[Prolog]

187 9 0
                                        

Siang hari, di mana para murid mulai kepanasan, nggak cuma dahaga kayaknya otak mereka pun udah pengen meledak. Apa lagi kalau lo pada nengok ke kelas 11 yang siang ini pelajaran matematika tengah berlangsung. Ada sebagian murid yang tidur, menyimak dengan serius pada penjelasan guru, atau bengong seperti contohnya; Gue, Kahara Aditya Utama, yang sering dipanggil dengan sebuatan Hara, gue adalah salah satu dari 27 murid yang ada di kelas 11. Seperti yang gue bilang, gue sedang asik berselancar di dalam otak, alias bengong. Hingga bell tanda istirahat kedua terdengar, barulah gue kembali ke dalam dunia nyata sebagai orang pertama yang keluar dari kelas, padahal gurunya aja masih sibuk menerangkan rumus-rumus.

Di kantin. Gue bertemu dengan teman-temen gue, kebanyakan dari teman gue adalah kakak kelas yang badungnya bisa membuat banyak orang mengelus dada. Seperti tiga sekawan dari kelas 12 yang diketuai oleh Jef, Yudha, dan Juan.

"Gue ada informasi penting." Kata Bang Yudha.

Ya. Bahkan gue baru duduk, dan gue sudah disuguhkan informasi yang sudah bisa gue tebak. Ini pasti soal penyerangan antar sekolah.

"Apaan?" Gue bertanya sambil nyomot kentang goreng punya Bang Juan.

"Lo tau Gidon anak sekolah Al Azhar?"

"Nggak." Jawab gue.

"Hmm. Lemah!"

Kemudian Bang Jef menepuk pundak gue. "Tahun ini lo akan menggantikan posisi gue sebagai panglima. Lo harus tau pentolan masing-masing dari sekolah-sekolah di kabupaten ini. Itu syarat utama sebagai panglima."

"Jadi siapa itu si Gidon?" Tanya gue lagi agak males sebenarnya.

"Cari tau sendiri lah." kata Bang Jef sambil selonjorin kaki di meja.

"Males."

Lagi pula, gue nggak minat jadi Panglima, berhubung aksi beladiri gue cukup keren, Bang Jef sebagai Panglima tahun kemarin dan sekarang akan turun jabatan menunjuk gue sebagai Panglima berikutnya.

Mau nolak, tapi gue nggak enak, Bang Jef udah mempercayakan gue, masa gue tolak.

Gue denger Bang Yudha mendengus pelan. "Gidon itu pentolan Al Azhar tahun ini, nah dia yang bakal jadi musuh lo."

Gue langsung menoleh, menatap Bang Yudha. "Oke."

"Tapi kalau lo lagi tempur sama dia harus hati-hati."

"Kenapa?"

"Pokoknya kalau dia baca ayat kursi pas tempur, lo harus cepet-cepet lari."

"Bener tuh, apa lagi kalau dia tempurnya sambil bawa tasbih." Bang Juan ikutan nyaut. "Beuhh kudu waspada!"

Gue cuma geleng-geleng kepala, ya kali... Emangnya gue setan yang dibacain ayat kursi sambil baca tasbih langsung kepanasan.

"Gue ini manusia ganteng. Lo kira gue setan!"

"Kalau kata gue sih nggak jauh beda, sebelas dua belas lah sama setan yang di sembur air suci langsung menciut."

"Bangsat!"

Mereka tertawa serempak. Gue tau sekolahan itu, Sekolah Al Azhar adalah sekolah sekaligus pesantrenan, jadi nggak heran kalau ada candaan-candaan kayak gitu.

"Pada lagi ngomongin apaan?" Nares yang baru saja datang di kantin menimbrung, bahkan tanpa dosa anak itu menyeruput es teh milik gue.

"Anjing, Es gue!"

Dia noleh dengan cengir polos tercetak jelas di wajahnya.

"Beli lagi jangan kayak gembel."

Gue cuma bisa mendengus. Emang kampret si Nares.

"Oh iya, penobatan lo kapan?" Tanya Nares lagi begitu dia duduk di samping gue.

"Minggu depan."

"Oh berarti pas sama waktunya si Gidon nyerang?"

Ini apa gue doang yang nggak tau apa-apa soal si Gidon. Wah nggak asik gue kan calon panglima.

"Lo semua udah tau soal si Gidon?" Tanya gue ke mereka.

"Mangkanya kerjaan lo jangan tidur mulu pas meeting."

Terus tiba-tiba Bang Jef mencondongkan tubuhnya, duduk lebih tegak, kek nya dia lagi mau ngomong serius.

"Jadi bertepatan dengan penobatan lo minggu depan, Gidon bakal nyerang kita, pulang sekolah setelah penobatan, kita langsung tempur."

"Hah?"

"Jangan hah-heh-hoh, bilang SIAP yang tegas."

"SIAP!"

Lalu Bnag Jef meninju lengan atas gue pelan tapi cukup bertenaga.

"Ini namanya Kahara Aditya Utama, calon panglima NEO NOSTRA."











~Happy reading~

Our Story| ENDStories to obsess over. Discover now