Kilatan cahaya dari berbagai macam alat digital itu saling menyahut satu sama lain. Objek utama mereka berjalan dengan santai, membelah lautan wartawan yang berdesak-desakan.
Kacamata hitam yang bertengger pada wajahnya itu dilepaskan, hingga sorot mata dinginnya terlihat sekilas. Ia mendengus pelan, sebelum menyunggingkan senyum profesionalnya hingga matanya ikut melengkung. Tangannya dilambaikan beberapa kali ke arah kamera, menyembunyikan raut bosan bercampur kesalnya sembari berjalan menuju mobil jemputannya.
"Bawa aku ke tempat biasa," ia berkata setelah mendudukkan dirinya di kursi belakang kendaraan yang ditumpanginya itu. Sang pengemudi melirik enggan kepada orang yang diantarnya itu. Aura dingin dan tidak dapat diganggu menguar dari dirinya, menciptakan atmosfer canggung yang tebal.
"Baik, Sehun-ssi."
Kilauan cahaya dari kamera terus mengikutinya hingga bayangan mereka terpisah jarak. Matahari sudah habis tertelan oleh bentangan garis alam saat kendaraan itu berhenti di dekat sebuah bangunan yang sangat tinggi.
Sebuah hotel berkelas.
Sehun yang telah mengganti pakaiannya dalam perjalanan kini tampak lebih terbuka; lebih memikat. Kemeja hitam polos yang tidak sepenuhnya terkancing dan jas putih yang kontras dengan pakaiannya, tersampir bebas pada bahunya; sedikit menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya yang atletis.
Kaki panjangnya itu melangkah masuk tanpa keraguan sedikit pun. Dirinya berhenti tepat di hadapan meja resepsionis yang terlihat sedang memikirkan hal lain. "Permisi, saya ingin mengambil kunci kamar yang dititipkan Tuan Wu," ia berkata dengan datar.
Wanita yang berdiri di balik meja itu tersadar dari fantasi liarnya dengan pemuda di hadapannya. Siapa yang tidak mengenal aktor populer setampan Oh Sehun?
"Apakah saya boleh meminta tanda tangan-"
Ia langsung membekap mulutnya dengan mata membulat saat dirinya tanpa sadar menyuarakan isi hatinya; bersiap untuk meminta maaf atas kelancangannya. Sehun tersenyum miring menanggapi permintaan wanita itu.
"Apa dengan begitu kau akan memberikanku kuncinya?"
Sehun menarik sebuah kartu nama hotel dari atas meja resepsionis beserta sebuah pena dari balik jasnya. Ia membubuhi tanda tangannya beserta sebuah kalimat untuk wanita itu di balik kartu nama tersebut.
"Silakan." Sehun memberikan kartu itu yang diterima dengan malu-malu olehnya. Wanita itu balik memberikan sebuah kartu akses kepada Sehun tanpa membuat kontak mata sama sekali.
"Terima kasih."
Sehun berlalu begitu saja setelah menerima benda persegi panjang itu. Senyum yang awalnya melekat pada wajahnya perlahan memudar, disusul decihan pelan dan sorot mata yang penuh dengan ketidaksukaan saat dirinya memasuki lift.
Ia melangkah keluar saat pintu lift terbuka pada lantai 61. Ia terus berjalan hingga menemukan sebuah plat bernomor 6100, satu-satunya kamar yang berada di lantai tersebut.
Sehun memasukkan kartu itu untuk verifikasi, sebelum menariknya keluar saat pintu itu memberikan respon afirmatif. Ia lalu beralih penutup sebuah kotak kecil yang berada di dekat gagang pintu untuk melakukan pemindaian sidik jari-langkah selanjutnya yang perlu ia lakukan agar dirinya dapat memasuki ruangan eksklusif itu.
Saat pintu itu terbuka, furnitur-furnitur yang berjajar rapi di dalam langsung menyambut kedatangannya. Seorang pria tengah menikmati waktunya sembari berbaring pada salah satu sofa panjangnya, membelakangi pintu masuk. Sebuah gelas wine yang melekat sempurna pada kedua jari tangannya, diputar beberapa kali dengan ritme teratur.
-
TW: mentions of sexual activity
-
"Kau sudah datang?" Pria itu berujar tanpa membalikkan pandangannya. Gelas yang tadinya ia putar diletakkan di atas meja kaca pada hadapannya hingga menimbulkan suara khas kaca. Pemuda itu kemudian melangkahkan kakinya, memangkas jarak di antara dirinya dan orang yang sudah ditunggunya sejak tadi.
Tanpa peringatan, ia menarik tengkuk pemuda lainnya dan memberikan sebuah ciuman yang panjang. Sesekali melumat fitur wajah yang kenyal itu dengan rakus dan mengisapnya.
"Aku menginginkanmu, Shixun," bisiknya setelah melepaskan pagutannya. Tangannya diletakkan pada masing-masing bahu Sehun. Kedua pasang mata itu saling beradu, bertukar kalimat hanya melalui tatapan.
"Aku juga, Gege," Sehun membalas dengan nada rendahnya, diiringi senyuman miringnya yang terlihat menggoda di mata pemuda satunya. Kedua tangannya dilingkarkan pada leher pria yang lebih tinggi darinya itu. Ia lalu melompat ke atas, melilitkan kakinya tepat di sekitar pinggangnya.
Sehun kembali menyatukan bibir mereka, kali ini ia yang mengambil kuasa. Dengan sokongan yang diberikan oleh pemuda yang ia panggil 'Gege' itu, mereka berpindah ke sebuah ruangan dengan penerangan minim tanpa melepaskan tautan keduanya.
Sehun dijatuhkan ke atas ranjang besar di tengah ruangan itu. Dengan tatapan sensualnya, ia menunjukkan senyuman licik. Benda-benda mati di sekitar mereka menjadi saksi akan hal-hal yang terjadi di antara mereka; desahan-desahan yang saling menyahut, puncak-puncak kenikmatan yang penuh dengan hawa nafsu, tak tertinggal bulir-bulir peluh yang perlahan bercucuran dari permukaan kulit mereka-bahkan hingga fajar hampir menyingsing.
Dia Sehun.
A pleasure seeker.
· · · · · · · · · · · · · · · ·
280920 | 140523
💁 Update irregularly
YOU ARE READING
Lover Boy
FanfictionSiapa yang tidak mengenal seorang Oh Sehun - pria tampan sekaligus aktor yang telah menduduki peringkat teratas sejak debutnya? Seluruh kalangan masyarakat tak pernah gagal terpikat dengan pesonanya tanpa memandang golongan. Namun, ada satu hal yang...
