Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Lingkaran setan

14 0 0
                                        


Udara dingin, khas setelah hujan masih betah bersinggah, terperangkap di kamar wanita dewasa remaja yang tertidur namun gusar.  Alunan musik belum berhenti ataupun lupa ia matikan. Entah apa niatnya, ia sengaja agar kamarnya tidak hening atau ia mengantuk dan malas beranjak menggapai ponselnya. 

Namun, terpaksa ia terbangun sebab deringan panggilan masuk spontan membangunkannya. Cukup membutuhkan usaha meraih ponselnya yang berada di atas meja belajarnya, tapi nama yang menghubunginya cukup membuat hatinya berdetak dan antusias menggapai ponsel.

"hey boo, kemana? sudah mendingan?" sahut suara lelaki seumurannya. Pertanyaan sederhana yang kerap kali mengocok isi perutnya karena gugup.

"sudah coba tidur, i think it's work but now i can't sleep" sedikit kekehan dari Sarah yang entah nyawanya sudah menyatu atau ia paksakan terjaga demi lelaki ini. 

Mereka berbincang cukup lama, satu atau dua jam terlewat dengan berakhir Sarah lagi-lagi mendengarkan lelaki itu bercerita bagaimana harinya berjalan. Rutinitas ini tak pernah terlewat sehari pun dan Sarah menyadari bahwa hal ini sangat  berbahaya untuknya, seringkali ia berpikir jika suatu saat ceritanya berubah, skenario mereka dibalik, tentu ia tak dapat membayangkan betapa sakaunya Sarah jika candunya berhenti saat itu juga. Karena rutinitas ini adalah candu baginya, alih alih lepas, Sarah semakin haus akan perasaan tenang yang hanya dapat ia rasakan ketika dengannya.

"lukanya gimana? udah kering?" sahut lawan bicaranya. 

"sudah, tapi jadi gatel" sahut Sarah.

"jangan digaruk, nanti kebuka lagi, besok-besok kita tambah waktunya ya, jadi 10 hari tanpa cutting, pasti Sarah bisa!." 

"Ari, biasanya orang lain bakal cape loh ingetin kayak gini, suatu saat kamu pun akan cape juga." Tak dipungkiri Sarah tidak enak hati dengan bantuan yang sudah Ari berikan. Sarah sedikit kewalahan dengan semua hal yang ia lakukan, kewalahan dengan emosi hariannya yang bak roller coaster, berusaha menahan agar masalahnya tidak ia salurkan kepada orang-orang terdekatnya.

Obrolan mereka terhenti dengan Ari yang tertidur saat mereka berdua sedang dalam hening, akhir-akhir ini Sarah lebih banyak diam dan melamun, Ia tidak merasakan kesedihan yang sangat intens sudah beberapa minggu ini, entah memang sedang masa tenang atau tubuhnya sengaja melakukan freeze sebab pikirannya terlalu riuh dan perasaannya terlalu ekstrim, Ia pun bingung mengapa ia tidak merasakan emosi yang biasa ia rasakan meskipun suasana yang sepi masih ia rasakan, kekosongan tiap  terbangun masih sama, dan gerakannya tetap lamban seperti biasanya. Setelah ia mengakhiri panggilan, Wanita berambut coklat ini menatap kosong langit-langit kamarnya, perasaan tenang seperti tadi tidak kembali, ia tetap merasakan sepi dan hampa.

Ia tetap merasa kesepian.

Sarah berusaha menyibukan dirinya dengan aktifitas yang masih berhubungan dengan ponselnya, tentu saja, kamarnya sangat berantakan, beberapa botol minuman  tergeletak begitu saja di lantai, bungkus makanan ringan kemarin belum sempat ia buang. Bagian yang tidak menyenangkan dari depresi adalah, Sarah bahkan tidak mampu merawat dirinya dengan aktifitas mendasar, ia tidak mandi atapun menggosok gigi, butiran obat yang tidak ia konsumsi memperparah kondisinya. Entah, bagaimana bisa seorang manusia normal merasa tidak risih dengan dirinya sendiri? 

Pukul 8 pagi, Sarah masih terjaga dari tidurnya, ia lelah namun matanya belum juga istirahat, ia terbiasa dengan jadwal tidur yang kacau, sakit kepala menjadi rutinitas harian sebelum siang datang, pikiran jahatnya belum juga ingin diam, perasaan bersalahnya belum juga ingin istirahat, dan paranoid ditinggalkan orang terkasih selalu menghantuinya.

bagaimana jika, bagaimana kalau, bagaimana dan bagaimana.

