1

21 3 0
                                        

"Danica!"

Danica menoleh begitu namanya dipanggil. Senyumnya memudar kala melihat siapa yang memanggilnya. "Lo lagi? Ngapain? Gue sibuk." Danica memutar balik badannya. Namun laki-laki tersebut langsung menghalangi jalan Danica dengan merentangkan kedua tangan. "Berhenti gak? Kelakuan lo kayak bocah. Norak! Malu-maluin." Umpat Danica melihat beberapa mahasiswa sedang menatap kearahnya.

"Lo berhenti, gue juga berhenti." Ucap Dyatma memberikan penawaran. Ya, dia adalah Adyatma, Dyatma sapaannya. Mahasiswa Fakultas Sastra jurusan Desain Komunikasi Visual yang selalu sabar memperjuangkan perasaannya kepada Danica si mahasiswi dingin dari jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Mengikuti open recruitment panitia ospek maba fakultas membuat mereka bertemu, apalagi berada dalam satu sie yang sama. Sudah hampir satu semester semenjak pembubaran kepanitiaan Dyatma mengejar Danica. Kalau ditanya alasannya kenapa? Dyatma selalu menjawab namanya juga hati.

"Oke fine! Mau lo apa? Gue kasih 5 detik!" Ucap Danica menyerah. Percuma dia berdebat dengan Dyatma. Toh, endingnya Danica yang akan kalah. Dyatma selalu punya cara tersendiri untuk menang dari Danica.

Dyatma melebarkan matanya. Waktu apa itu 5 detik. "Tambahin lah, gue belum ngomong itu waktu juga udah habis."

"Sisa 3 detik."

"Ish..." Dumel Dyatma lalu membuka ranselnya dengan cepat. Mencari sebuah kotak makanan yang sudah dia siapkan dari kost. "Gue bawa makanan, harus lo mak..." Ucap Dyatma menggantung karena tiba-tiba ada yang memanggil namanya.

"Dyatma!"

Danica dan Dyatma menoleh kearah sumber suara. Melihat ada Gista yang sedang berjalan lenggak-lenggok kearah mereka.

"Waktu lo udah habis!"

"Tapi ini?" Ucap Dyatma mengangkat kotak makanan.

"Lo kasih aja sama Gista, dia pasti suka." Jawab Danica enteng. Tidak peduli raut muka Dyatma yang kecewa bercampur kesal.

"Adyatma!" Panggil Gista sok manis disamping Dyatma.

Dyatma menoleh malas. "Apaan sih? Ganggu aja."

"Ih kok gitu? Aku mau ajak kamu jalan-jalan nanti. Sekalian cari bahan nugas. Kamu pasti belum cari."

Dyatma menghela napasnya kasar. "Bukan urusan lo! Lagian gue udah bilang sama lo berkali-kali kalau gue gak suka lo pakai aku-kamu."

"Kenapa gak suka aku-kamu?"

Dyatama memutar bola matanya malas. "Bukan urusan lo. Sekali lagi lo gitu, gue gak akan segan-segan makin menghindar dari lo." Ucap Dyatma penuh penekanan, meninggalkan Gista berjalan menyusuri lorong menuju ruang kelasnya.

-

"Wih... Tumben lo bawa bekal?" Tanya Zirgas

Dyatma mengangkat sebelah alisnya.

"Pagi-pagi udah jelek aja muka lo. Kenapa? Danica lagi?" Ledek Fatih.

Dyatma mengangguk.

"Banyak cewek lain yang lebih cantik dari Danica. Kenapa lo tetap aja mengejar dia?"

"Benar banget apa yang dibilang Fatih, banyak cewek lain. Cewek yang bisa menghargai rasa sayang lo sama dia. Ngapain harus ngejar Danica sementara ada cewek yang rela menurunkan egonya buat ngejar lo, kayak Gista!" Tutur Zirgas mendapat anggukan dari Fatih.

Dyatma hanya diam. Memang kelihatannya terlalu egois memaksakan perasaan yang dimiliki kepada orang lain yang jelas tidak punya rasa yang sama. Tapi siapa lagi yang akan memperjuangkan kebahagiaan kalau bukan diri sendiri. Setidaknya sudah berusaha, untuk hasil kita lihat saja nanti. "Jangan banyak omong kalian berdua. Kalian gak tahu apa yang gue rasakan."

Fatih dan Zirgas saling bertatapan dan tersenyum. Tidak heran, beginilah Dyatma. Keras kepala. "Pulang kelas ngopi ayo! Hitung-hitung merilekskan pikiran." Lanjut Zirgas mengganti topik pembicaraan mereka. Dia tersenyum saat Dyatma dan Fatih mengangguk setuju. "Kali ini gue traktir kalian, kita ke cafe punya Bang Gusti."

Dyatma mengangguk. Mengiyakan ajakan Zirgas.

12 Februari 2023

Love,
Nagestinifa

Rasa yang MatiWhere stories live. Discover now