tangan Rindu untuk segera ke kelas.
Mereka melangkah menuju ruang kelas 9A yang ada paling ujung, lumayan jauh dari gerbang. Rindu dan Kirani hanya terdiam. Entah apa yang ada dipikiran mereka. Sekonyong-konyong mereka setengah berlari menuju kelas karena bel masuk berbunyi.
"Eh Rin, boleh nggak nanti aku ikut pulang ke rumahmu?" kata Kirani tiba-tiba.
Rindu kaget sampai dia melongo mendengar kata-kata Kirani.
"Malah melongo, boleh nggak, nggak boleh juga gakpapa,"
"Boleh kok," spontan Rindu menjawab. Dia ngerasa nggak enak kalau menolak Kirani untuk bermain ke rumah nya."Memangnya kamu nggak dimarahi?" lanjut Rindu.
"Ya enggaklah, nggak akan ada yang melarang, bebas ... tenang aja Rin, aman kok."
"Ok deh, siap," kata Rindu sambil mengacungkan dua jari jempolnya, keduanya tersenyum.
Dalam hati, Rindu masih bingung, gimana nanti kalau Kirani tahu dia dicium Ibu ketika pulang sekolah, terus ibu peluk-peluk, nanyain ini itu," Gimana nih, pasti Kirani ngeledekin aku kalau tahu ibu lebay banget." Pikiran Rindu berkecamuk.
Rindu dan Kirani berjalan beriringan menuju pintu gerbang. Sang Bagaskara membakar bumi siang ini, tapi Rindu tak merasakannya. Rindu berjalan sambil mengutak atik Hp ditangannya. Sesekali pundaknya tersenggol anak-anak yang mendahuluinya, "Woy minggir dong." Rindu tak mempedulikannya. Yang penting baginya dia harus mengirim pesan ke rumah hari ini tidak usah dijemput. Ya hari ini dia pulang bareng Kirani. Sebenarnya masih ada rasa tidak tenang di hatinya. Kelihatan di raut mukanya seperti resah, takut atau semacamnya. "Ah, sudahlah" begitu akhirnya ia menenangkan kerisauan hatinya.
Langit di sebelah timur sudah benderang dan cahayanya menghangatkan seisi bumi. Tidak dengan Rindu, dia lemas, matanya sayu. Semalaman dia memikirkan apa yang akan dikatakan Kirani setelah dia melihat semuanya. "Oh Tuhan tolong aku" bisik hati Rindu.
"Hai Rin," tiba-tiba Kirani sudah berdiri di sampingnya.
"Hai, udah lama Ki" sahut Rindu sambil menggeser duduknya memberi tempat Kirani duduk di sampingnya.
"Enggak kok, baru aja."
"Oh, ok."
"Rin, boleh nggak aku sering-sering main ke rumahmu"
"Ha, kok Kirani malah mau main ke rumah lagi, dia nggak risih apa setelah kemarin liat semuanya," batin Rindu. Sesaat Rindu terdiam.
"Kok malah diam, gak boleh ya?" Kirani sedikit kecewa. Nada suaranya melemah. Matanya penuh air yang bila dia berkedip saja pasti akan keluar airmata dan merembes di pipinya.
"Gakpapa kok Rin kalau gak boleh" dan benar saja mata Kirani sudah gak kuat menahan air mata itu dan meneteslah air mata itu.
"Hai Ki, Ki kamu kenapa, kenapa nangis, boleh kok Ki, cuma ..." Rindu menghentikan bicaranya.
"Tuh kan, kamu pasti keberatan, aku tahu kok Rin, kamu pasti nggak mau kasih sayang Ibu kamu terbagi kan?" Tiba- tiba Kirani menyela, ada kesedihan di raut mukanya.
"Di rumah kamu, bertemu ibu dan ayah kamu, bagaimana mereka menyayangi kamu, aku merasa ikut merasakan itu semua Rin. Dan sebenarnya aku juga ingin dipeluk Papa dan disayang sama Mama, berangkat sekolah diantar sampai depan rumah, dicium, diomeli, diingetin yah intinya diperhatiin gitu, tapi kayaknya gak mungkin."
Rindu mendengar suara hati Kirani, sesekali dia mengelus pundak Kirani untuk menenangkannya. Tak disangkanya dunia Kirani yang tampak selalu indahnya, hidupnya serba mewah, semua kebutuhannya bisa terpenuhi, ternyata gersang.
Bagaimana dengan dirinya? Rindu merasa menjadi orang yang tidak pernah bersyukur, masih bisa sekolah, bisa makan, tinggal dalam keluarga yang penuh kasih sayang. Ayah yang pekerja keras dan Ibu yang penuh perhatian. Mereka orangtua yang bertanggung jawab. Yah, meskipun sederhana, tapi tidak kekurangan. Tiba-tiba Rindu ingat Ibu, dia merasa bersalah banget. Tiap pagi Rindu selalu jengkel dan marah sama Ibu.
Kadangkala kehidupan yang kita jalani ini bisa jadi diimpikan oleh orang lain. Jadi bersyukurlah dengan apa uang kita miliki.
Dan Rindu ingin hari ini bumi berputar cepat dan segera membawanya pada siang hari. Rindu ingin cepat pulang dan memeluk ibunya erat.
"Rindu kangen, maafkan Rindu, Bu."
YOU ARE READING
Duniaku Masih Lebih Indah
Short Storyberisi sekumpulan cerpen karya kita semoga bisa jadi referensi