Bagaimana yang tak berujung bagai lorong galaksi terus membuatnya semakin sesak dan mencari cara untuk menghentikan perasaan kalutnya, Sarah mencoba mengalihkan dengan menonton sesuatu, menulis jurnal dan bahkan berhasil meneguk tegukan pertamanya setelah seharian ia tidak minum.  Nafasnya menderu dengan cepat, dadanya mulai merasakan sesak. Ia mencoba mengatur nafasnya dan melakukan latihan yang terapisnya berikan, Alih-alih membaik, Sarah semakin panik dan nafasnya tersendat, ia mencoba berdiri dan berpindah tempat, Nihil, tubuhnya semakin keram dan dingin, tangannya bergetar hebat dan ia merasakan sakit kepala yang teramat sangat, kakinya lemas dan ia tersungkur. Mencoba menggapai ponselnya, menggapai beberapa kontak yang dapat ia hubungi jika hal darurat terjadi, beberapa teman dekat dan tentu saja, Ari. 

sepuluh menit berlalu, tidak ada yang bisa ia hubungi, Paniknya belum juga berhenti, dan sangat menyiksa untuk Sarah, bagaikan ingin mati, ia tidak dapat melakukan apa apa selain bernafas dengan tersendat dan menangis, tubuhnya masih kebal dan kepalanya mulai berbicara banyak hal.

"Enggak! enggak boleh, enggak boleh!." sambil memegang kepalanya mencoba membuatnya berhenti memerintah suatu hal yang gila. Mengapa ia tidak mencoba memanggil orang tuanya? Sayangnya, Sarah sama sekali tidak memikirkan hal itu, ia hanya tidak mau melibatkan orang tuanya dengan penyakitnya. 

Semua memori berputar tanpa diminta, ia memikirkan apakah ia bersalah mengucapkan ini dan itu kepada Ari sehingga Ari tidak menjawab panggilannya, apakah Ari meninggalkannya, apakah teman-temannya akan meninggalkannya juga? apakah ia seorang yang gagal? apakah ia tidak cukup untuk keluarganya, teman-temannya bahkan pasangannya sendiri? apakah ia berhak bahagia? Bagaimana jika dunia pun tidak sudi dengan keberadaan Sarah.

Aku  gagal menjadi manusia normal, tidak pantas, jelek, tidak berbakat, hanya menjadi beban

Aku seorang yang buruk dan jahat, tidak pernah cukup untuk orang lain

kenapa aku seperti ini? bagaimana bisa aku membenci diriku sendiri?

aku benci aku. Aku tak ingin menjadi diriku. kamu pantas mati, Sarah. Bahkan kematian pun terlalu berharga untuk bersamamu, kamu lebih pantas tidak pernah hadir di dunia ini.

Kalimat itu terus beruminasi dikepalanya, terlalu banyak kalimat umpatan dan cacian untuk dirinya, bagaikan sedang berdialog, suara mereka semua sangat nyata, bagaikan ingin meledak, Sarah tersungkur di lantai sambil menangis tersedu-sedu, ia mengaduh dan merengek bak anak kecil yang menangis, ia menepuk dadanya berkali-kali bagai ada sesuatu yang menahannya untuk bernapas dan tetap saja, Sarah tidak mampu menahannya lagi, kian hari kian perih, tubuhnya membusuk, hatinya terlalu banyak lebam namun yang bisa gadis berambut cokelat itu hanyalah diam. ia sendirian.

"you just have yourself, come on, Sarah! breath." ucapnya pada dirinya sendiri. Ia memeluk dirinya sendiri dengan tangannya yang masih bergetar dan tubuh yang bermandi keringat. Mata terlalu merah untuk melihat, pipinya dibanjiri air mata kepayahan dan tubuhnya sangat lelah. 


Lelah. 

ia terlalu lelah hari ini, seluruh energinya sudah habis untuk meladeni penyakitnya yang kumat, yang tidak ada ampun menghabisi Sarah dipagi hari, Emosinya yang terlalu intens bahkan membuat kewalahan, tapi masih saja mereka beranggapan Sarah hanya duduk diam dan merengek sepanjang hari.

Deringan ponsel berbunyi, butuh waktu yang lama untuk Sarah mengangkat panggilan. Ia mengatur napas dan suaranya agar tidak terlalu parau.


"Hey Sarah, ada apa?."


TBC

Obsessed.Stories to obsess over. Discover now