In Your Dream

15 2 2
                                        

How many days have passed like this? This city the crowd is fading moving on..
I Sometimes have wonder where you've gone...
Story carries on, lonely, lost inside
-Glassy Sky Ost Tokyo Ghoul-

Alunan suara merdu di sebuah kafe dari seorang penyanyi yang memang bekerja sebagai penyanyi di kafe tersebut.

Seorang gadis, dengan style formal, layaknya pegawai kantoran pada umumnya. Duduk di pojok kafe dekat jendela, fokus pada pekerjaan di laptopnya. Dengan secangkir teh hangat dan sepiring kecil dessert menemani kepenatan setiap hari yang ia jalanin sebagai detektif. Tepatnya, ia bekerja untuk kakak laki-laki nya yang bekerja untuk negara. Dengan jabatannya yang seorang Sersan.

Sabina Wadim. Gadis berusia 26 tahun, lahir dari keluarga yang memang sudah turun temurun jadi abdi negara. Anak ketiga dari 4 bersaudara.

Punya 1 kakak perempuan, si sulung, yang seorang pegawai negara sipil, tidak minat dengan urusan kemiliteran ataupun yang menyangkut membahayakan diri sendiri, cari aman.

Lalu 1 kakak laki-laki yang seorang Sersan. Memang sudah cita-citanya sedari kecil, meneruskan karir mendiang sang ayah.

Sabina sendiri, mengikuti jejak mendiang sang ibu, yang seorang detektif. Dia memang suka dengan teka taki, lalu memecahkannya.

Lalu ada si bungsu, si kecil yang mempunyai kecanggihan luar biasa. Bisa di bilang, dia ini seorang technology addict, apalagi dengan game. Tapi berkat itu, selain sebagai mahasiswa, dia juga membantu sang kakak lelaki sebagai hacker handal.

"Mbak! Mbak dimana?." Seru sang adik dari seberang telefon.
"Mbak di kafe. Ini mau pulang. Lo dimana?." Jawabnya sembari membereskan laptop dan berkas di atas meja.
"Gue di minimarket deket kafe. Lo di kafe biasa kan? Bareng ya pulangnya. Gue abis drop Bang Ser." Sambung nya lagi.
"Okay. Gue samper lo ya." Sabina menyesap teh nya sekali lagi dan langsung keluar dari kafe tersebut.

Disisi lain. Tampak dua orang lelaki yang baru saja masuk ke kafe, bersamaan dengan Sabina yang keluar. Salah satu lelaki tersebut mempersilahkan si gadis keluar dengan membukakan pintu. Dan hanya diberi isyarat senyum oleh Sabina sebagai tanda terimakasih karena sudah dibukakan pintu.

"Bang kita ngisi gak sore ini?."
Yang ditanya tidak merespon, masih belum mengedipkan mata dari sosok si gadis yang baru saja lewat di hadapan nya.
"Bang? Woi!." Seru nya lagi.
"Eh iya. Iya boleh, lumayan lah buat makan malam nanti. Kontak Jen suruh dateng ya." Jawabnya.
"Lo sampe gak ngedip gitu. Cantik ya?. " Goda sang adik.

I had this dream so many times
The moments we spent has past and gone away
-Glassy Sky OST Tokyo Ghoul-

"Gue kayak pernah liat itu cewek deh. Familiar soalnya. Tapi dimana ya?."
"In your dream, bro! Baru liat cewek cantik aja langsung bilang gitu." Si adik masih terus menggoda, sementara si kakak hanya cengegesan dan mereka pun berjalan menuju panggung mini di kafe tersebut.

"Kayaknya gue pernah liat cowok tadi deh. Tapi dimana ya?." Batin Sabina pun menanyakan hal yang sama dengan si lelaki tadi.
"Mbak! Sini! Bayarin dong jajanan gue. Hehehe." Seru lelaki yang sudah memegang keranjang berisi cemilan favorit nya. Tentu saja itu si bungsu.
"Kebiasaan lo. Kalo jajan minta ke gue. Kalo gajian dari Bang Ser diem diem aja." Jawabnya kesal.
"Yaelah mbak. Gue pernah traktir lo kan waktu itu pizza. Ya? Bayarin ya." Mulai si bungsu membujuk dengan puppy eyes nya.
"Iya iya. Emang senjata lo tuh ya." Sabina pun memberikan kartu ATM nya ke si adik, dan tentu sang adik kegirangan.
"Top up game ya mbak. Sekalian. Hehehe".
"Emang dasar magadir (manusia gak tau diri)." Sabina pun ingin menjitak kepala sang adik yang tinggi nya jauh dari tinggi tubuhnya yang mungil tapi tidak sampai dan berujung dengan mencubit kecil pinggang sang adik.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Nov 30, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

You So BlindWhere stories live. Discover now